Syuro BUKAN Demokrasi

Akibat dipengaruhi oleh faham non wahyu dan mendasarkan pemahamannya kepada Ra’yu tanpa ilmu dan keimanan yang sempurna, banyak umat islam yang memaknai SYURO, yang termaktub dalam Qs Ali Imron [3} : 159 dan As-Syuro [42] : 38 diartikan dengan DEMOKRASI. Terutama umat islam yang aktif dan melibatkan diri dalam organisasi partai politik. Kendati mereka memilki Dewan Syuro atau Majelis Syuro dalam partainya masing-masing, namun untuk urusan yang luas, mereka menggunakan majelis Parlemen.

Padahal Demokrasi merupakan faham yang bertentangan dengan Islam. Demokrasi artinya kekuasaan ada di tangan rakyat atau suara terbanyak, termasuk dalam hal membuat hukum. Sedangkan SYURO bukan pembuat hukum, tapi teknis pelaksanaan hukum Pembuatan hukum adalah hak perogratif ALLoh atau wewenang 4JJI saja. Manusia hanyalah diperintahkan untuk melaksanakan hukum 4JJI.

Sehingga akan nampak perbedaannya, dalam sistem Demokrasi ketika terjadi DEADLOCK, maka keputusan akhir dikembalikan kepada suara terbanyak atau VOTING. Sementara dalam Syuro, keputusan akhir dikembalikan kepada QUR’AN SUNNAH, “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, amak kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah)…(Qs An-Nisa [4] :59).

Allah Yang Maha Kasih dan Sayang telah memberikan peringatan kepada orang-orang beriman dengan firmanNYa, “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tiada lain hanyalah berdusta” (Qs Al-an’am [6] : 116, lihat pula Qs al-Maidah [5] : 49).

Wallohu ‘alam bishowab  

31 thoughts on “Syuro BUKAN Demokrasi

  1. Menurut pendapat saya :
    Dalam Islam tidak mengharuskan Sebuah negara menganut Demokrasi,kalifah,kerajaan,atau lainnya…yang penting didalamnya ada syariat islam itu dah beres…

    Bukti nya: Lihat pemerintahan Khulafa Ar-Rasyidin…pemerintahan mereka gimana??
    Tidak ada yg sama bentuknya…dimasa khalifah ABubakar tidak ada SYura…ketika pemilihan kalifah Umar…..ABubakar hanya meminta pendapat orang2 dekat dengannya ketika ABubakar sakit…dan atas keputusan ABubakar Umar diangkat menjadi kalifah selanjutnya tanpa Musyawarah dan meminta pendapat dari rakyat..

    Dan ketika Umar ingin melantik Usman,,nah dimasa inilah Umar memilih ANggota Syura sebanyak 10 orang dikepalai oleh Abdur Rahman Bin Auf… dan dicalonkan 3 orang,Yaitu: Usman Bin Affan,Ali Bin Abi Thalib dan Abdur Rahman Bin Auf… dan diadakan pemilihan suaara selama 3 hari…seluruh penduduk ditanyain..perempuan,penunggang kuda,unta, pokoknya semuanya… tp terpilih Usman bin Affan sebagai kalifahnya…
    Dan sistim SYura hansur sesudah pembunuhan terhadapa Usman Bin Affan.. dan timbullah masa fitnah…Bahkan ALi bin Abi Thalib sendiri diancam bila sampe esok hari belum ada kalifahnya…terpaksa ALi naik sebagai Kalifah di mesjid madinah dihadapan Kaum muslimin semua…

    Alhasil Khulafa Ar-rasyidin sendiri sistem pemerintahan dan pemilihan pemimpin aja berbeda satu sama lain… belum lagi ABbasiyah dan Umayyah…
    Saya kutip dari Buku “Daurah Mar’ah Muslimah fi siyasiyah”…cetakan Darussalam-Cairo

    By: Mubaraq

  2. sepakat dengan mas mubaraq deh,…
    ayuk, kita benahi indonesia [dan dunia bersama2]…
    kuatkan persamaan, sinergikan perbedaan,…

    sudah banyak yang nggak sabar nunggu islam memimpin lagi…
    jadi setidaknya jika kita belum bisa satu barisan,…
    kita perkuat barisan2 kita, jangan benturkan dengan yang lain,…
    insyaAllah pelopor kebaikan akan diikuti oleh perindu2 kebaikan2 yang lain…

    selamat berjuang, saudaraku

  3. Untuk saudara Mubaraq, argumen yang saudara sampaikan kurang mengena,
    Dimana masyarakat atau rakyat yang memilih atau diminta pendapat u/memilih Khalifah yang anda contohkna/sebutkan oleh antum tsb adalah umat atau kaum muslimin yang sudah terikat oleh IKATAN AQIDAH ISLAM dan sistem Negara atau Pemerintahan yang berjalanpun adalah Negara atau pemerintahan Islam yang hukum positifnya atau UUDnya adalah al-Qur’an dan Sunah Rasul. Sehingga dalam proses pemilihannya-pun senantiasa “mukhlisina lahuddin (Qs 98:5), murni/ikhlas semata2 bertujuan u/menegakkan Diinul islam/Syari’at (Qs 48:28, 9:33), tanpa ada unsur kepentingan duniawi (harta dan jabatan). Begitupun para kandidat Calonnya-pun berlomba-lomba u/mundur dari pencalonnya karena khawatir menghianati amanah.
    Sementara masyarakat atau rakyat yang memilih pemimpin saat ini adalah masy.heterogen ideologi yang terikat oleh AQIDAH ASHOBIYAH/KEBANGSAAN,NASIONALISME, yg notabene ikatan JAHILIYAH. Begitupun Negara atau pemerintahannya-pun hukum positifnya atau UUD nya buatan manusia(Ideologi dan UUD hasil kompromi berbagai ideologi dan agama). Sehingga dalam proses pemilihannyapun sarat kepentingan duniawi, money politik, berlomba mencari jabatan dengan janji-janji muluk, koalisi antar ideologi, berebut jabatan dengan dalih MENJEMPUT AMANAH, dan tidak nampak sama sekali misi u/menegakkan hukum2 Allah. Syari’at Islam dan istilah2 islami hanya jadi kamuflase atau alat penarik simpati massa u/melegitmasi SYAHWAT POLITIK/KEKUASAANNYA. Naudzubillahi mindzalik summa naudzubillahi min dzalik……………
    Untuk Saudara Toni BAIK BELUM TENTU BENAR, ingat Putri Diana, Shidarta Gautama, Bunda Theresa adalah orang2 yang baik hati, tapi BELUM TENTU BENAR di hadapan ALLAH (kaji QS 2 :147).

  4. Gimana belum tentu mengena? Bukankah dalam hadist Kita disuruh mengikuti Para sahabat ,tabi’in dan tabi’ tabi.in???
    Nabi Muhammad Tau bahwa Masyarakat islam Nantinya akan dianut oleh segenap Ummat dunia yg berbeda budaya,aliran,pemikiran dan latar belakang yg 100% terbalik dg dunia Arab….Nah Untuk Itu islam tidak mematok sebuah Negara harus Begini begitu,Kerajan,nasionalis,Negara bagian,sehingga memudahkan Ummat manusia menerapkan SYariat Islam didalamnya…

    Tentang Anggota perlemen berkhianat dg amanahnya,calon rakyat yg tidak bermutu,Mencari kakayaan dan kekuasaan,DImasa Para sahabat Juga banyak yg demikian,tp dg Undang2 yg bagus bisa diterapkan dg semestinya dan sesuai…Manusia tidak ada Yg SERMPURNA SELAIN RASULULLAH SAW…Knp Kita dapati banyaknya korupsi,kolusi dan Nepotisme dlm pemerintahan kita??? Jawabannya paling tepat adalah….Masyarakat kita Sudah keilangan Norma agama,Knp mereka keilangan Norma agama? lihat lah sistim pendidikan Indonesia skr? Brpkah pelajaran agama diKuliah dan disekolah2? dua dlm seminggu?cukupkah??
    Jadi untuk mencetak sebuah kader bangsa,orang2 yg akan memimpin bangsa diaakan datang didiklah Anak2 kita dg agama,Tambahkan jam pelajaran agama disekolah2,Inilah solusinya,Brpkah pendidikan tauhid dan akidah didalam sekolah dan kuliah??Bisa saya katakan hampir tidak ada,bila ada dibawah cukup…GIMANA MENDIRIKAN NEGARA YG BERSIH SEDANGKAN YG DUDUK DIDALAMNYA TIDAK MEMILIKI ILMU AGAMA YG MEMADAI,jadi janganlah bermimpi mendirikan negara islam seandainya generasinya Tidak berilmu AGAMA…ini yg harus dicamkan…

    saya Ulangi…Knp Islam tidak mematok satu sistim pemerintahan?itulah Bagusnya Islam,itulah Sebuah Demokrasi dlm islam…Lihat sistim pemerintaha para sahabat dan tabi’in dg Sistim pemerintahan yg berbeda2…Nah itulah yg dikatakan DLm Hadist bahwa kita harus mengikuti para sahabat ,tabi’in dan tabi’ tabi’in…

    Bermimpilah para orang yg ingin mendirikan Daulah islamiyah sedangkan mereka acuh tak acuh dg Generasi bangsa……

    Bermimpilah wahai pendiri Kalifah islamiyah Bila mereka tidak pernah peduli dg pendidikan Agama di sekolah dan diUniversity2….

    salam…keep istiqamah

  5. Sebelumnya saya ucapkan MOHON MAAF bila saya bergumam “NAUDZUBILLAH MIN DZALIK” dengan pemahaman2 saudara dan kebanyakan umat Islam lainnya ttg ISLAM. Islam dianggap AGAMA, klo begitu apa bedanya Islam dgn Kristen, Budha, Hindu dan agama2 ritual lainnya. Padahal Islam itu DINULLOH (baca dan kaji Qs 3 : 19). DIIN bukan AGAMA, Agama itu dari bhs Sansekerta (A = tidak, Gama=kacau )…Islam itu tdk hanya mngjarkan kebaikan2 saja tapi Syumuliyah….,segala asfek khidupan/IPOLEKSOSBUDHANKAM.
    Untuk mewujudkan Al-ISLAM dimuka bumi ini tentu diperlukan Tarbiyah dengan proses TILAWAH, TAZKIYAH dan TA’LIM (baca dan kaji Qs 62 : 2). Pola Pendidkan Islam bukan dgn pola SEKULER, memisahkan antara Agama dengan Umum, tapi Pendidikan Islam itu satu kesatuan, kaffah….
    Saya berdo’a Semoga ALLAH mmpertemukan saudara Mubaroq dengan orang-orang yang mmbwa panji2 KEBENARAN…., dan dijauhkan dari para kaum ILTIBAS (yang suka mncmpur adukkan antar Al-Haq dan Al-Batil). Mncampuradukan antar Islam dengan Demokrasi, mngganggap NASIONALISME/ASHOBIYAH yg dtntang oleh Rasul Saw sbgai salah satu sstem islam, baca sabdanya, “Bukan termasuk golonganku orang yang berjuang atas dasar Ashobiyah/Nasionalisme”.
    MAAF sekali lagi………..
    Ini hanya ungkapan kasih sayang saya trhdap orang2 yg punya Ghiroh keislaman yg tinggi, tapi tdk tahu jalan……..yang bnar………..

  6. karena nama saya afgan, akang-akang, mas-mas, beli-beli, om-om, gentleman-gentleman sebaiknya mendengarkan lagu afgan yang judulnya:terimakasih cinta karena sampai saat ini masih hidup karena cinta-Nya

  7. untuk kang mubarak dan kang toni, kita tunggu saja detik-detik kehancuran demokrasi, semoga kita semua masih diberi kesempatan hidup ketika islam futuh.. wassalam…. hidup islam… mati demokrasi…

  8. Dear All

    Seperti yang saya sampaikan di forum lain. harus dibedakan antara demokrasi sebagai prinsip dan demokrasi sebagai cara.

    Demokrasi sebagai prinsip sudah jelas 180 derajat beda dengan Islam, ini tidak usah dipertentangkan lagi. Namun sayang, kebanyakan orang terburu2 anti terhadap istilah “Demokrasi” ini.

    Pada saat pemilihan Usman bin Affan, bukankah itu juga demokrasi, dalam arti, pemimpin ditentukan oleh suara terbanyak. inilah yang saya maksud demokrasi sebagai cara.

    Tentu orang2 yang memilih harus punya syarat2 tertentu, yang jelas dia harus Muslim. ini sudah jelas, karen bentuk pemerintahan pada zaman para Khulafa u-rasyiddin adalah Kedaulatan ditangan Alloh dan Kekuasaan ditangan ummat.
    Nah, kekuasaan ditangan ummat yang saya maksud adalah, ummatlah yang menentukan/memilih siapa yang harus memegang kekuasaan, tentu dengan rambu2 Syariat Islam, semuanya tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah Rosul.

    Mengenai Ashobiah, ini juga sudah jelas, orang yang menyeru atas dasar Ashobiah adalah bukan ummat Rosul. Tapi bukan berarti orang Palestina yang memprjuangkan tanah airnya disebut Ashobiah, demikian juga Mujahiddin di Irak, Afghan, Thailand, dll. Saya yakin mereka semua bercita2 untuk menegakkan Khilafah, dan langkah pertama untuk menuju kesana adalah membebaskan negerinya sendiri dari pemerintahan Thogut, lalu kemudian membantu perjuangan ummat Islam di daerah lain yang belum dibebaskan.
    Alhamdulillah.

    • Islam bukan logika pikiran, syahwat, perasaan, nenek moyang. Islam adalah dalil/hujjah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah

      Rasulullah besabda akan kutinggalkan kalian 2 perkara dimana kalian tdk akan tersesat dijalannya yaitu Al-Quran dan Sunnah.

      Irfan ente sebaiknya syahadat lagi yg benar dan aplikasiin syahadat ente, karena ente sdh murtad.
      Islam bukan dgn logika ente.

  9. saudara irfan
    justru Demokrasi tlah dibuat ssuatu yg absolut oleh “penganutnya”.
    Jadi mnggunakan demokrasi tntunya tlah keluar dari prinsip Islam yg mlarang Kebenaran suara trbanayk sbagai Kebenaran (lihat Qs 6:116)

  10. mas Mubaraq yang dirahmati Allah..

    berislamlah secara totalitas..
    Terimalah A-l-Qur’an itu dengan lapang dada..
    Allah menurunkan Al-Qur’an tidak untuk kesusahan hamba-Nya melainkan untuk mempermudah.

    Demkrasi itu = setan / kafir

    masa mau diikuti, bukankah kita tahu syetan itu musuh kita.

    sudah pasti yang benar sudah nampak dan akan yang bathil akan lenyap.. itulah sunatullah…

    sekedar ngasih masukan buat mas muaraq. syukran

  11. Saya setuju dengan Penulis di atas.
    Saya hanya ingin menambahkan perumpaan bahwa jika kita punya dua premis berikut:
    Kambing: punya jenggot
    Manusia: punya jenggot
    Lantas apakah manusia = kambing? Tentu bukan kan?. Begitu pula dengan demokrasi dan Islam.
    Demokrasi: mengenal syuro’ untuk menetapkan keputusan
    Islam: mengenal syuro’ untuk menetapkan keputusan
    Lantas apakah semua keputusan boleh diambil secara musyawarah? Tentu tidak, untuk keputusan yang telah ada ketetapannya dalam syari’at Islam. Jadi demokrasi tidak bisa dikatakan islami. Sebab dalam demokrasi semuanya bisa dimusyawarahkan walaupun sudah ada ketetapannya dalam Islam. Lihat saja kasus pornografi dan pornoaksi, atau juga kasus poligami. Dengan demokrasi hal itu masih diperdebatkan, padahal Islam sudah dengan tegas menetapkan hukum-hukum yang berkaitan dengan hal tersebut.

  12. ass.w.wb
    ana sekarang algi cari makalah atau tulisan tentang konsep syuro kalau antum punyan, bisa dikrim ke email ana…….
    semoga dakwah antum leat tulisan terus berkembang dan sukses…..

    syukron bantuannya,,,,,

    hasan

  13. Jazakallah atas dukungannya………..
    Insya Allah klo lagi ada waktu luang saya kirim………

    Insya Allah Qta tdak hanya berkutat di tataran wacana saja. Al-Islam adalah sbuah Pergerakan…krena dngan bergerak Islam akan tegak………

  14. Semoga stress-nya dan gilanya para Caleg yang gagal jadi anggota Dewan mnyadarkan umat yg mngaku muslim bahwa Denokrasi dgan sgala atribut dan tektek bengeknya malahirkan satu khnacuran, kbodohan, kmnduran. Jadi kagak usah berharap lagi dari sstem KAFFIR ini (baca Demokrasi).
    Teritama buat Partai yg berlogo dan brsimbol islam sprti PEKASE (PKS)ini yang sok soleh…Sadarlah bahwa tindakan antum semua adalah satu bntuk kejahiliyahan….Antum dgn mlbrkan diri dalam sstem Togut Demokrasi dgn mngatasnamakan islam, mngatasnamakan Dakwah/partai Dakwah tdak secra sadar antum tlah mngancurkan islam dari dalam. Naudzubillah…
    sadarlah…….. taubatlah………

  15. Perbaikan, perubahan yang dilakukan oleh mereka yg trlibat dalam sistem Syetan yang bernama Demokrasi tak ubahnya anjing mnggonggong kafilah berlalu. Bullsyit…..
    Lihatlah para Capres yang rame-rame saling merapat (koalisi). Mereka adalah para anjing yg berebut tulang….
    Dan yg paling memalukan adalah Partai2n yg mngaku Partai Islam ikut2an buntuti Partai Nasionalis (PartaI Demokrat) jd tman sejatinya, PKS, PBB, PPP, PAN, PKB. Mana harga diri kalian????. Dimana kbanggaan Islam kalian sbagai muslim, kalian tanggalkan izzul islam wal muslimin demi sbuah kekuasaan.
    Ironi…..apakah kalian berani tegakkan Islam sbagai Dasar Negara mngganti Dasar Negara buatan nenek moyang yg tlah mnghancurkan umat muhmmad ini….apakah ada dalam kontrak politik yg kalian ajukan trhadap jagoan kalian (capres)…
    Sdah ganti saja sgala simbol islami yg mlkat pada gambar prtai atau atau nama yg kalian usung slama ini…Ka’bah, Bulan Bintang, tulisan Qur’an/tulisan bhasa Arab….Memalukan islam saja…….

  16. Sebaiknya saudara akbar jangan melihat PkS dari sudut yang negatifnya aja.karena sudah banyak pembuktian yang di lakukan PKS untuk rakyat ini.PKS itu adalah artai kader yang sangat solid. sebaiknya kita melihat sesuatu jangan dari sati sisi aja.sudah sejauh mana pengetahuan saudara akbar tentang PKS.

    • ANTARA HAQ DAN BATIL JANGAN DI SATUKAN.. HAQ KALAU NYAMPUR MA BATIL AKAN JADI BATIL JUGA CONTH AIR BERSIH DI CAMPU AIR KOTOR WALAU SEDIK AIR KOTORNYA MAKA AKAN KOTOR JUGA AIRNYA..
      DEMOKRASI ADALAH SISTEM YANG SANGAT KOTOR… SEBUTLAH SISTEM SETAN ATAU THOGUT…
      SEBAIK APAPUN PKS MAKA KALAU DI CAMPURKAN DENGAN DOMOKRASI BAKAL JADI KOTR DANBISA RUSA DIN ISLAMNYA..

    • @ Agustina damanik
      Ada-ada ajah,,
      saya dulu ikut-ikutan PKS..
      lama mentoring…
      tapi,,ternyata saya kecewa dengan PKS.
      SOlid saat mau Pemilu,,
      aja kali,,,
      butuh suara,,
      agar terpilih…
      viss…kenyataannya seperti itu…

  17. Saudara Agustina
    Saya tdak mnitik tekankan kpada salah satu klmpok/Partai, tapi lebih kpada sstem, yakni DEMOKRASI. Jadi sebaik apapun partai/klmpok tsb kalau sdah mlbur kpada sstem thogut (DEMOKRASI), maka prlahan tapi pasti ia akan trsibghoh oleh sstem tsb, dan sgala amal prbuatannya tdak akan dterima Allah dan di akhirat trmasuk orang2 yg rugi, slahkan baca dgn sksama frman Allah, ” Barangsiapa berada dalam DIN/sstem selaian Islam, maka tdak akan dtrima daripadanya, dan ia diakhirat mnjadi orang2 yg rugi” (Qs ali Imron[3] :85).Lihatlah diantaranya PKS, mana komitmen-nya sbagai partai Dakwah…Dakwah dr mana dan kmana. Smntara PKS sndri brada dalam sstem yg salah(Demokrsi), bgaimana bsa dakwah, ia sndiri harus didakwahi…?????…”…..SEMBAHLAH ALLAH SAJA, DAN JAUHI THOGUT (baca Demokrasi) (Qs 16 : 36)

  18. subhanallah…saya sampai nyasar kesini, rabbana maa kholakta hadza batilaa. menemukan bgtu bnyak penomena umat islam dlm harokah.

  19. Bismillahirrahmaanirrahiim Segala puji hanya milik Allah semesta alam, Dia-lah Yang Maha Esa atas hukum-Nya dan tidak seorang pun berhak menentukan hukum selain-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap dicurahkan kepada Rasulullah SAW, keluarganya, para sahabat dan pengikutnya hingga Hari Kiamat. Allah SWT berfirman, “Keputusan ini hanyalah kepunyaan Allah” (Yusuf:40) “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki” (Al Maidah:50) Rasulullah SAW bersabda, “Seseungguhnya Allah-lah Sang Pemutus itu dan hanya keoada-Nyalah hukum itu dikembalikan” (Hadist Sahih Riwayat Abu Dawud dan An Nasa’iy) Di antara masalah penting / mendasar yang memerlukan penjelasan para ulama adalah masalah tahkim . Dan para ulama pun telah menjelaskan hal ini secara terinci, akan tetapi kita kurang perhatian terhadap tulisan mereka. Bahkan sebagian diantara kita terkadang merasa cukup dengan komentar si Fulan dan ta’liq si Alan. Padahal tentang tahkim merupakan hal serius yang perlu kejelasan ungkapan dan lontaran, bukan kalimat yang samar atau justru mengaburkan atau menyesatkan. • Adlwaa-ul Bayan 4/90-92 dan ditempat lain yang terpencar-pencar • Wujuubu Tahkiimi Syar’illah Abdul Aziz Ibnu Baaz rahimahulla, ini risalah khusus. • Naqdul Qaumiyyah Al ‘Arabiyyah Abdul Aziz Ibnu Baaz 50-51. • Majmu Fataawaa Syaijh Ibnu Baaz rahimahullah 2/142. • Taqlid atas Fahul Majid Muhammad Hamid Al Faqii 396. • Umdatut Tafsir Ahmad Muhammad Syakir rahimahullah 4/174 dinukil dari tahkimusyari’ah wa Da’aawaa Al ‘Ilmaniyyah shalah Ash Shawi, Dhawabitut Takfir Abdullah Al Qarniy, Al Minhah Al Ilahiyyah Abdul Aakhir. • Anhadiitsul Jum’ah Abdullah Ibnu Qu’ud 4/56. • Al Muntaqaa Min Fataawaa Fadhilatisy Syaikh Shalih Ibnu Fauzan Ibni Abdillah Al Fauzan 2/254 No. 222. • Muqarrar Tauhid Lishshaffits Tsalits, Shalih Al Fauzan : 67 dan tempat lainnya juga dalam jilid pertama. • Aqidatut Tauhid, Shalih AL Fauzan : 141. • Al Majmuu Ats Tsamiin Syaikh Muhammad Shalih Al’Utsaimin rahimahullah 1/36. • Fiqhul Ibaadaat Muhammad Shalih Al ’Utsaimin. • Innallaha Huwal Hakam Muhammad Syakir Asy Syarif, risalah khusus lagi lengkap. • Hukmullah Wa Maa Yunaafiihi Abdul Aziz Ibnu Muhammad Al Abdul Latiif, risalah khusus. • Al Haakimiyyah Fi Tafsiiri Adlqauul bayaan Abdurahman Abadul Aziz As Sudais, risalah khusus, • Fataawaa Al Lajnah Ad Daa’imah 1/747. • Mauqifu Ahlis Sunnah Wal Jama’ah Minal ‘Ilmaniyyah, Muhammad Abdul Hadiy Al Mishriy. • Tahkimusy Syari’ah Wa Da’aawaa Al ‘Ilmaniyyah, Shalah Ash Shaawiy. • Waqafaat Tarbawiyyah Fi Dlaaulil Qur’anil Karim Abdul Aziz Ibnu Nashir Al Jalil 1/431-436. • Raf’ul Laimah ‘An Fatwal Lajnah Ad Daimah, M uhammad Salim Ad Dausariy. • Al Minhah Al Ilahiyyah Fi Tahdziibi Syarhil Aqidah Ath Tahahwiyyah Abdul Aakhit Hammad Al Ghunaimiy 176-178. • Al Jadid Fi Syarhi Kitabit Tauhid Muhammad Ibnu Abdul Aziz Al Qar’aawiy 340. • Aqidatu Ad’iyaaus Salafiyyah Fi Mizani Ahlissunnah Wal Jama’ah, Abu Abdillah Muhammad Al Marakiisyiy. • Syarah Nawaqidlul Islam Al ‘Asyrah Ali Al Khudair. • Masaa’il Al Ilman, Al Fauzan, Al Harfiy. • Juz Ashli Dinil Islam, Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab, Rasyid Ridla. • Risalah Fi Makna Ath Thagut, Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab. • Al Qaawa’idul Arba Allatii Tufariqu Baina Dinil Muslimin Wa Diinil ‘Ilmaniyyain. • Az Zinad Syarh Lum’atul ‘Itiqad, Ali Al Khudlair, bab tentang ahlul kiblat. • At Tahdzir Minal Irjaa’ wal Kutub Ad Daiyyah Ilaih, Dar Aalamul Fawaaid. • Al Jam’u wat Tajrid Fi Syarhi Kitabit Tauhid, Ali Al Khudlair. • Al Taudlih wat Tatimmah fi Syarah Kasyfusy Syubhat, Ali Al Khudlair. • Fatawaa At tahud, Abdullah Al Jibrin • Dan kitab-kitab Ahlus Sunnah lainnya. Adapun orang-orang yang tidak pernah membahas masalah ini: Bisa dia itu tidak mengetahui, maka dia harus belajar lagi, ada yang mengetahui namun tidak pernah menjelaskannya, maka dia itu adalah orang yang menyembunyikan ilmu yang sangat mendesak untuk dijelaskan, ada pula yang beranggapan bahwa jika tidak adanya istihlaal (menghalalkan yang haram) atau juhuud (pengingkaran), maka mereka hanya terkena kufrun duna kufrin. Orang yang beranggapan seperti ini berarti dia itu adalah pengikut faham Murji’ah, meskipun mengklaim paling salaf dan adapula yang bahwa tindakan pengusa itu membuat murtad, namun orang-orang ini justru ikut andil didalamnya, maka nasibnya sama dengan mereka. Hendaklah setiap orang berilmu memilih bagiannya masing-masing dari semua itu. Al Hukmu (menentukan hukum) merupakan hak khusus Rububiyah Allah SWT , sebagaimana doa merupakan hak khusus Uluhiyah-Nya, maka barangsiapa merampas hak-hak khusus itu berarti dia telah menempatkan dirinya sebagai Rabb (Tuhan) selan Allah SWT. Dan pernyataan atau keyakinan atau persetujuan akan bolehnya si fulan atau sekelompok orang membuat hukum adalah termasuk memalingkan hak khusus Allah SWT itu kepada selain-Nya yang berarti pelakunya telah menyekutukan Allah SWT. Khawarij adalah firqah sesat yang menyimpang karena sikap ifrath (berlebihan). Sedangkan Murji’ah adalah firqah sesat yang menyimpang karena sikap tafrith (meremehkan), bahkan Murji’ah lebih berbahaya dari yang lainnya. Ibrahim An Nakha’iy rahimahullah berkata, “Sungguh Fitnah mereka – maksudnya Murji’ah – lebih ditakutkan atas umat ini daripada fitnah Azariqah” Ini tidak mengherankan karena Murji’ah merupakan pendorong pembabatan dan pelanggaran serta penyepelean akan syariat, Az Zuhriy rahimahullah berkata, “Di dalam Islam ini tidak pernah didatangkan bid’ah yang lebih berbahaya atas pemeluknya selain irja” Al Auzai’rahimahullah berkata, Yahya Ibnu Abi Katsir dan Qotadah rahimahullah pernah berkata, “Tidak ada satupun ahwan (bid’ah) yang lebih mereka khawatirkan atas umat ini daripada irja” Karena sangat besarnya bahaya mereka, sehingga Syuraik Al Qadliy rahimahullah berkata, “Mereka itu (Murji’ah) adalah kaum yang paling busuk, cukuplah kebusukan Rafidhah bagimu, namun Murji’ah ini berdusta atas nama Allah” Namun, Allah memberi petunjuk terhadap Ahlus Sunnah kepada jalan yang lurus. Mengenai al hukmu adalah termasuk ke dalam kancah perang permikiran dan perkataan antara kedua kelompom sesat itu dengan Ahlus Sunnah. Kedua kelompok tersebut, sudah tentu tidak akan mengakui diri mereka termasuk kelompok bid’ah/ sesat (menyimpang), bahkan mereka merasa memerangi kelompok bid’ah dan mengaku berada di atas sunnah. Sehingga orang Murji’ah pada masa sekarang mengaku dirinya yang paling sesuai sunnah dan orang yang bertentangan dengan mereka di dalam masalah tahkim ini, mereka vonis sebagai Khawarij atau Takfiriy. Padahal orang yang mereka vonis Khawarij dan Tafiriy itu adalah Ahlus Sunnah. Oleh karena itu, mengenai tahkim ini perlu diketengahkan karena sangat penting, yakni: • Bila suatu negara menegakkan hukum Islam secara keseluruhan tanpa kecuali dan diperintah oleh orang-orang muslim serta kebijakan ada di tangan mereka, maka negara tersebut adalah negara Islam, meskipun mayoritas penduduknya kafir . Dan bila pemerintahnya itu adalah pemerintah muslim yang adil. • Bila syari’at Islam masih menjadi acuan dan landasan hukum negara secara utuh, namun dia (hakim) menyimpang dari ketentuan yang berlaku di dalam (qadliyyah mu’ayyanah) kasus tertentu, sedangkan hukum syariat masih menjadi landasan dan hukum negeri itu dan dia juga mengetahui bahwa dirinya menyimpang dan berdosa karena penyimpangan ini serta dia masih meyakini hukum Islam itu yang paling sempurna, maka dia itu adalah muslim yang dhalim atau muslim yang fasiq atau kufrun duna kufrin menurut Ahlus Sunnah, sedangkan menurut firqah Khawarij, hakim / pemerintah itu adalah kafir. Namun, apabila di dalam kasus tertentu di atas, si hakim meyakini bahwa hukum itu lebih baik dari hukum Allah atau menganggap halal berhukum dengannya, maka dia itu kafir menurut Ahlus Sunnah dan Murji’ah sekalipun, demikian halnya menurut Khawarij. • Bila suatu negara membabat hukum Islam dan menyingkirkannya, kemudian mereka menerapkan (qawaniin wadl’iyyah / undang-undang buatan manusia), baik dari mereka itu sendiri atau mengambil dari hukum-hukum orang lain, baik dari Belanda, Amerika, Portugal, Inggris atau yang lainnya, maka pemerintahan itu adalah pemerintahan kafir dan negaranya adalah negara kafir, meskipun mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin. Shalat, shaum, zakat, haji dan ibadah dhahir lainnya yang masih dilakukan oleh para penguasa tersebut ataupun nama Islam yang mereka sandang itu tidak ada manfaatnya, jika mereka tetap bersikukuh di atas prinsip itu, sebab mereka telah kafir lagi murtad dan negaranya adalah negara kafir. Syaikh Abdul Aziz Aziz Bin Baz rahimahullah mengatakan, “Setiap negara yang tidak berhukum dengan syari’at Allah dan tidak tunduk kepada hukum Allah serta tidak ridla dengannya, maka itu adalah negara jahiliyah, kafirah, dhalimah, fasiqah dengan penegasan ayat-ayat muhkamat ini. Wajib atas pemeluk Islam untuk membenci dan memusuhinya karena Allah dan haram atas mereka mencintainnya dan loyal kepadanya sampai beriman kepada Allah saja dan menjadikan syari’atnya sebagai rujukan hukum dan ridla dengannya.” Syaikh Shalih AL Fauzan hafidhahullah berkata, “Yang dimaksud dengan negeri-negeri Islam adalah negeri yang dipimpin oleh pemerintahan yang menerapkan syari’at Islamiyah, bukan negeri yang di dalamnya banyak kaum muslimin dan dipimpin oleh pemerintahan yang menerapkan bukan syari’at Islamiyah. (Kalau demikian), negeri seperti ini bukanlah negeri Islamiyyah.” Hal serupa dikatakan oleh Syaikh Muhammas Rasyid Ridla rahimahullah bahwa negeri seperti itu bukanlah negeri Islam. Para ulama yang tergabung di dalam Al Lajnah Ad Daimah ketika di tanya tentang negara yang di huni banyak kaum muslimin dan pemeluk agama lain dan tidak berhukum dengan hukum Islam, mereka mengatakan, kaum muslimin dan pemeluk agama lain dan tidak berhukum dengan hukum Islam, mereka mengatakan, “Bila pemerintahan itu berhukum denga selain apa yang diturunkan Allah, maka pemerintahan itu bukan Islamiyyah.” Bahkan pemerintah atau hukum itu adalah hukum Thagut. Syaikh Shalih AL Fauzan berkata, “Dan apa yang tidak disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya di dalam masalah politik dan hukum di antara manusia, maka itu adalah hukum thagut dan hukum jahiliyah. “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik dibanding (hukum) Allah bagi orang-orang yakin.” Pernyataan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah. Mereka memvonis para penguasa yang menerapkan undang-undang (qawaaniin wadl’iyyah) bukan Islam, sebagai orang-orang kuffar murtaddin, meskipun mereka itu masih melaksanakan shalat, shaum, haji dan lain-lain serta masih meyakini bahwa dirinya muslim. Syaikh Muhammad Hamid Al Faqiy rahimahullah berkata, “Siapa yang menjadikan perkataan orang-orang barat sebagai undang-undang yang dijadikan rujukan hukum di dalam masalah darah, kemaluan dan harta dan dia mendahulukannya terhadap apa yang sudah diketahui dan jelas baginya dari apa yang terdapat di dalam Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya SWT, maka dia itu tanpa diragukan lagi adalah kafir murtad bila terus bersikeras diatasnya dan tidak kembali berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah dan tidak bermanfaat baginya nama apa pun yang dengannya dia menamai dirinya (klaim muslim) dan (tidak bermanfaat juga baginya) amalan apa saja dari amalan-amalan dhahir, baik shalat, shaum, haji dan yang lainnya.” Bahkan vonis kafir murtad berlaku bagi hakim (pemerintah) yang menerapkan mayoritas hukum Islam, namun di dalam masalah tertentu (umpamanya di dalam masalah zina) dibuat undang-undang buatan yang bertentangan dengan hukum Islam, sehingga setiap berzina tidak dikenakan hukum Islam, tetapi terkena undang-undang itu, maka sesuai aqidah Ahlus Sunnah, si hakim itu adalah kafir murtad juga, bahkan meslipun si halim (pemerintahan) tersebut mengatakan bahwa hukum Islam yang palin adil dan kami salah.” Syaikh Muhamamd Ibnu Ibrahim Al Asy Syaikh berkata, “Adapun hukum yang dijadikan undang-undang dengan begitu tertib dan rapi, maka itu adalah kekufuran, meskipun mereka mengatakan, “ Kami mengaku salah dan hukum syari’at itu lebih adil.” Camkanlah! Ini adalah yang disebut dengan talaazum (kaitan) dhahir dengan bathin menurut Ahlus Sunnah, berbeda dengan Murji’ah. Ini disebabkan karena berhukum dengan apa yang diturunkan Allah merupakan kekufuran yang mengeluarkan dari Islam denga sendirinya (al kufru bi ‘ainihi) bahkan merupakan bentuk loya (wala) terbesar kepada orang-orang kafir, sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syaikh Abdurrahman Nashir Al Barrak hafidahullah. Sehingga penyataan dia (hakim/pemerintah), “Kami tahu ini salah, ini sesat sedangkan Islam yang adil,” tidak ada artinya, layaknya orang yang sujud, namun dia tetap melakukannya, maka orang seperti ini adalah kafir. Oleh sebab itu Syaikh Ibnu Ibrahim Al Asy Syaikh rahimahullah berkata lagi, “Seandainya orang yang menjadikan undang-undang sebagai acuan hukum mengatakan, “Saya meyakini sesungguhnya ini adalah bathil”, maka (perkataan) ini tidak ada pengaruhnya, bahkan tindakannya itu tetap merupakan pembabatan terhadap syari’at, sebagaimana halnya bila seseorang berkata, “ Saya menyembah berhala dan saya meyakini bahwa ini adalah bathil.” Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Orang (penguasa) yang berpaling dari syari’at Allah dan justru dia membuat hukum (undang-undang) sendiri atau mengambil dari hukum orang-orang kafir, sudah dipastikan dia itu berkeyakinan bahwa undang-undang buatan itu lebih layak dan lebih bermanfaat dibanding hukum Allah SWT. Karena orang tidak mungkin berpaling kepada sesuatu kepada yang lainny, kecuali dia itu berkeyakinan bahwa itu lebih baik. Syaikh Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata tentang macam-macam orang yang berhukum dengan selain hukum Allah SWT, yakni: “Siapa saja orang yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah karena menyepelekannya atau menganggapnya hina atau karena dia berkeyakinan bahwa hukum yang lain lebih mashlahat darinya dan lebih manfaat bagi mahluk, maka orang itu adalah kafir dengan kekafiran yang mengeluarkan dari agama ini, dan diantara mereka itu adalah orang-orang yang meletakkan bagi manusia hukum-hukum (tasyri’at) yang bertentangan dengan syari’at Islamiyyah, kecuali karena mereka itu meyakini bahwa tasyri’at yang bertentangan dengan syari’at Islamiyyah, kecuali karena mereka itu meyakini bahwa tasyri’at buatan tersebut lebih mashlahat dan lebih manfaat bagi makhluk, sebab sudah termasuk sesuatu yang diketahui secara spontan oleh akal pikiran dan tabi’at fithrah bahwa manusia itu tidak berpaling dari satu jalan (minhaaj) kepada mainhaaj yang bertentangan dengannya, kecuali dia otu meyakini keutamaan minhaaj yang dia tuju dan (meyakini) kekurangan minhaaj yang dia berpaling darinya (ditinggalkan).” Beliau jelaskan bahwa seseorang yang berpaling dari hukum Allah SWT dan justru membuat hukum (undang-undang) sendiri atau mengambil hukum dari yang lain. Hal ini berarti dengan spontan orang itu berkeyakinan bahwa undang-undang buatan itu lebih baik, meskipun dia mengingkari dengan lisannya. Namun lisanul haal (perbuatan) menunjukkan sebaliknya. Inilah yang dinamakan di dalam manhaj Ahlus Sunnah dengan istilah At Talaazun Bainadhdhahir wal Bathin (kaitan antara dhahir dan bathin), (dan hal ini) berbeda dengan Murji’ah. Beliau juga mengatakan ketika menjelaskan bahwa ada perbedaan antara qadliyyah mu’ayyanah (kasus tertentu) yang (hal itu menuntut) keharusan untuk dilihat keyakinan hati (sehingga ada kafir mukhrij minal millah dan kafir kufrun duna kufrin) dengan tasyri’aam (yang sifatnya undang-undang) yang (hal itu menuntut untuk) tidak melihat keyakinan hatinya, namun hal itu adalah (kafir muthlaq), ini juga talaazum, beliau berkata: “Ya, di sana ada perbedaan, karena sesungguhnya masalah-masalah yang sifatnya berupa tasyri’aam (undang-undang) tidak berlaku di dalamnya rincian tadi, namun itu termasuk di dalam bagian pertama saja , karena si pembuat syari’at (hukum) yang bertentangan dengan Islam ini, bahwa dia membuat hukum ini karena berdasarkan keyakinan bahwa itu lebih baik daripada Islam dan lebih manfaat bagi hamba-hamba Allah, sebagaimana yang telah diisyaratkan terhadapnya.” Kalau suah berupa undang-undang, maka masalahnya sangat jelas, sejelas matahari di siang bolong. Semua orang bisa melihatnya, kecuali orang buta dan kelelawar. Syaikh Ahmad Syakir rajimahullah berkata, “Sesungguhnya vonis bagi undang-undang buatan manusia (qawaaniin wadl’iyyah) ini adalah sangat jelas seterang matahari, yaitu kufrun bawwah (kekafiran yang membuat pelakunya murtad dengan jelas), tidak ada kesamaran, tidak perlu debat dan tidak ada alasan (udzur) bagi orang yang menisbatkan dirinya ke dalam Islam siapa pun orangnya, yang mengamalkannya, tunduk kepadanya atau mengakuinya. Hendaklah setiap orang hati-hati akan dirinya, karena setiap orang bertanggungjawab atas dirinya.” Perkataan yang sangat jelas yang bersumber dari ulama Ahlus Sunnah, setiap orang bisa dengan mudah memahaminya. Karena itu, hendaklah orang yang menta’liq perkataan beliau ini khawatir akan dirinya dan para pengikutnya. Syiakh Abdul Aziz Ibnu Abdillah Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Tidak ada iman bagi orang yang: • Meyakini bahwa hukum-hukum manusia dan pendapat-pendapatnya lebih baik dibanding hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya. • Atau (meyakini) bahwa hukum-hukum itu menyamainya dan sejajar dengannya. • Atau meninggalkan (hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya) dan justru dia menempatkan hukum-hukum buatan dan oeraturan-peraturan manusia di tempatnya, meskipun dia meyakini bahwa hukum-hukum Allah lebih baik, lebih sempurna dan lebih adil.” Ini semua adalah ijma’ para ulama dan siapa yang tidak seperti itu, maka dia itu bukan Ahlus Sunnah, meskipun mereka paling mengklaim akan nama ini dan hendaklah mereka bertaubat. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Siapa yang meninggalkan syari’at yang muhkam yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah khatamul Anbiyaa dan justru dia berhukum (merujuk) kepada selainnya berupa syari’at-syari’at yang sudah dinasakh (dihapus), maka dia itu kafir. Maka apa gerangan dengan orang-orang yang bertahakum kepada Ilyaasaa dan mendahulukannya atas (syari’at Rasulullah). Siapa yang melakukan hal itu maka dia itu kafir berdasar ijma kaum muslimin.” Bila ada orang yang masih memakai hukum Allah SWT yang sudah dihapus saja divonis murtad, lalu apa gerangan dengan yang membuat hukum sendiri? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa bila satu kaum, satu kelompok, satu negara (pemerintahan) yang orang-orangnya mengaku muslim dan mereka itu melaksanakan sebagia syari’at Islam dan bahkan mengakui seluruh syari’at Islam, namun mereka menolak melaksanakan salah satu kewajiban yang jelas atau menolak meninggalkan salah satu yang diharamkan dengan jelas, maka kelompok yang menolak tersebut wajib diperangi oleh Imam kaum muslimin sampai tunduk kepada aturan secara keseluruhan. Di dalam masalah ini, tidak ada perbedaan pendapat diantara Ahlus Sunnah, dengan dalil bahwa para shahabat semua ijma’ untuk memerangi kaum yang menolak membayar zakat dan oara sahabat radhiallahu anhuma tidak pernah bertanya apakah mereka mengingkari kewajibannya atau tidak. Dan justru mereka menggolongkan kaum yang menolak membayar zakat itu sebagai kaum murtaddun. Hal ini dikarenakan mereka (yaitu orang-orang yang menolak membayar zakat) tidak melakukans hal itu, kecuali setelah ada kesepakatan sebelumnya diantara mereka, sehingga para ulama muhaqqiqin menyatakan bahwa mereka bukan orang-orang Islam. Masalahnya menjadi berbeda bila sifatnya individu, maka ini tidak dianggap murtad selama dia meyakini wajibnya zakat. Maka apa gerangan dengan pemerintahan yang menolak banyak syari’at Islam dan membuat undang-undang di luar Islam, seperti negeri-negeri yang banyak dihuni kaum mayoritas kaum muslimin ini? Al Imam Ishaq Ibnu Rahwiyah rahimahullah, “Kaum muslimin telah berijma’ bahwa siapa saja yang mencaci Allah atau Rasul-Nya, atau menolak sesuatu yang telah diturunkan Allah, maka sesungguhnya dia itu adalah kafir dengan hal itu meskipun dia itu mengakui semua yang telah diturunkan Allah.” Al Imam Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy rahimahullah berkata : “Sesungguhnya orang-orang yang mengikuti qawaaniin wadl’iyyah (undang-undang buatan) yang disyari’atkan oleh syetan lewat lisan-lisan wali-walinya yang bertentangan dengan apa yang telah disyari’atkan Allah SWT lisan-lisan para Rasul-Nya – semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka – sesungguhnya tidak ada yang meragukan akan kekafiran dan kemusyrikan mereka kecuali orang yang bashirahnya telah dihapus oleh Allah dan dia itu dibutakan dari cahaya wahyu-Nya seperti mereka.” Inilah keyakinan Ahlus Sunnah di dalam masalah ini yang sangat jelas, sejelas matahari di siang bolong.” 2. Dan diantara mereka ada yang tidak cukup dengan menolak saja, sehingga dia menolaknya dengan perkataan dan perbuatan. Dia berdakwah dan berjuang serta mengorbankan jiwanya demi menolong kebenaran dan para pengikutnya, dan demi menerapkan syariat Allah di bumi ini. 3. Diantara mereka – dan dia adalah seburuk-buruk manusia – ada yorang yang menerima apa yang dibawa oleh para pengubah dan pengganti (syariat Allah), mereka pun menerimanya, mengikuti dan membantu mereka, apa yang dihalalkan mereka, mereka pun menghalalkannya dan apa yang diharamkan oleh para pengganti (hukum Allah) tersebut mereka pun mengharamkannya. Mereka ini adalah orang-orang yang menyekutukan Allah di dalam ketaatan atau ketundukan atau pensyariatan walaupun mereka itu berpuasa, melakukan shalat, dan mengklaim diri mereka muslim. Dan kemusyrikan ini termasuk syirik akbar – kita memohon perlindungan kepada Allah darinya -, dan telah ada pada nash-nash syariat penjelasan bahwa menerima hukum yang bertentangan dengan hukum Allah merupakan penyekutuan terhadap Allah Yang Maha Agung. Diantaranya adalah firman Allah SWT: “Sesungguhnya syaitan itu membisikan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kami tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Qs: Al-An’aam:121) Telah diterangkan di dalam penafsiran ayat ini bahwa wali-wali syaitan mendebat kaum muslimin di dalam penghalalan (mereka) terhadap bangkai, mereka berkata kepada kaum muslimin sebagai pengingkaran terhadap mereka: “Apa yang kalian sembelih sndiri kalian halalkan, dan sembelihan Allah (yakni bangkai) kalian haramkan? Maka Allah SWt berfirman kepada mereka: “Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyik.” (Qs: Al-An’aam:121) Maka seandainya kaum muslimin mentaati mereka di dalam penghalalan apa yang diharamkan Allah, mereka menjadi orang-orang musyrik. Dan diantaranya lagi adalah firman Allah SWT: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (Qs. At-Taubah:31) Tafsir ayat ini telah ada dalam hadist yang diriwayatkan oleh ‘Adi Ibnu Hatim yang akan diterangkan nanti, didalamnya diterangkan bahwa mereka mengikuti (para pendeta mereka) di dalam pensyariatan yang bertentangan dengan syariat Allah, maka Allah menghukumi mereka dengan status musyrik. Dan kedua ayat ini sering dipadukan oleh para ahli tafsir, maka ketika seorang mufassir menafsirkan salah satu darinya, maka ia memadukannya dengan ayat yang satunya lagi karena kesamaan makna. Ibnu Katsir didalam menafsirkan firman-Nya. “Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Qs: Al-An’aam:121) “Dikarenakan kalian berpaling dari perintah Allah dan syari’at-Nya kepada selain-Nya sehingga kalian mengutamakan perkataan itu atas syari’at-Nya, maka ini adalah perbuatan syirik (besar). Seperti firman-Nya Azza wal jalla : “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (Qs At-Taubah:31) At-Tirmidzi meriwayatkan di dalam tafsirnya dari ‘Adiy bin Hatim, bahwasannya dia berkata: “Wahai Rasulullah, mereka tidak menyembah para pendeta-pendeta mereka.” Maka Rasulullah bersabda: “Ya (mereka itu menyembahnya), sesungguhnya mereka menghalalkan bagi mereka apa yang haram, dan mengharamkan atas mereka apa yang halal dan mereka pun mengikutinya maka itulah bentuk ibadah mereka kepada para pendeta mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2 171) Dan telah kami nukilkan tadi dari perkataan Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithy : “Dan dari ayat-ayat ini dipahami sebagaimana firman-Nya. “Dan tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (Qs Al-Kafhi:26) Bahwa orang-orang yang mengikuti hukum-hukum para pembuat syariat selain yang disyariatkan oleh Allah, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang musyrikin terhadap Allah.” Sampai beliau berkata : Dengan nash-nash samawi¬ yang telah kami sebutkan ini jelaslah dengan sejelas jelasnya : “ Sesungguhnya orang-orang yang mengikuti qawaaniin wadl’iyyah (undang-undang buatan) yang disyariatkan oleh syetan lewat lisan-lisan wali-walinya yang bertentangan dengan apa yang telah disyariatkan Allah SWT lewat lisan para Rasul-Nya – semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka – sesungguhnya tidak ada yang meragukan akan kekafiran dan kemusyrikan mereka kecuali orang-orang yang bashirahnya telah dihapus oleh Allah dan dia dibutakan dari cahaya wahyu-Nya seperti mereka.” (Saya mendapatkan risalah yang bagus sekali, milik Syaikh Abdurrahman Ibni Abdul ‘Aziz As-Sudais, dengan judul “Al-Haakimiyah” yang terkumpul didalamnya perkataan-perkataan Al-Allamah Muhammad Al-Amin Asy-Syinqity tentang masalah ini) Disebutkan didalam fatwa Lajnah Daimah Lil Buhuts Al’ Ilmiyyah Wal Ifta : Soal: “Apakah perbedaan antara syirik akbar dengan syirik asghar dari segi pengertian dan hukum-hukumnya?” Jawab: “Syirik akbar adalah manusia menjadikan tandingan bagi Allah, baik dalam Asma dan Sifat-Nya atau ia menjadikan tandingan bagi-Nya didalam ibadah ataupun ia menjadikan tandingan bagi Allah di dalam tasyri’ (pensyariatan/penetapan hukum) yakni menjadikan seseorang sebagai pembuat syariat baginya selain Allah atau (menjadikan sebagai) sekutu bagi Allah di dalam pensyariatan, ia ridha dengan hukumnya dan ia berpegang kepadanya didalam penghalalan dan pengharaman, dalam rangka ibadah, taqarrub, pengadilan, dan penyelesainnya dalam perselisihan, atau ia menganggapnya halal (berhukum dengannya) walaupun ia tidak memandangnya sebagai agama. Dan di dalam hal ini, Allah SWT berfirman tentang orang-orang Yahudi dan Nashrani : “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka menuhankan) Al Masih putra Maryam; Padahal mereka hanya disuruh menyembah illah yang Maha Esa; Tidak ada Illah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs: At-Taubah:31) Dan yang semisal dengan ini dari ayat-ayat dan hadist-hadist yang menerangkan tentang ridha dengan hukum selain hukum Allah atau menolak untuk berhukum kepada hukum-Nya dan menyimpang dari-Nya, maka ketiga bentuk syirik ini adalah syirik akbar yang melakukannya atau yang meyakininya keluar dari agama Islam. Dan termasuk dari bentuk-bentuk kemusyrikan modern di dalam ketaatan, ketundukan, atau pensyariatan yang tidak dipahami oleh kebanyakana manusia, adalah apa yang dinamakan pada zaman sekarang ini dengan demokrasi atau sistem demokrasi. 4. Diantara mereka ada yang keyakinannya masih benar tentang syariat Allah dan Rasul-Nya, yang halal menurut dia adalah apa yang dihalalkan oleh syariat dan yang haram menurut dia adalah apa yang diharamkan oleh syariat, akan tetapi dia mentaati orang-orang yang mengganti dan merubah (hukum Allah) bahwa itu merupakan perbuatan maksiat, maka bagi mereka dikenakan status hukum orang-orang yang semisal mereka dari kalangan ahli dzunub (pelaku dosa), akan tetapi mereka ditakutkan – dengan bergulirnya masa – hali itu menggiring mereka kepada perubahan dari lingkungan Islam kepada lingkungan kekufuran, Wal’iyadzubillah. Dan dari sini jelaslah bagi kita bahwa pembicaraan tentang berhukum dengan selain apa yang diturunkan olehALlah SWT, menjelaskan tentang dua kelompok manusia 1. Kelompok para penguasa/para hakim atau para pembuat syari’at/hukum/1. Kelompok para penguasa/para hakim atau para pembuat syari’at / hukum / perundang-undangan dengan selain apa yang diturunkan oleh Allah Azza wa jalla. 2. Kelompok orang-orang yang menerima dan mengikuti hukum yang bertentangan )dengan hukum Allah) atau (menerima) syariat pengganti, dan ini menunjukkan bahwasannya wajib bagi rakyat untuk menolak apa yang ditetapkan oleh para pembuat syariat yang bertentangan dengan hukum-hukum syariat Allah SWT mengingkarinya, dan tidak menerimanya, atau (wajib untuk) tidak tunduk kepadanya. Masing-masing sesuai dengan kemmapuan dan kekuatannya, itu dikarenakan menerima hukum-hukum yang bertentangan dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, ridha dengannya, mengikutinya dan tidak mengingkarinya, menyebabkan dia keluar dari agama islam, Na’udzubillahi Min Dzalik. (Dari kitab Innallah Huwal hakam, Muhammad Syaki Asy-Syarif, Hal. 120-126, Daarul Wathan Linassyr, cet. 1/1413 H) Namun menurut Murji’ah atau orang-orang yang terpengaruh olehnya bahwa pemerintahan semacam itu adalah terkena hukum kufrun duna kufrin, selama masih meyakini Islam adalah yang paling benar dan tidak menghalalkan berhukum dengan selain hukum Allah SWt atau tidak mengingkari hukum-Nya. Orang –orang Murji’ah sekarang ini dengan mengklaim dirinya paling sesuai sunnah, mereka mengomentari perkataan para ulama Sunnag yang sudah jelas-jelas memvonis kafir para penguasa yang membabat syari’at Islam. Mereka mengomentarinya, menta’liqnya, menafsirkannya sesuai hawa nafsu mereka, kemudian setelah itu mengatakan dan meneriakkan, “ Ini (maksudnya penafsiran mereka atas perkataan para imam) adalah mahdzab salaf”, terus mereka menghukumi orang yang berseberangan dengan mereka sebagai orang-orang Khawarij dan Takfiriy. Pengikut paham ini pun semakin merebak dan meluas tanpa mereka sadari. Hal ini dikarenakan para pengekor itu, telah terkena penyakit orang awam yaitu mengangkat sosok seseorang sebagai acuan di dalam segala hal, selain Rasulullah SAW. Mereka menganggap bahwa si Fulan itu mana mungkin sesat. Dan yang lebih mengenaskan lagi dan sangat memalukan serta mengerikan, mereka meyakini tidak fair dan tidak murtadnya para penguasa yang membabat syari’at. Keyakinan seperti itu mereka nisbatkan kepada Ibnu Abbas dan Abu Mijlaz As’Saduusiy, sebab keduanya mengatakan kufrun duna kufrin. Perumpamaan mereka ini tak jauh dengan tokoh paling terdepan di dalam Islam liberal yang pernah mengatakan bahwa orang Yahudi dan Nashrani yang sekarang juga mungkin masuk surga dengan berdalih dengan berdalih dengan surat Al Baqarah ayat 62. sepintas seolah betul, kalau tidak dikembalikan kepada sebab nuzulnya. Padahal ayat ini sedang berkenaan dengan status orang-orang Yahudi dan Nashrani sebelum datang Islam. Jadi, perkataan kurun duna kufrin kalau tidak dikembalikan kepada wurudnya, tentu hasilnya seperti itu. Padahal perkataan ini diucapkan oleh Ibnu Abbas di kala datang khawarij yang mengkafirkan penguasa Daulah Bani Umayyah. Ibnu Abbas mengetahui permasalahan dan situasi yang ada di mana Bani Umayyah teteap menerapkan syari’at Islam dan mereka tetap berjihad untuk menegakkan kalimat Allah Swt. Namun sebagian mereka bertindak dhalim / menyimpang di dalam kasus tertentu dari hukum semestinya. Sedangakan di dalam kamus orang Khawarij, bahwa penguasa yang dhalim / menyimpang adalah kafir. Oleh karena itu, Ibnu Abbas mengatakan pernyataan seperti itu (kufrun duna kufrin). Begitu juga Abu Mijaz. Jadi masalahn ya bukanlah atsar ini shahih, tetapi penempatan pernyataan ini tepat atau tidak? Dan sebenarnya perkataan mereka (Murjiah) ini tidak aneh bagi orang yang mengetahui manhaj mereka, karena di dalam kamus mereka, tidak ada yang namanya kufur akbar yang bersumber dari amal atau meninggalkan. Mereka hanya kembali kepada masalah juhuud (pengingkaran) dan istihlaal (menghalalkan yang haram). Di dalam kamus mereka juga, tidak ada yang namanya talaazum antara dhahir dengan bathin, sehingga menurut orang Murji’ah, bila orang yang meyakini tauhid dengan hatinya dan mengucapkannya dengan lisan, meskipun meninggalkan seluruh syari’at dan melaksanakan seluruh keharaman, maka orang itu tetap mukmin, sempurna imannya menurut Murji’ah dahulu (karena mereka mengeluarkan amal dari definisi iman) dan disebut mu’min yang kurang imannya menurut Murji’ah sekarang yaitu Murji’ah fuqahaa (karena mereka memasukkan amal di dalam definisi iman ), namun di dalam realita penjelasan dan penjabarannya, mereka mengatakan bahwa amal itu adalah syarat kesempurnaan iman. Sehingga orang yang jahil terpedaya dengan definisi itu dan membelanya secara membabi buta. Padahal kalau kenyataannya seperti itu, mana ada syarat kesempurnaan dimasukkan ke dalam definisi!! Sungguh orang Murji’ah dahulu lebih pandai didalam definisi dan komitmen dengannya. Lain halnya dengan Murjiah sekarang yang tidak karuan, tetapi hal ini tidak heran, karena kalau menyelisihi Ahlus Sunnah secara frontal di dalam definisi, tentu terlalu ketahuan dan tidak bisa mengaku bahwa dirinya pengikut sunnah. Karena itu, mereka lakukan secara talbis. Selakyaknya, janganlah anda terkecoh dengan penampilan luar mereka yang intisab kepada sunnah atau salaf. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Dan banyak dari kalangan mutaakhkhirin, tidak (bisu) membedakan antara perkataan-perkataan salaf dengan perkataan Murji’ah dan Jahmiyyah, karena berbaurnya (perkataan) ini dengan yang itu di dalam kebanyakan perkataan mereka, dari kalangan orang-orang yang di bathinnya berpendapat seperti perndapat Jahmiyyah dan Murji’ah di dalam masalah iman. Sedangkan dia itu mengagungkan salaf dan Ashabul Hadist, sehingga dia mengira bahwa dia mampu menggabungkan antara keduanya atau menggabungkan antara perkataan orang-orang yang seperti dia dengan perkataan salaf” Jadi tidak heran kalau mereka mengatakan bahwa para penguasa yang membabat syari’at Islam dan membuat undang-undang yang bertentangan dengan Islam itu, tidak kafir selama tidak juhuud dan istihlal. Padahal orang yang hanya yakin tentang tauhid dengan hati dan mengucapkan dengan lisan saja, tanpa mengamalkan sedikit pun syari’at Islam, sedang dia memungkinkan untuk melakukannya, maka dia itu adalah murtad menurut ijma’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Al Imam Muhammad Ibnu Idris Asy Syafi’iy rahumahullah berkata, “Adalah Ijma dari para sahabat dan para tabi’in sesudahnya serta orang-orang yang kami dapatkan, semua mengatakan, “Iman itu adalah ucapan, amal, dan niat, salah satu dari yang tiga itu tidak mencukupi (syah), kecuali dengan yang lainnya” Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Hanbal berkata, “ Al Humaidiy telah memberitahu kami, beliau berkata, “Dan saya diberitahu bahwa ada segolongan orang mengatakan, “Siapa yang mengakui shalat, zakat, shaum, dan haji, dan dia tidak melakukan sedikit pun dari amalan-amalan itu hingga mati, dan dia itu shalat dengan membelakangi kiblat hingga mati, maka dia itu adalah orang mukmin selama dia tidak mengingkari (itu). Bila dia mengetahui bahwa meskipun meninggalkan itu semua dia tetap memiliki iman apabila dia mengakui akan hal-hal yang difardlukan dan (mengakui harusnya) menghadap kiblat. “Maka saya berkata, “Ini adalah kekafiran yang sangat jelas dan meyalahi Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya serta ulama kaum muslimin, Allah SWT berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” Dan Hanbal berkata, “Saya mendengar Abu Abdillah Ahmad Ibnu Hanbal berkata, “Siapa saja yang mengatakan hal ini, maka dia telah kafir kepada Allah dan menolak perintah-Nya dan menolak apa yang dibawa oleh Rasul dari Allah.” Hendaklah takut orang yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan seluruh syari’at Islam itu adalah tidak kafir, bila dia bertauhid yang murni. Lantas apa ada tauhid dari orang semacam itu, lihat hukum sesat dari para ulama atas orang yang berpendapat seperti itu. Al Imam Muhammad Ubnu Nashr Al Marwaziy rahimahullah berkata, “Siapa saja yang pada dhahirnya adalah (melakukan) amalan-amalan Islam dan (amalan-amalan) itu tidak kembali kepada keyakinan iman terhadap yang ghaib, maka dia itu adalah munafiq dengan kemunafikan yang mengeluarkan dari agama ini. Dan siapa saja yang tali keyakinannya itu adalah iman kepada yang ghaib, sedang dia sama saja tidak mengamalkan hukum-hukum keimanan dan syari’at-syari’ay Islam, maka dia itu adalah kafir dengan kekafiran yang tidak ada tauhid bersamanya.” Al Imam Al Aaajurij rahimahullah berkata, “Amal-amal jawaarih (amalan-amalan dhahir) merupakan tashdiq (pembenaran) dari keimanan dengan hati dan lisan. Siapa sja yang tidak membenarkan keimanan itu dengan amalannya, seperti thaharah, shalat, zakat, shaum, haji, jihad dan yang lainnya, dan dia justru ridla bagi dirinya dengan hanya ma’rifah dan ucapan tanpa adanya amalan, maka dia itu tidaklah beriman, dan ma’rofah berikut ucapannya itu tidak bermanfaat baginya, serta meninggalkan (seluruh) amalannya itu merupakan takdzib (pendustaan) terhadap imannya itu. Jadi amalan sesuai yang kami jelaskan itu adalah tashdiq (pembenaran) atas imannya, camkanlah ini. Ini adalah madzhab ulama-ulama kaum muslimin baik dahulu maupun sekarang. Siapa saja yang mengatakan selain itu, maka dia itu adalah orang Mur’jiah yang busuk. Jagalah agamamu darinya dan dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah SWT, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya di dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang hanya mencukupkan dengan keyakinan dan mengucapkan dua kalimah syahadat, namun dia meninggalkan seluruh amalan adalah orang kafir, beliau berkata, “Karena sesungguhnya Allah tatkala mengutus Muhammad sebagai Rasul kepada makhluk, maka kewajiban atas makhluk adalah membenarkan apa yang dia beritakan dan menaatinya di dalam apa yang diperintahkannya dan pada saat beliau belum memerintahkan mereka untuk shalat yang lima waktu, shaum ramadlan dan haji ke Baitullah dan beliau tidak mengharamkan khamar, riba dan lain sebagainya atas mereka, serta mayoritas Al Qur’an pun belum turun. Siapa yang membenarkannya saat itu terhadap apa yang turun dari Al Quran serta mengakui apa yang diperintahkan atas mereka berupa dua kalimah syahadat dan hal-hal yang mengikutinya, maka orang itu adalah orang mukmin yang sempurna imannya yang wajib atas dia, dan bila dia itu membawa keimanan semacam iyu (maksudnya iman di hati dan pengakuan dengan lisan) setelah hijrah tentu tidak diterima darinya dan bila dia hanya membatasi diri atas (iman semacam) itu maka dia itu telah kafir.” Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan bahwa tauhid itu harus dengan hati, lisan dan amal. Bila salah satu dari yang tiga ini tidak ada, maka orang itu bukanlah orang muslim. Dan bila dia tidak mengetahui tauhid, namun tidak mengamalkannya, maka dia itu adalah kafir mu’aanid (yang membangkang), seperti Fir’aun, Inlis dan sebangsanya.” Syaikh Shalih Al Fauzan hafidhahullah berkata, “Dan bila dia tidak beramal sesuai dengan tuntutan Laa Illaaha Illallah dan justru dia merasa cukup dengan sekedar mengucapkannya atau melakukan hal bertentangan dengannya, maka sesungguhnya dia itu dihukumi murtad dan diperlakukan lauaknya orang-orang murtad.” Dan masih banyak penyataan ulama sunnah yang senada dengan pernyataan-pernyataan itu. Setelah kita mengetahui status penguasa yang ada pada umumnya, maka bukan maksudnya kita harus langsung khuruj terhadap mereka, karena khuruj, itu ada syaratnya yaitu kemampuan (istitha’ah) dan pertimbangan mashlahat. Tetapi anehnya, orang-orang yang sudah mengetahui quwaniin wadl’iyyah itu adalah kuffar murtaddun, namun mereka justru ikut andil didalamnya dan senang duduk berdampingan dengan mereka dengan dalih ishlah dan perbaikan serta merta mereka meneriakkan demokrasi, sehingga mereka itu dikhawatirkan terjatuh menjadi bagian dari thaghut. Syaikh Muhammad Abdul Hadiy AL Mishriy berkata, “Dan thaghut macam ini (syirik tha’at dan ittiba) bisa berupa penguasa, hakim, dukun atau bisa juga berupa lembaga tasyri’iyyah (legilslatif), undang-undang, adat kebiasaan, taqaalid (hukum adat), ‘urf, Majlis (Dewan) Perwakilan, parlemen, qawaaniin (undang-undang), dasaatsiir (peraturan-peraturan), hawa nafsu, …” Apakah mungkin memperjuangkan Islam dengan atau lewat sistem syirik dan kafir. Bukankah Rasulullah SAW adalah tauladan, beliau ditawari untuk menjadi raja oleh orang-orang musyrikun dengan syarat ikut sistem mereka (meninggalkan dakwah tauhid), namun beliau menolaknya. Padahal yang namanya raja, ia memiliki wewenang yang luas. Bisa saja beliau memanfaatkan jabatannya untuk menyebarkan Islam, namun beliau menolak dikarenakan mengetahui bahwa hal itu bertentangan dengan tauhid dan itu adalah pertanda akan kekufuran. Sedangkan ridla akan kekufuran adalah kekufuran. Hendaklah mereka bertaubat kepada Allah SWT dengan cara meninggalkannya dan jauh darinya, karena merasa bersalah didalam perbuatan syirik tidak ada artinya kalau masih melakukannya dan bermukim di dalam kemusyrikan itu. Apa artinya orang yang mengatakan bahwa meminta kepada orang yang sudah mati itu adalah syirik, namun dia ikut melakukannya. Takutlah akan firman Allah SWT tentang orang-orang seperti mereka, “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu melanggar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok (oleh orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya kamu (kalau berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafiq dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (An Nisaa : 140) Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan “ Karena sesungguhnya kamu (kalau berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” ,”Sesungguhnya kalian bila melanggar larangan setelah sampai kepada kalian dan kalian ridla duduk bersama mereka di tempat yang di dalamnya ayat-ayat Allah diperolok-olok dan dilecehkan dan kalian mengakuinya atas hal itu, maka berarti kalian telah bertatus sama di dalam apa yang mereka ada di dalamnya.” Terus ketika menafsirkan “Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafiq dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” beliau berkata, “Sebagaimana mereka (orang-orang munafiq) andil bersama mereka (orang-orang kafir) di dalam kekufurannya, maka begitu juga Allah menyamakan mereka semuanya di dalam kekekalan di Jahannam selama-lamanya,” Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata ketika ditanya tentang ayat ini : ‘Sesungguhnya makna ayat ini adalah sesuai dhahirnya yaitu bahwa bila seseorang mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok, terus dia duduk bersama orang-orang kafir yang memperolok-olok tanpa dipaksa, tanpa pengingkaran, dan tidak meninggalkan mereka sampai mereka memindahkan pembicaraan kepada pembicaraan lain, maka dia itu kafir seperti mereka meskipun tidak melakukan apa yang mereka lakukan, karena itu mengandung kerelaan dengan kekufuran, sedangkan rela dengan kekufuran adalah kekafiran dengan dalil ayat ini dan yang lainnya, (dengan ayat ini) para ulama berdalil bahwa orang yang ridla dengan perbuatan dosa adalah sama dengan pelakunya, kemudian bila dia mengklaim bahwa dia membenci hal itu dengan hatinya, maka itu tidak diterima, karena hukum itu dikenakan atas dhahirnya, sedangkan dia telah menampakkan kekufuran, maka dia menjadi kafir. Bukankah sistem yang menyerahkan segala hukum dan kepurusan di dalam segala hal kepada rakyat adalah syirik di dalam rububiyah yaitu di dalam hukum-Nya. Bukankah ikut andil di dalam kemusyrikan itu adalah syirik juga, meskipun hati tidak suka akan hal itu. Bukankah sistem demokrasi sekuler dan yang lainnya itu adalah syirik. Syaikh Muhammad Abdul Hadiy Al Mishriy berkata, “Sesungguhnya Sekuler ringkasnya adalah sistem thaghut, jahily, kafir, bertentangan dan berseberangan dengan syahadat Laa Illaaha Illallah dari dua sisi : Pertama : Sisi karena berhukum dengan selain apa yang telag diturunkan Allah. Kedua : Sisi karena syirik dalam ibadah kepada Allah. Bukankah duduk di sana merupakan duduk di majlis, yakni suati tempat yang Allah SWT dan ayatnya diingkari dan diperolok-olokan, walaa dan baraa itu (tak) diterapkan bila dia masuk kepada sistem syirik. Adakah yang berani di antara orang-orang yang katanya memperjuangkan Islam lewat sistem itu untuk berkata kepada Majlis di depan sidang “Sesungguhnya sistem ini kafir jahiliyyah, kalian semua harus bertaubat kepada Allah SWT dan cepat tegakkan syari’at Islam secara menyeluruh dan bubarkan sitem syirik ini.” Katakan kepada kami, bagaimana pendapat anda bila ada penguasa yang berkata kepada anda, “Saya jamin negara ini menerapkan hukum Islam dan saya konsisten dengan janji saya ini, namun dengan syarat anda kafir terlebih dahulu!” Bagaimana sikap anda, seandainya anda orang muslim muwahhid, maka tentu akan menolak tawaran itu, meskipun jaminannya sangat besar. lalu bagaimana dengan orang yang rela masuk kepada sistem syirik / kafir di dalam rangka meraih sesuatu yang tidak mungkin tercapai dan tidak ada jaminan dengan kerelaan hatinya? Bila anda berkilah, “Kalau kami tidak ikut duduk dengan mereka, tentu kursi penuh oleh orang-orang kafir dan umat Islam tidak dapat kursi!” Sungguh mengherankan mengapa umat Islam berselera dengan kursi kekufuran. Apakah anda yakin ketika anda duduk di sana, anda masih bisa berstatus sebagai orang Islam ? Islam tidak mungkin tegak dengan jalan kekufuran dan kemusyrikan. Inagtlah perkataan para ulama tadi, bahwa nama Islam yang dia sandang, shalat, shaum, haji yang dia lakukan, tidak manfaatnya. Ini syarat, bahwa kaum murtaddin itu merasa dirinya masih Islam, sehingga dia masih aktif shalat dan yang lainnya, padahal dia sudah bukam Islam lagi. Namun dia tidak merasa dirinya sudah murtad, sebab kalau merasa dirinya sudah murtad dan dia mengetahui bahwa amalannya tidak ada artinya, tentu dia tidak akan shalat lagi. Oleh sebab itu, Abul Wafaa Ibnu ‘Uqail rahimahullah berkata, “Bila ingin mengetahui posisi Islam di tengah-tengah manusia zaman sekarang ini, janganlah anda melihat pada berjubelnya mereka di pintu-pintu mesjid dan jangan pula melihat gemuruhnya mereka dengan labbaik (ibadah haji), tapi lihatlah pada kebersamaan (keserasian) mereka dengan musuh-musuh syari’at.” Syaikh Shalih Al Fauzan berkata, “Berintima (bergabung) dengan aliran-aliran ilhadiyyah seperti Komunisme, Sekularisme, Kapitalisme dan aliran-aliran kekafiran lainnya adalah kemurtadan dari agama Islam, terus bila ternyata orang yang berintima kepada aliran-aliran itu mengaku Islam, maka ini adalah bagian dari kemunafikan akbar.” Masa sekarang ini, orang-orang lebih mengetahui dan lebih hati-hati akan maksiat daripada perbuatan syirik, sehingga bila melihat perbuatan maksiat dilakukan langsung ghirah keIslamannya naik, ini baik, tapi mengapa bila mereka melihat perbuatan syirik dilakukan, tak ada rasa ghirah sedikitpun, bahkan banyak sekali orang yang berteriak-teriak akan penegakkan syari’at, namun justru banyak dari mereka itu bergelimang di dalam kemusyrikan. Tentunya, bila Islam tegak, merekalah yang akan terlebih dahulu terkena hukuman. Syaikh Ishaq Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Abdil Wahhab rahimahullah berkata, “Dan dia antara yang sudah maklum adalah bahwa sesungguhnya orang yang berkasih sayang dengan seseorang, tentu dia ridla dengannya dan bila dia ridla dengannya, tentu dia ridla dengan agamanya, sehingga dia tergolong pemeluk agamanya tanpa dia sadari, karena mayoritas manusia lebih hati-hati akan maksiat dan segala jalan-jalannya, namun tidak hati-hati akan syirik dan jalan-jalannya.” Biarlah tempat kekufuran itu dipenuhi orang-orang kafir asli, agar permusuhan Islam dan kafir tampak jelas, tidak samar, sehingga walaa dan baraa itu bisa ditegakkan dan Islam diperhitungkan. Islam apa yang akan ditegakkan, bila para peneriak suara Islam itu justru orang-orang yang suka meminta ke kuburan, percaya kepada azimat, kultus kepada tokoh, nasionalis, sekuler dan lain sebagainya. Contoh yang jelas adalah pernyataan sebagian orang yang katanya mengaku dirinya muslim, namun mengatakan kepada orang-orang nashrani, bahwa mereka adalah saudara kita atau ucapannya, “Saudara-saudara kita dari agama nashrani,” atau ucapannya “Supaya intikhab ini berjalan secara demokratis,” Mungkinkah ucapan itu bersumber dari seseorang yang paham akan makna laa illaaha illallah? Syaikh Muhammad Asy Syakir berkata, “Dan diantara bentuk syirik modern di dalam tha’at (taat) atau inqiyad (ketundukan) atau tasyri’ (pembuatan hukum) yang terkadang banyak manusia tidak begitu peduli (tahu) terhadapnya adalah apa yang dinamakan pada masa sekarang dengan istilah demokrasi atau sistem demokrasi.” Padahal mengetahui dan benci akan syirik, tidaklah berfaidah bila dia bermukim bergandeng tanga didalamnya. Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata, “Seseorang itu tidak berstatus sebagai muwahhid, kecuali dengan menafikan syirik, berlepas (baraa) darinya dan mengkafirkan orang yang melakukannya.” Pelajarilah makna Laa Illaha Illallah dengan benar, karena itu adalah inti dakwah para Rasul, penuhilah syarat-syaratnya yang tujuh itu, karena tanpa memenuhi syarat yang tujuh itu pengucapan Laa Illaha Illallah itu tidak ada manfaatnya di akhirat. Bila orang yang telah mengucapkan Laa Illaha Illallah terus dia melakukan syirik besar, maka tidak ke luar dari dua keadaan, yaitu bila dia tidak mengetahui bahwa yang dilakukannya itu syirik, berarti sebenarnya dia itu selama ini belum Islam atau dia itu kafir asli. Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan rahimahullah berkata, “Dan ketidaktahuan akan syirik (menunjukkan) tidak tercapainya sedkitpun dari apa yang dituntut oleh Laa Ilaaha Illallaah. Dan orang yang tidak merealisasikan makna kalimat ini dan kandungannya, maka sama sekali dia itu bukan bagian dari Islam ini, sehingga mereka itu tidak masuk ke dalam Islam dengan sebab mereka tidak mengetahui akan madlul kalimah itu, sedangkan Syaikh kami tidak sependapat atas hal itu. Mishbahudh Dhalaam Fir Radd ‘Alaa Man Kadzaba ‘Alaa Asy Syaikh Al Imam 23, dari Dlawabithur Takfir Abdullah Al Qarniy 236. Syaikh Ali Khudlair mengatakan : Telah ada dari para Aimmah dakwah penentuan status orang yang mati di atas syirik sebelum ada dakwah mereka bahwa hukumnya sama dengan hukum kafir asliy dalam hal harta, warisannya tidak boleh dido’akan, dan yang lainnya. Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab berkata di akhir kitab Kasyfusysyubuhat : Tidak ada perbedaan bahwa tauhid itu harus dengan hati, lisan dan amal, bila salah satunya tidak ada maka dia itu kafir murtad……dan bila dia mengamalkan tauhid secara amal dhahirnya saja sedang dia tidak memahaminya atau dia tidak meyakini dengan hatinya maka dia itu munafiq, dan dia itu lebih jahat daripada kafir murni. Dan yang benar menurut saya (Al Ali Khudlair) adalah ada rincian : 1. Orang yang mati di atas syirik pada zaman-zaman fatrah dan sebelum munculnya dakwah tauhid serta hujjah belum sampai kepadanya, maka ini di perlakukan layaknya kafir asliy, sebagaimana yang difatwakan oleh para Aimmah dakwah tentang orang-orang yang mati sebelum ada dakwah mereka saat mereka ditanya tentang mereka. 2. Orang jahil yang melakukan syirik sedang hujjah sudah sampai kepadanya dikarenakan dia hidup di tengah-tengah kaum muslimin, maka ini diberi nama dan hukum murtad sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abdullathif. 3. Orang yang beragama syirkiyyah watsaniyyah dan tumbuh di atasnya semenjak kecil seperti Rafidlah Nushairiyyah, Darziyyah, Jahmiyyah murni, maka orang ini Wallahu a’lam dihukumi sebagai kafir asliy bukan murtad. Dan dia berstatus sama dengan orang yang beragama syirkiyyah sedangkan dia itu berintisab kepada agama yang dia kira benar seperti ahli kitab sekarang (kedua orangtuanya menjadikan dia yahudi, atau nasrani, atau musrik). Ini adalah sebagian perkataan Ash Shan’aniy yang lalu dan sebagian perkataan orang-orang yang beliau nukil darinya, yang di mana mereka itu adalah sejumlah ulama sebagaimana yang beliau katakan. (lihat Juz Fi Ahlil Ahwaa Wal Bida’ Wal Muta’awilin 16 ) Karena dia tidak mengucapkan kalimat ini dan kandungannya dari dasar ilmu, keyakinan, kejujuran, keikhlasan, mahabbah, penerimaan dan ketundukan.” Al Imam Ash Ahan’aniy rahimahullah berkata tentang orang yang melakukan syirik karena kejahilan, “Bila anda berkata, “Mereka itu tidak mengetahui bahwa mereka itu musyrik dengan apa yang mereka lakukan.” Maka saya katakan, “Para Fuqaha telah menetapkan di dalam kitab-kitab fiqh di dalam Bab Riddah (Murtad), bahwa orang yang mengucapkan kalimat kekufuran, maka dia itu kafir, meskipun tidak ada maksud akan maknanya. Dan (yang mereka lakukan) ini menunjukkan, bahwa mereka itu tidak mengetahui hakikat Islam dan makna tauhid, sehingga mereka itu saat itu pula menjadi orang-orang kafir asli” Syaikh Shalih Al Fauzan hafidhahullah berkata, “Seandainya dia menucapkannya (laa ilaaha illallaah), sedangkan dia tidak mengetahui maknanya, maka itu tidak bermanfaat baginya, karena dia tidak meyakini makna yang dikandungnya” Kejahilan tidak bisa dijadikan udzur/ alasan di dalam syirik besar. Adapun bila yang melakukan syirik itu mengetahui bahwa itu syirik, tapi dia melakukannya, maka dia itu disebut musyrik kafir murtad mu’anid. maka dia menjawab ”Orang yang melakukan perbuatan itu adalah musyrik, perbuatannya syirik tapi Si Fulan belum tentu musyrik,” atau perkataan, “Perbuatannya syirik tapi orangnya belum bisa dikatakan musrik,” jawaban ini tentu rancu dan salah, bahkan bid’ah, orang yang mengatakan seperti itu adalah Ahmad Ibnu Abdil Karim seorang tokoh di Ahsaa pada zaman Syaikhul Islam Ibnu Abdil Wahhab, dan ketika tulisan dia itu sampai kepada Syaikhul Islam, langsung beliau kirim surat yang isinya penjelasan akan kesesatan dia karena ucapannya, (lihat Tarikh Najed 343-350) dan (Kitabut Taudlih Wa Tatimmat ‘Alla Kasyfisysyubuhat 25-26), dalam masalah syirik akbar tidak ada perbedaan antara nau’ (jenis) dan mu’ayyan (orangnya yang tertentu), lihat Hukmu Takfir Mu’ayyan (Syaikh Ishaq Ibnu Abdirrahman, Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab) dan bahkan para Aimmah dakwah telah menyatakan ijma bahwa dalam masalah syirik tidak ada udzur karena kejahilan, silakan lihat : • Kitab Mufidul Mustafid Fi Kufri Tarikit Tauhid, karya Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah, dari judulnya sudah jelas tentang takfir mu’ayyan meskipun jahil. • Fataawaa Al Aimmah An-Najdiyyah 3/188. (dari Al Mutammimah) • Ad Durar As Saniyyaa 8/118. (dari Al Mutammimah) • Ad Durar As Saniyyaa 9/405-406. (dari Al Mutammimah) • Majmu Al Fataawaa Ibnu Taimiyah 29/37-38. • Kasyfusy Syubuhat, Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab : 6 • Tarikh Najed 498 surat bantahan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab kepada Ibnu Shabah. • Ibid 474 surat bantahan kepada Ibnu Suhaim. • Ibid 263 surat bantahan kepada Muhammad Ibnu ‘Iid. • Ibid 324 surat terhadap Abdullah Ibnu Isa Qadli Dir’iyyah. • Ibid 341 surat terhadap Abdurrahman Ibnu Rabi’ah. • Ibid 304 surat kepada Ibnu Suhaim. • Ibid 274. • Ibid 346 surat kepada Ahmad Ibnu Abdul Karim • Ad Durar As Saniyyaa 10/63-74. (dari Al Mutammimah) • Majmu’atu Muallafaat Asy Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab jilid Aqidah bagian pertama hal : 363. (dari Al Mutammimah) • Tarikh Nejed 410 risalah kepada murid-muridnya. • Takfir Al Mu’ayyan karya Ishaq Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan Ibnu Abdil Wahhab. • Tarikh Najed 407. • Ibid 263. • Ad Durar As Saniyyaa 10/136-1389. (dari Al Mutammimah) • Ibid 10/142. (dari Al Mutammimah) • Ar Rasail Wal Masaail An Najdiyyah 5/576. (dari Al Mutammimah) • Ibid 1/79. (dari Al Mutammimah) • Ad Durar As Saniyyaa 10/274. (dari Al Mutammimah) • Ibid 10/336. (dari Al Mutammimah) • 11/75-77. (dari Al Mutammimah) • Fataawaa Al Aimmah An Najdiyyah 3/99. (dari Al Mutammimah) • Ad Durar As Saniyyaa 10/335. (dari Al Mutammimah) • Al Qaulul Fashl Fir Raddi ‘Alaa Dawud Ibnu Jirjiis atau Ta’siisut Taqdiis, karya Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab, buku khusus tentang bantahan akan syubhat udzur karena jahil dalam syirik akbar yang dilontarkan oleh seorang Ahlu bid’ah seperti Usman Ibnu Manshur, Dawud Ibnu Jirjis. (dari Al Mutammimah) • Kasyful Maurid Al ‘Adzb Fi Kasyfi Sybubahi Ahlidl Dlalal, karya Syaikh Abdur Rahman juga ada dalam Aqidatul Muwahhidin. • Irsyad Thalibil Hudaa, karya beliau juga. (dari Al Mutammimah) • Ar Radd ‘Alaa Ibni Manshur, karya beliau. (dari Al Mutammimah) • Risalah Fi Raddi Sybahi Ahlil Ahsaa, karya beliau. (dari Al Mutammimah) • Risalah Fi Syarhi Ashlil Islam Wa Qa’idatihi. karya beliau. • Risalah Fit Tahdzir Minat Takfir, karya beliau. (dari Al Mutammimah) • Fataawaa Al Aimmah An Najdiyyah 3/155. (dari Al Mutammimah) • Ibid 3170. (dari Al Mutammimah) • Al Intishar Li Hizbillah Al Muwahhidin, Syaikh Abdullah Aba Bithin, kitab khusus. Dan perkataannya dalam Ad Durar As Saniyyah : 10/360, 10/392-393, 10/376, 10/352, 10/355, 10/359, 12/69-70, Majmu’atur Rasaail Wal Masaail : 1/660, Ad Durar 12/72-73, Majmu’ah Ar Rasaail 1/659, 2/211-213, dan halaman lainnya. (dari Al Mutammimah) • Kitab Kasyfusy Syubhatain, karya Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman. (dari Al Mutammimah) • Kitab Kasyfusy Auham Wal Iltibas, karya beliau juga. (dari Al Mutammimah) • Kitab Tamyizushshidqi, karya beliau. (dari Al Mutammimah) • Al Jawab Al Mufid Fi Hukmi Jahil Tauhid, Abu Abdillah Abdurrahman Ibnu Abdil Humaid, kitab khusus ada dalam Aqidatul Muwahhidin. • Darajatushshaa’idin Ilaa Maqaamatil Muwahhidin Fi Ilmit Tauhid, Muhammad Ibnu Ahmad Al Hafadhiy Ibnu Abdil Qadir Al Bakriy ada dalam Aqidatul Muwahhidin. • Pernyataan Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim Alu Asy Syaikh dalam Al Fataawaa 12/198. (dari Al Mutammimah) • Ibid 12/206, dalam Qaidatul Muwahhidin. • Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Daimah 1/335, 1/765. • Fataawaa Ibni Baaz 4/26-27. • Syarh Sittati Mawaadli’ Minas Sirah, Syaikh Muhammad. • Aqaaidul Islam, Syaikh Muhammad, Rasyid Ridla. • Dan kitab-kitab lainnya. Ketahuilah bahwa hujjah itu telah tegak dan telah sampai dengan diutusnya Rasulullah  dan turunnya Al Qur’an, sehingga orang yang telah mengetahui akan adanya Muhammad  dan Al Qur’an, terus dia melakukan syirik padahal mungkin untuk mencari tauhid, maka dia adalah musyrik kafir, kafir mu’ridl bila dia itu jahil (berpaling tidak mau tahu, dan rela dengan kejahilan) atau kafir mu’aanid (mengingkari setelah mengetahui kebenaran). Adapun bayanul hujjah/fahmul hujjah ini berhubungan dengan masalah-masalah yang sifatnya khafiyyah dan yang tidak bisa diketahui kecuali dengan tersebarnya ilmu serta takfir Ahlul Ahwaa Wal Bida’. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Semua yang telah sampai Al Qur’an kepadanya baik itu manusia atau jin maka berarti telah terkena peringatan Rasulullah. Al Fataawaa 16/149. Beliau berkata juga ketika menjelaskan firman-Nya,”Laa tasma’uu li hadzal qur’an wal ghauu fiihi,” hujjah itu telah tegak dengan adanya Rasul yang menyampaikan dan adanya kemungkinan untuk mendengar dan menghayati, bukan dengan mendengarnya itu, karena di antara orang-orang kafir ada yang sengaja menghindari dari mendengarkan Al Qur’an dan dia justru memilih yang lainnya. Al Fataawaa 16/166. Beliau juga mengatakan : Sesungguhnya hujjah Allah itu telah tegak dengan Rasul-Nya dengan adanya kemungkinan (tammakun) untuk tahu, sehingga bukan termasuk syarat (tegaknya) hujjah Allah  mengetahuinya orang-orang yang didakwahi akan hujjah itu. Oleh sebab itu keberpalingan orang-orang kafir dari mendengarkan Al Qur’an dan dari mentadabburinya bukanlah sebagai penghalang dari tegaknya hujjah Allah  atas mereka, karena kesempatan (kemungkinan) itu sudah ada. Kitab Ar Radd ‘Alal Manthiqiyyin : 99. Beliau berkata lagi : Dan bila Dia memberitahukan akan adanya perintah untuk amar ma’ruf dan nahi mungkar bukanlah termasuk syarat hal itu sampainya perintah Yang memerintah dan larangan Yang melarang kepada seetiap mukallaf di alam ini disyaratkan dalam ini, karena ini bukan syarat dalam penyampaian risalah ; maka bagaimana hal ini disyaratkan dalam hal-hal yang sifatnya sebagai pelengkap ? Bahkan yang menjadi syarat adalah adanya tamakkun (kemungkinan) bagi mukallaf dari sampainya hal itu kepada mereka, kemudian bila mereka tidak sungguh-sungguh (tafrith) dan tidak mengusahakan sampainya itu kepada mereka padahal factor penentunya ada, maka tafrith itu dari mereka bukan dari yang menyampaikan. Al Fataawaa 28/125-126. Ibnul Qayyim berkata dalam kitab Thabaqatul Mukallafin di thabaqah yang ke tujuh belas sebagaimana yang dinukil oleh Syaikh Ishaq Ibnu Abdirrahman : Dan ini menunjukkan bahwa kekufuran orang yang mengikuti mereka itu hanyalah karena sebab ittiba dan taqlid kepada mereka itu. Ya…dalam masalah ini harus ada rincian yang dengan (rincian) ini semua isykal pasti hilang, yaitu adanya perbedaan antara : • Muqallid yang memiliki kemungkinan untuk tahu dan mengetahui kebenaran terus dia berpaling darinya. • Dengan muqallid yang sama sekali tidak memiliki kemungkinan untuk itu. Kedua macam muqallid ini ada pada kenyataan kehidupan : • Orang yang memiliki kemungkinan untuk mencari namun dia berpaling, maka dia itu mufarrith (melakukan kelalaian) lagi meninggalkan kewajibannya, sehingga tidak ada udzur baginya di hadapan Allah. • Adapun orang yang tidak mampu untuk bertanya dan untuk mengetahui yang di mana sama sekali dia itu tidak memiliki kemungkinan untuk mengetahui dengan cara apapun, maka golongan ini ada dua golongan : • Pertama : Orang yang menginginkan petunjuk, sangat mementingkannya dan mencintainya sekali, namun dia tidak mampu atas itu dan tidak kuasa untuk mencarinya karena tidak ada orang yang memberikan arahan kepadanya. Maka hukum orang ini adalah sama dengan ahlul fatrah dan orang yang tidak sampai dakwah kepadanya. • Kedua : Orang yang berpaling, tidak memiliki keinginan, tidak pernah membisikan dirinya kecuali dengan apa yang dia yakini sekarang saja. Orang yang merupakan kelompok pertama mengatakan : Ya Tuhanku seandainya saya mengetahui bahwa engkau memiliki agama yang lebih dari apa yang saya pegang sekarang, tentu saya telah menganutnya dan telah saya tinggalkan apa yang saya pegang sekarang ini, namun saya tidak mengetahui kecuali apa yang saya pegang sekarang dan saya tidak mampu mencari yang lainnya, inilah ujung batas usaha saya dan puncak pengetahuan saya. Adapun orang yang kedua, dia itu betah/rela dengan apa yang dia pegang, tidak pernah menginginkan/mementingkan yang lain atasnya, dan jiwanya tidak pernah mencari ajaran yang lain, tidak ada perbedaan bagi dia baik saat dia itu tidak mampu atau saat dia mampu untuk mencari. Kedua orang ini sama-sama tidak mampu, dan kelompok kedua ini tidak wajib diikutkan/disamakan statusnya dengan kelompok pertama, karena adanya perbedaan di antara keduanya. Kelompok pertama statusnya sama seperti orang yang mencari agama pada masa fatrah, terus dia tidak mendapatkannya, sehingga dia berpaling darinya dengan keadaan tidak mampu dan jahil setelah mengerahkan segenap kekuatannya dalam mencarinya. Sedangkan kelompok kedua dia itu seperti orang yang tidak mencari, bahkan dia mati
  20. PKS KAFIR……….Jamaahnya sdh murtad dari Dien Islam

    Salafi Mas’um…………….Murjiah melegalkan pemerintah yg haram

    NKRI……Negara KAFIR Republik Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s