Merindu Negara Allah

Allah menjadikan bumi ini sebagai tempat manusia untuk beribadah kepada-Nya. Maka untuk mewujudkan tujuan Allah mencipta manusia (Qs 56:51) dan menjadikan bumi ini, maka Allah merancang sistem (tata aturan, hukum atau Syari’at) dalam Diinul Islam agar manusia bisa beribadah kepada-Nya dengan contoh yang diperagakan oleh Rasul-Nya. “Dia yang telah mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan Dinul Islam agar dimenangkan atas seluruh Din yang ada, walaupun orang-orang musyrik tidak menyuakainya (Qs 48 : 28, 9 :33).

Secara logika maka kita bisa memahami bahwa bisa terlaksananya penghambaan manusia kepada Rab-nya secara sempurna dan menyeluruh dalam segala asfek kehidupan, bukan hanya ritual saja, hanyalah dalam wujud sebuah institusi yang berwenang dan berkuasa/berdaulat penuh secara de jure de facto. Yang kini disebut sebuah lembaga negara. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasul Saw dengan membentuk MADINAH (tempat tegaknya dinul Islam) di Yatsrib.

Di Wilayah Nusantara ini, ideologi/cita-cita untuk mewujudkan lembaga pengIbadahan pasca runtuhnya kekhilafahan Islam ini telah dirintis kembali oleh para pejuang Islam yang bahu membahu melawan kaum Kuffar Belanda yang menjajah wilayah ini. dari mulai Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro dll hingga HOS Cokroaminoto, SM.Kartosuwiryo dll. Dalam perkembangannya pada saat itu hingga era Revolusi pasca Proklamasi, baik itu Proklamasi RI maupun Proklamasi NII. Seluruh umat Islam yang diwakili oleh tokoh-tokohnya telah mewujudkan keseriusannya untuk membentuk Negara Allah (kita sebut demikian, karena istilah Negara islam telah dimanipulasi, dipolitisasi dan diracuni, terutama oleh KW IX al-Zaytun). Baik itu tokoh-tokoh yang tergabung dalam wadah yang konstitusional menurut istilah mereka. Seperti halnya Muhamad Natsir (Masyumi), Wahid Hasyim (NU), Agus Salim, Abdul Kahar Muzakir dll yang merumuskan Piagam Jakarta dan memperjuangkan untuk menjadikan Islam sebagai dasar Negara dalam Sidang konstituante tahun 1956 di Bandung, maupun yang berjuang dengan pola furqon sebagaimana halnya SM.Kartosuwiryo. Kita patut bersyukur, karena saat itu tokoh-tokoh Islam seragam komitmen dengan keislamannya untuk mewujudkan daulah Islamiyah.

Namun kini, hal itu tidak terjadi lagi. Tokoh-tokoh yang mengaku sebagai tokoh Islam justru menolak kalau boleh kita sebut demikian. Seperti halnya ungkapan mendiang Gus Dur yang tokoh NU, mengatakan musuh saya adalam Islam kanan, islam yang ingin menjadikan Islam sebagai dasar Negara. Kemudian Amien Rais, tokoh Muhamadiyah mengatakan bahwa tidak ada ayat dalam al-Qur’an yang menerangkan tentang wajibnya tegak Negara Islam. Begitupun Imam Masjid Istiqlal, Ali Mustofa yakub mengatakan bahwa bagi siapa saja mau menegakkan Negara Islam, maka silahkan keluar dari Indonesia dan mencari negara lain yang mau menegakkannya (TvOne-Apa Kabar Indonesia, 4/04/2011).

Padahal dalam Qs 48:28 dan Qs 9:33 diatas bahwa hanya orang-orang musyrik yang membenci Idzharnya/tegak nya al-Islam, mengapa mereka muslim bahkan tokohnya, justru bersikap seperti orang musyrik?.

Kita sebagai orang beriman tentu ingin beribadah sebagaimana Ibadah yang dikehendaki Allah dengan tata pelaksanaannya telah dicontohkan Rasul-Nya. Maka kita menyadari seruan Allah untuk melaksanakan Islam secara kaffah. “wahai orang-orang beiman masuklah kamu kedalam Islam secara menyeluruh/kaffah….(Qs 2:208). Hal itu hanya bisa terlaksana dalam wadah yang bernama NEGARA ALLAH. Bagaimana bisa kita melaksanakan islam dan hukum-hukumnya secara menyeluruh bila kita bersama-sama juga untuk melaksanakan Dasar Negara buatan manusia, yang digali dari nilai-nilai budaya nenek moyang, “Jika mereka diseru untuk menjalakankan apa-apa yang diturunkan Allah dan kepada rasulNya, mereka menjawab cukuplah apa-apa yang datang dari nenek moyang kami. Walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui dan tidak mendapat petunjuk (QS 5 : 104). “Bagimu Dinmu, Bagiku Dinku “(Qs al-Kafirun ayat 7). Disana akan terjadi sekulerisme, pemisahan antara Islam dengan Negara.

 

5 thoughts on “Merindu Negara Allah

  1. Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang sesungguhnya dalam kedudukan mereka sebagai rakyat / warga negara akan tunduk dan patuh kepada pemerintah yang sah di mana saja mereka berda, dengan kata lain mereka akan menjadi warga Negara yang baik. Sebab mereka memisahkan antara urusan agama dengan urusan dunia.

    Mereka meyakini bahwa diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semata-mata untuk membimbing dan member petunjuk dalam urusan agama, hal ini dapat dijumpai dalam firman Allah :

    “Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” Qs. Al-Isra’ : 105

    Ayat di atas menunjukkan bahwa diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam semata-mata untuk urusan agama dan tidak ada kaitannya dengan urusan dunia, hali ini ditegaskan dengan sabda beliau :

    “Kalian lebih tahu dengan urusan dunia kalian” HR. Muslim : 6277

    Ini menunjukkan bahwa untuk urusan dunia termasuk pemerintahan serahkan pada ahlinya yaitu pemerintah dan orang-orang yang ahli dibidangnya seperti para ekonom dan lainnya, untuk urusan agama kembalikan juga pada ahlinya yaitu imam dan para ulama. Jangan campur adukkan antara urusan agama dengan urusan dunia yang ada adalah kerusakan, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Ketika perkara diserahkan pada yang bukan ahlinya maka tunggulahsaat (kerusakannya)” HR. Al-Bukhari : 59

    Fenomena yang terjadi bias dipungkiri bahwa kebanyakan umat Islam saat ini merasa lebih sejahterah tinggal di Negara sekuler dari pada tinggal di Negara Islam, hal ini disebabkan dua hal;

    Sejarah telah membuktikan bahwa sebab utama kejatuhan umat Islam atau lebih tepat jika disebut Negara-negara Islam adalah karena memaksakan mencampur urusan dunia dengan urusan agama yaitu amir atau raja yang tidak cekap dan tidak bertanggung-jawab dalam urusan pemerintahan akan tetapi mereka punya otoritas penuh untuk memerintah sehingga mereka menjadi penguasa / pemerintah yang kejam dan korup.
    Di sisi lain Agama Islam sendiri sebagaimana telah disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akhibat ulah kotor para pembuat bid’ah telah berpecah belah menjadi bermacam-macam madzhab dan masing-masing madzhab merasa paling benar, sehingga bagi umat Islam yang madzabnya berbeda dengan penguasa maka dia akan ditindas dan bahkan tidak diberi kebebasan menjalankan syariat Islam sesuai dengan manhaj atau madzhabyang diyakininya, jal inilah yang dialami para ulama Ahlus Sunnah seperti Imam Ahmad yang harus mendekam dipenjara hanya karena berbeda keyakinan dengan penguasa mengenaik Al-Qur’an makhluk atau bukan makhluk, demikian pula dengan Imam Bukhari yang diusir dari tanah kelahirannya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang hidupnya keluar-masuk penjara hingga wafat di penjera, dan masih banyak yang lain-lainnya. Ironisnya hal seperti ini jarang terjadi di Negara sekuler, umumnya umat Islam terkadang malah mendapat kebebasan yang lebih dalam menjalankan ibadahnya menuntut keyakinannya tanpa khwatir diintimidasi oleh penguasa.
    Urusan pemerintah Negara yang bersangkut-paut dengan kestabilitas keamanan perekonomian dan lain-lainnya adalah urusan dunia yang juga harus diselenggarakan oleh orang yang menguasai di bidangnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam As-Syafi’Irahimahullah

    “Barangsiapa yang menghendaki dunia maka wajib atasnya ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki akhirat maka wajib atasnya ilmu” Al-Majmu’ 1 : 20

    Dan telah terbukti di Negara mana pun umat Islam yang berjamaah berada ternyata dia menjadi warga Negara yang taat dan patuh kepada pemerintah yang sah; di Indonesia, di Singapura, di Amerika, di Australia dan di seluruh belahan dunia, sebab kita yakin umat Islam yang baik adalah warga Negara yang baik.
    Semoga Allah memberikan dan menetapkan kita dalam hidayah-Nya sehingga dapat terus menetapi Dienul Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits serta berbentukJamaah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s