Posted by: elfatih2007 on: Mei 21, 2008
Akibat dipengaruhi oleh faham non wahyu dan mendasarkan pemahamannya kepada Ra’yu tanpa ilmu dan keimanan yang sempurna, banyak umat islam yang memaknai SYURO, yang termaktub dalam Qs Ali Imron [3} : 159 dan As-Syuro [42] : 38 diartikan dengan DEMOKRASI. Terutama umat islam yang aktif dan melibatkan diri dalam organisasi partai politik. Kendati mereka memilki Dewan Syuro atau Majelis Syuro dalam partainya masing-masing, namun untuk urusan yang luas, mereka menggunakan majelis Parlemen.
Padahal Demokrasi merupakan faham yang bertentangan dengan Islam. Demokrasi artinya kekuasaan ada di tangan rakyat atau suara terbanyak, termasuk dalam hal membuat hukum. Sedangkan SYURO bukan pembuat hukum, tapi teknis pelaksanaan hukum Pembuatan hukum adalah hak perogratif ALLoh atau wewenang 4JJI saja. Manusia hanyalah diperintahkan untuk melaksanakan hukum 4JJI.
Sehingga akan nampak perbedaannya, dalam sistem Demokrasi ketika terjadi DEADLOCK, maka keputusan akhir dikembalikan kepada suara terbanyak atau VOTING. Sementara dalam Syuro, keputusan akhir dikembalikan kepada QUR’AN SUNNAH, “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, amak kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah)…(Qs An-Nisa [4] :59).
Allah Yang Maha Kasih dan Sayang telah memberikan peringatan kepada orang-orang beriman dengan firmanNYa, “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tiada lain hanyalah berdusta” (Qs Al-an’am [6] : 116, lihat pula Qs al-Maidah [5] : 49).
Wallohu ‘alam bishowab
sepakat dengan mas mubaraq deh,…
ayuk, kita benahi indonesia [dan dunia bersama2]…
kuatkan persamaan, sinergikan perbedaan,…
sudah banyak yang nggak sabar nunggu islam memimpin lagi…
jadi setidaknya jika kita belum bisa satu barisan,…
kita perkuat barisan2 kita, jangan benturkan dengan yang lain,…
insyaAllah pelopor kebaikan akan diikuti oleh perindu2 kebaikan2 yang lain…
selamat berjuang, saudaraku
Untuk saudara Mubaraq, argumen yang saudara sampaikan kurang mengena,
Dimana masyarakat atau rakyat yang memilih atau diminta pendapat u/memilih Khalifah yang anda contohkna/sebutkan oleh antum tsb adalah umat atau kaum muslimin yang sudah terikat oleh IKATAN AQIDAH ISLAM dan sistem Negara atau Pemerintahan yang berjalanpun adalah Negara atau pemerintahan Islam yang hukum positifnya atau UUDnya adalah al-Qur’an dan Sunah Rasul. Sehingga dalam proses pemilihannya-pun senantiasa “mukhlisina lahuddin (Qs 98:5), murni/ikhlas semata2 bertujuan u/menegakkan Diinul islam/Syari’at (Qs 48:28, 9:33), tanpa ada unsur kepentingan duniawi (harta dan jabatan). Begitupun para kandidat Calonnya-pun berlomba-lomba u/mundur dari pencalonnya karena khawatir menghianati amanah.
Sementara masyarakat atau rakyat yang memilih pemimpin saat ini adalah masy.heterogen ideologi yang terikat oleh AQIDAH ASHOBIYAH/KEBANGSAAN,NASIONALISME, yg notabene ikatan JAHILIYAH. Begitupun Negara atau pemerintahannya-pun hukum positifnya atau UUD nya buatan manusia(Ideologi dan UUD hasil kompromi berbagai ideologi dan agama). Sehingga dalam proses pemilihannyapun sarat kepentingan duniawi, money politik, berlomba mencari jabatan dengan janji-janji muluk, koalisi antar ideologi, berebut jabatan dengan dalih MENJEMPUT AMANAH, dan tidak nampak sama sekali misi u/menegakkan hukum2 Allah. Syari’at Islam dan istilah2 islami hanya jadi kamuflase atau alat penarik simpati massa u/melegitmasi SYAHWAT POLITIK/KEKUASAANNYA. Naudzubillahi mindzalik summa naudzubillahi min dzalik……………
Untuk Saudara Toni BAIK BELUM TENTU BENAR, ingat Putri Diana, Shidarta Gautama, Bunda Theresa adalah orang2 yang baik hati, tapi BELUM TENTU BENAR di hadapan ALLAH (kaji QS 2 :147).
Sebelumnya saya ucapkan MOHON MAAF bila saya bergumam “NAUDZUBILLAH MIN DZALIK” dengan pemahaman2 saudara dan kebanyakan umat Islam lainnya ttg ISLAM. Islam dianggap AGAMA, klo begitu apa bedanya Islam dgn Kristen, Budha, Hindu dan agama2 ritual lainnya. Padahal Islam itu DINULLOH (baca dan kaji Qs 3 : 19). DIIN bukan AGAMA, Agama itu dari bhs Sansekerta (A = tidak, Gama=kacau )…Islam itu tdk hanya mngjarkan kebaikan2 saja tapi Syumuliyah….,segala asfek khidupan/IPOLEKSOSBUDHANKAM.
Untuk mewujudkan Al-ISLAM dimuka bumi ini tentu diperlukan Tarbiyah dengan proses TILAWAH, TAZKIYAH dan TA’LIM (baca dan kaji Qs 62 : 2). Pola Pendidkan Islam bukan dgn pola SEKULER, memisahkan antara Agama dengan Umum, tapi Pendidikan Islam itu satu kesatuan, kaffah….
Saya berdo’a Semoga ALLAH mmpertemukan saudara Mubaroq dengan orang-orang yang mmbwa panji2 KEBENARAN…., dan dijauhkan dari para kaum ILTIBAS (yang suka mncmpur adukkan antar Al-Haq dan Al-Batil). Mncampuradukan antar Islam dengan Demokrasi, mngganggap NASIONALISME/ASHOBIYAH yg dtntang oleh Rasul Saw sbgai salah satu sstem islam, baca sabdanya, “Bukan termasuk golonganku orang yang berjuang atas dasar Ashobiyah/Nasionalisme”.
MAAF sekali lagi………..
Ini hanya ungkapan kasih sayang saya trhdap orang2 yg punya Ghiroh keislaman yg tinggi, tapi tdk tahu jalan……..yang bnar………..
karena nama saya afgan, akang-akang, mas-mas, beli-beli, om-om, gentleman-gentleman sebaiknya mendengarkan lagu afgan yang judulnya:terimakasih cinta karena sampai saat ini masih hidup karena cinta-Nya
untuk kang mubarak dan kang toni, kita tunggu saja detik-detik kehancuran demokrasi, semoga kita semua masih diberi kesempatan hidup ketika islam futuh.. wassalam…. hidup islam… mati demokrasi…
Dear All
Seperti yang saya sampaikan di forum lain. harus dibedakan antara demokrasi sebagai prinsip dan demokrasi sebagai cara.
Demokrasi sebagai prinsip sudah jelas 180 derajat beda dengan Islam, ini tidak usah dipertentangkan lagi. Namun sayang, kebanyakan orang terburu2 anti terhadap istilah “Demokrasi” ini.
Pada saat pemilihan Usman bin Affan, bukankah itu juga demokrasi, dalam arti, pemimpin ditentukan oleh suara terbanyak. inilah yang saya maksud demokrasi sebagai cara.
Tentu orang2 yang memilih harus punya syarat2 tertentu, yang jelas dia harus Muslim. ini sudah jelas, karen bentuk pemerintahan pada zaman para Khulafa u-rasyiddin adalah Kedaulatan ditangan Alloh dan Kekuasaan ditangan ummat.
Nah, kekuasaan ditangan ummat yang saya maksud adalah, ummatlah yang menentukan/memilih siapa yang harus memegang kekuasaan, tentu dengan rambu2 Syariat Islam, semuanya tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah Rosul.
Mengenai Ashobiah, ini juga sudah jelas, orang yang menyeru atas dasar Ashobiah adalah bukan ummat Rosul. Tapi bukan berarti orang Palestina yang memprjuangkan tanah airnya disebut Ashobiah, demikian juga Mujahiddin di Irak, Afghan, Thailand, dll. Saya yakin mereka semua bercita2 untuk menegakkan Khilafah, dan langkah pertama untuk menuju kesana adalah membebaskan negerinya sendiri dari pemerintahan Thogut, lalu kemudian membantu perjuangan ummat Islam di daerah lain yang belum dibebaskan.
Alhamdulillah.
saudara irfan
justru Demokrasi tlah dibuat ssuatu yg absolut oleh “penganutnya”.
Jadi mnggunakan demokrasi tntunya tlah keluar dari prinsip Islam yg mlarang Kebenaran suara trbanayk sbagai Kebenaran (lihat Qs 6:116)
mas Mubaraq yang dirahmati Allah..
berislamlah secara totalitas..
Terimalah A-l-Qur’an itu dengan lapang dada..
Allah menurunkan Al-Qur’an tidak untuk kesusahan hamba-Nya melainkan untuk mempermudah.
Demkrasi itu = setan / kafir
masa mau diikuti, bukankah kita tahu syetan itu musuh kita.
sudah pasti yang benar sudah nampak dan akan yang bathil akan lenyap.. itulah sunatullah…
sekedar ngasih masukan buat mas muaraq. syukran
ng, saya kira saya udah tau di sini ada siapa aja..
kocak juga ternyata.
@mas mubaraq
saya suka pemikiran anda..
Saya setuju dengan Penulis di atas.
Saya hanya ingin menambahkan perumpaan bahwa jika kita punya dua premis berikut:
Kambing: punya jenggot
Manusia: punya jenggot
Lantas apakah manusia = kambing? Tentu bukan kan?. Begitu pula dengan demokrasi dan Islam.
Demokrasi: mengenal syuro’ untuk menetapkan keputusan
Islam: mengenal syuro’ untuk menetapkan keputusan
Lantas apakah semua keputusan boleh diambil secara musyawarah? Tentu tidak, untuk keputusan yang telah ada ketetapannya dalam syari’at Islam. Jadi demokrasi tidak bisa dikatakan islami. Sebab dalam demokrasi semuanya bisa dimusyawarahkan walaupun sudah ada ketetapannya dalam Islam. Lihat saja kasus pornografi dan pornoaksi, atau juga kasus poligami. Dengan demokrasi hal itu masih diperdebatkan, padahal Islam sudah dengan tegas menetapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan hal tersebut.
ass.w.wb
ana sekarang algi cari makalah atau tulisan tentang konsep syuro kalau antum punyan, bisa dikrim ke email ana…….
semoga dakwah antum leat tulisan terus berkembang dan sukses…..
syukron bantuannya,,,,,
hasan
Jazakallah atas dukungannya………..
Insya Allah klo lagi ada waktu luang saya kirim………
Insya Allah Qta tdak hanya berkutat di tataran wacana saja. Al-Islam adalah sbuah Pergerakan…krena dngan bergerak Islam akan tegak………
Semoga stress-nya dan gilanya para Caleg yang gagal jadi anggota Dewan mnyadarkan umat yg mngaku muslim bahwa Denokrasi dgan sgala atribut dan tektek bengeknya malahirkan satu khnacuran, kbodohan, kmnduran. Jadi kagak usah berharap lagi dari sstem KAFFIR ini (baca Demokrasi).
Teritama buat Partai yg berlogo dan brsimbol islam sprti PEKASE (PKS)ini yang sok soleh…Sadarlah bahwa tindakan antum semua adalah satu bntuk kejahiliyahan….Antum dgn mlbrkan diri dalam sstem Togut Demokrasi dgn mngatasnamakan islam, mngatasnamakan Dakwah/partai Dakwah tdak secra sadar antum tlah mngancurkan islam dari dalam. Naudzubillah…
sadarlah…….. taubatlah………
Perbaikan, perubahan yang dilakukan oleh mereka yg trlibat dalam sistem Syetan yang bernama Demokrasi tak ubahnya anjing mnggonggong kafilah berlalu. Bullsyit…..
Lihatlah para Capres yang rame-rame saling merapat (koalisi). Mereka adalah para anjing yg berebut tulang….
Dan yg paling memalukan adalah Partai2n yg mngaku Partai Islam ikut2an buntuti Partai Nasionalis (PartaI Demokrat) jd tman sejatinya, PKS, PBB, PPP, PAN, PKB. Mana harga diri kalian????. Dimana kbanggaan Islam kalian sbagai muslim, kalian tanggalkan izzul islam wal muslimin demi sbuah kekuasaan.
Ironi…..apakah kalian berani tegakkan Islam sbagai Dasar Negara mngganti Dasar Negara buatan nenek moyang yg tlah mnghancurkan umat muhmmad ini….apakah ada dalam kontrak politik yg kalian ajukan trhadap jagoan kalian (capres)…
Sdah ganti saja sgala simbol islami yg mlkat pada gambar prtai atau atau nama yg kalian usung slama ini…Ka’bah, Bulan Bintang, tulisan Qur’an/tulisan bhasa Arab….Memalukan islam saja…….
Sebaiknya saudara akbar jangan melihat PkS dari sudut yang negatifnya aja.karena sudah banyak pembuktian yang di lakukan PKS untuk rakyat ini.PKS itu adalah artai kader yang sangat solid. sebaiknya kita melihat sesuatu jangan dari sati sisi aja.sudah sejauh mana pengetahuan saudara akbar tentang PKS.
Saudara Agustina
Saya tdak mnitik tekankan kpada salah satu klmpok/Partai, tapi lebih kpada sstem, yakni DEMOKRASI. Jadi sebaik apapun partai/klmpok tsb kalau sdah mlbur kpada sstem thogut (DEMOKRASI), maka prlahan tapi pasti ia akan trsibghoh oleh sstem tsb, dan sgala amal prbuatannya tdak akan dterima Allah dan di akhirat trmasuk orang2 yg rugi, slahkan baca dgn sksama frman Allah, ” Barangsiapa berada dalam DIN/sstem selaian Islam, maka tdak akan dtrima daripadanya, dan ia diakhirat mnjadi orang2 yg rugi” (Qs ali Imron[3] :85).Lihatlah diantaranya PKS, mana komitmen-nya sbagai partai Dakwah…Dakwah dr mana dan kmana. Smntara PKS sndri brada dalam sstem yg salah(Demokrsi), bgaimana bsa dakwah, ia sndiri harus didakwahi…?????…”…..SEMBAHLAH ALLAH SAJA, DAN JAUHI THOGUT (baca Demokrasi) (Qs 16 : 36)
subhanallah…saya sampai nyasar kesini, rabbana maa kholakta hadza batilaa. menemukan bgtu bnyak penomena umat islam dlm harokah.
sekarang udah terlihat belang nya…he…he…sebentar lg juga akan terlihat jelas “kebenaran itu”
Mei 22, 2008 pada 10:38 am
Menurut pendapat saya :
Dalam Islam tidak mengharuskan Sebuah negara menganut Demokrasi,kalifah,kerajaan,atau lainnya…yang penting didalamnya ada syariat islam itu dah beres…
Bukti nya: Lihat pemerintahan Khulafa Ar-Rasyidin…pemerintahan mereka gimana??
Tidak ada yg sama bentuknya…dimasa khalifah ABubakar tidak ada SYura…ketika pemilihan kalifah Umar…..ABubakar hanya meminta pendapat orang2 dekat dengannya ketika ABubakar sakit…dan atas keputusan ABubakar Umar diangkat menjadi kalifah selanjutnya tanpa Musyawarah dan meminta pendapat dari rakyat..
Dan ketika Umar ingin melantik Usman,,nah dimasa inilah Umar memilih ANggota Syura sebanyak 10 orang dikepalai oleh Abdur Rahman Bin Auf… dan dicalonkan 3 orang,Yaitu: Usman Bin Affan,Ali Bin Abi Thalib dan Abdur Rahman Bin Auf… dan diadakan pemilihan suaara selama 3 hari…seluruh penduduk ditanyain..perempuan,penunggang kuda,unta, pokoknya semuanya… tp terpilih Usman bin Affan sebagai kalifahnya…
Dan sistim SYura hansur sesudah pembunuhan terhadapa Usman Bin Affan.. dan timbullah masa fitnah…Bahkan ALi bin Abi Thalib sendiri diancam bila sampe esok hari belum ada kalifahnya…terpaksa ALi naik sebagai Kalifah di mesjid madinah dihadapan Kaum muslimin semua…
Alhasil Khulafa Ar-rasyidin sendiri sistem pemerintahan dan pemilihan pemimpin aja berbeda satu sama lain… belum lagi ABbasiyah dan Umayyah…
Saya kutip dari Buku “Daurah Mar’ah Muslimah fi siyasiyah”…cetakan Darussalam-Cairo
By: Mubaraq