SYAHADATAIN Versi Harokatul Hadamah

cadar5.jpgHarokatul Hadamah adalah gerakan yang bertujuan menghancurkan islam dan perjuangannya dengan menggunakan simbol-simbol islam. Sehingga umat islam yang masih awam merasa phobi (takut) kepada setiap pergerakan yang bernuansa islam. Hal ini mengakibatkan kontraproduktif dengan misi membentuk manusia yang islami dan masyarakat madani.

Fenomena Aliran Sesat
Pemberitaan mengenai gerakan yang mengatasnamakan islam yang disinyalir sesat dan menyesatkan tengah hangat beberapa waktu ke belakang, bahkan hingga kini. Sebenarnya fenomena aliran sesat ini adalah persoalan klasik yang menimpa umat islam. Hal ini pertama kali terjadi dalam sejarah islam adalah pasca wafatnya Nabi Saw, yaitu munculnya Tokoh Musailamah Al-Kadzab yang mengaku Nabi setelah Nabi Saw, Padahal Nabi Saw lah sebagai khotaman Nabiyyiin/penutup para nabi (Qs 33 : 40).
Walaupun vonis sesat hanya berhak dikeluarkan oleh lembaga berwenang (Kejati, MUI), namun umat islam sendiri bisa menilai sebuah gerakan terindikasi sesat. Diantaranya adalah mengubah hal-hal yang bersifat prinsipil (Aqidah) dan syari’at yang sudah baku (Qs 5:3). Diantaranya pengakuan kenabian, mengubah redaksi syahadatain, menggugurkan kewajiban syari’at (Shalat, zakat, shaum, haji dll).
Mengubah Syahadatain
Mengubah redaksi syahadatain yang dilakukan oleh Ahmad Mushadeq dan pengikutnya dalam kelompok yang menamakan diri Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah merupakan “Dlolalan mubiin”(kesesatan yang nyata). Yakni “Asyhadu Allaa ilaaha illalloh wa asyhadu anna al-masiih al-mau’ud rasulullah”. Al-Masih Al-mau’ud yang dimaksud adalah Mushadeq sendiri. Sehingga dari ikrar ini tidak secara langsung Mushadeq telah memproklamirkan diri sebagai Nabi dan Rasul.
Begitupun yang dilakukan oleh Ahmadiyah. Mereka mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi karena nama yang tercantum dalam Qs al-Shaf ayat 6 adalah AHMAD. Mereka beranggapan bahwa Nabi Muhamad bukan Nabi terakhir. Namun Mirza Ghulam Ahmad lah sebagai pendiri kelompok Ahmadiyah yang dimaksud dengan Nabi terakhir. Mereka menafsirkan kalimat khatam dalam Qs Al-Ahzab (33) : 40 dengan pengertian “cincin”. Hingga mereka mengkultuskan Mirza Ghulam Ahmad (Qs 2 : 165-167), hampir sama dengan orang-orang Yahudi mengkultuskan Uzair, orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa Putra Maryam (Qs 9 : 30-31). Bahkan mereka memiliki kitab tersendiri sebagai pedoman hidup, yaitu “Tadzkiroh”, hampir menyamai kedudukannya dengan al-Qur’an (Qs 2 : 79-80). (“SYAHADATAIN, Syarat Utama tegaknya syariat Islam”, hal.79, M.Umar JA, Pen.Bina Biladi Press).
Sebagian lagi ada kelompok yang menyertakan Syahadatain dengan keharusan membayar sejumlah uang mencapai ratusan ribu, bahkan hingga satu juta rupiah. Dengan dalih sebagai uang shodaqoh istighfar, atau untuk mensucikan diri. Sungguh keterlaluan “syari’at baru” ini, syahadatain yang sakral dan suci serta mesti dijauhkan dari motif duniawi, justru dinodai dengan syari’at yang entah Hadist riwayat siapa yang dijadikan landasan.
Makna Syahadatain
Syahadatain yang dimaksud Allah dan RasulNya adalah pernyataan sikap seseorang yang menjadikan islam sebagai pedoman dan ajaran hidupnya. Islam yang dimaksud tentunya bukan islam ketutunan, islam abangan atau islam KTP. Karena banyak orang yang mengaku muslim, tapi hidupnya tidak beraturan (Syari’at) Islam. Manusia yang sudah bersaksi bahwa dirinya muslim adalah manusia yang telah menjadikan dirinya sebagai hamba Allah. Hamba Allah adalah manusia yang hanya tunduk dan patuh kepada aturan dan hukum Allah saja. Tidak mengambil hukum, sistem hidup dan ideologinya selain Islam, bahkan menolaknya, inilah yang dinamakan sikap “Al-baro’ah”, berlepas diri (Qs 60 : 4). Hal ini terdapat pada kalimat “Laa ilaaha”.
Sungguh ironis orang yang mengaku muslim tapi masih berhukum kepada Thogut. Menurut Syaikh Muhamad Qutb, Thogut adalah seseorang, organisasi atau institusi, jama’ah, pemerintahan tradisi atau kekuatan yang menjadi panutan atau aturan manusia, dimana manusia tidak dapat membebaskan diri dari perintahnya dan larangannya. Orang yang mengaku mu’min dengan mengucapkan dua kalimat syahadat secara otomatis dia menolak thogut, “Sembahlah Allah dan jauhi thogut”, (Qs 16 : 36, 2 : 256).
Keberadaan orang-orang yang tidak konsisten dengan keimanannya, yaitu mengakui hukum thogut akan senantiasa ada hingga akhir jaman. Sebagaimana firmanNya, “ Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu?. Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum thogut” (Qs 4 : 60).
Setelah seseorang menolak dan melepaskan diri dari thogut (al-baro’ah), maka dia bersikap al-wala (taat, setia, loyal) kepada Allah saja dengan aturan dan hukumNya. Menjadikan Allah sebagai sumber otoritas, legalitas dan loyalitas. Hal ini terdapat dalam kalimat “illalloh”. Maka keberadaan syari’at syahadatain adalah merupakan tujuan dakwah itu sendiri, sebagaimana sabda Nabi Saw “Ajaklah manusia untuk bersyahadah, bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Apabila mereka telah mentaati kepadamu tentang hal itu (syahadatain), maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka shalat sebanyak lima kali sehari semalam” (HR Abu Daud dan Hakim, lihat pula HR Muslim bab keimanan Juz 7).
Tauhidullah dan Tauhidul ittiba’
Syahadat yang pertama, yaitu “Asyhadu allaa ilaaha illalloh” disebut Tauhidullah. Sementara Syahadat yang kedua disebut Tauhidul ittiba’, yaitu “Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah”. Dimana tidak akan sempurna keimanan seseorang, tanpa mengaplikasikan keimanannya dengan mengikuti Nabi Muhammad sebagai sumber ittiba’, “Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku…”(QS 3 : 31). Karena banyak orang yang mengakui Allah sebagai Tuhannya, tapi tidak mau mengakui Nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Sebagaimana Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu Tholib, mereka percaya kepada Allah tetapi tidak mengakui kerasulan Nabi Muhamad Saw. Begitupun saat ini banyak orang yang percaya kepada Allah, tapi tidak percaya kepada kerasulan Nabi Muhammad, yaitu dengan tidak mengikuti ajaran dan sunah Rasul. Bahkan yang diikuti adalah ajaran nenek moyangmya dengan dalih sebagai wasilah untuk menyembah Allah (Qs 5 : 104).
Muhammad sebagai Nabi telah berakhir, karena kenubuwahan adalah gelar. Dimana gelar kenubuwahan ini didapat oleh lebih dari 25 orang. Bahkan menurut riwayat disebutkan lebih dari seribu orang. Sementara hanya 25 orang saja diantara sekian banyak nabi tersebut yang diangkat menjadi Rasul. Dimana para Rasul ini mendapat tugas untuk menjadi wakil atau mandataris Allah di muka bumi, yaitu tegaknya Dinulloh (Qs 42 : 13). Tugas menegakkan Dinulloh atau biasa disebut tugas kerisalahan terakhir kali disempurnakan oleh Nabi Saw (Qs 5 : 3). Namun tidak berarti tugas ini berakhir, mesti ada umat yang melanjutkannya. sebagaimana firman Allah, “:Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul, apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?. Baranngsiapa berbalik ke belakang ia tidak akan merugikan Allah sedikitpun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur”(Qs Ali Imron [3] : 144). Dari sini saja kita bisa memahami, mengapa syahadat kedua, redaksinya berbunyi, Wa asyhadu anna muhammadarrasulululloh”, bukan “Wa asyhadu anna muhammadannnabiyulloh”. Karena kerisalahan adalah prinsip (Aqidah), sedangkan kenubuwahan adalah gelar pribadi.
Vonis Sesat
Memvonis suatu ajaran apakah itu Al-Haq atau Al-Batil, Al-Mustaqim atau Adlolalah pada hakekatnya adalah hak perogratif Allah dan RasulNya. Namun manusia diberi potensi yang sama oleh Allah untuk bisa menyimpulkan kebenaran dan kesalahan suatu ajaran. Potensi tersebut adalah potensi bertauhid yang sama rata diberikan kepada selueuh anak keturunan adam di alam ruh (Qs 7 : 172). Kemudian setelah lahir ke alam dunia manusia diberi potensi hati, pendengaran dan penglihatan (Qs 16 : 78, 7 : 179), tentunya dibarengi dengan potensi eksternal, yaitu berupa Hidayah (Qs 2 : 2, 48 :28).
Namun untuk memvonis suatu ajaran sesat, tidak lantas memvonis dengan membabi buta. Bahkan MUI sekalipun sangat berhati-hati mengeluarkan fatwa sesat kepada suatu ajaran dan kelompok. Perlu adanya klarifikasi (tabayyun), fakta, dalil dan argumen yang bisa dipertanggung jawabkan, tidak asal menuduh. Bila tuduhan tersebut didasari oleh prasangka, isu yang belum jelas kebenarannya dan dibarengi dengan perasaan benci dan dengki kepada pelakunya, justru isu semacam itu cenderung menyesatkan. Karena isu-isu yang berkembang, gosip dari mulut ke mulut, semakin banyak yang berkomentar kian ditambah-tambah dan dibumbui isu tersebut. Allah berfirman, “ Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan” (Qs Al-An’am (6) : 116). Wallahu ‘alam bishowab*****

5 thoughts on “SYAHADATAIN Versi Harokatul Hadamah

  1. Ping-balik: SYAHADATAIN Versi Harokatul Hadamah « Perindu Kebenaran

  2. ini semua akibat dari kalimat syahadat itu kalian buat jadi dua kalimat. Padahal syahadat itu cuma satu kalimat saja….tiada tuhan selain tuhan….itu saja dasar monotheisme dan ingin ditegakkan muhammad dari penyimpangan agama ibrahim oleh arab…..
    Tiada muhammad itu berkuasa memberi syafaat….

    renungkanlah,

    salam
    LOGIC
    Bersyahadat “Lailahaillallah” saja….

  3. to logic
    Kok ada kalimat tuhan sih….????.Itu bahasa sansekerta boy….!!!. Tuhan itu saudaranya Hantu, coba baca berulang2 dgn cepat tuhantu..hantuhantuhantu………….tuh kan!????.

    Dalam islam hanya ada bahasa ILAH=laailaaha ilalloh, tiada ilah, sesembahan,pngabdian, hukum,undang2, aturan kECUALI yang bersumber dari Al-ILAH/ALLAH (Ma’rifat) saja. Dan tata plaksanaannya sdah dipergakan oleh Muhamamdarrosululloh, itulah makna DUA KALIMAH SYAHADAT.

    Jadi banyak blajar dulu yah nak sblum berkomntar…..!!!!entar menyesatkan lho…..

  4. emon,
    syahadat itu ya tiada tuhan selain tuhan, maaf bahasa sanskrit saya pemberian allah semata juga dan saya tidak mengilahkan yang lain….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s