Profile Aku

Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarokatuh…..!

Wahai saudara-saudariku sesama makhluk 4JJI yang berstatus manusia, saya adalah manusia makhlukNYA yang merasa telah diseru oleh 4JJI untuk menjadi BUDAK NYA, “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (Qs al-Baqarah [2] : 21).

Untuk itu saya berdaya upaya bagaimana “caranya” menjadi BUDAK yang baik di mata TUANnya, untuk itu saya menamakan diri “PERINDU KEBENARAN”. Karena saya merasa belum BENAR menjadi BUDAKNYA, saya merindukan kebenaran itu tegak pada diri saya, keluarga saya, masyarakat lingkungan saya, bangsa saya dan dunia milik TUHAN saya ini.

Namun sayang saat ini “KEBENARAN” sedang teraniaya, terdzalimi dan terjajah. Dunia milik TUHAN saya ini kini sedang dikuasai THOGUT, Rajanya KEBATILAN. Thagut, sang Raja Al-Batil kini sedang menguasai IPOLEKSOSBUDHANKAM. Belum ada satu wilayah pun di muka bumi ini yang hukum positifnya adalah Hukum-hukum Tuhan saya. Maka saya akan MEMPERJUANGKANNYA>>>>>

Namun langkah-langkah PERJUANGAN ini tidak semudah yang dibayangkan, penuh liku dan kerikil….., yang akan berdarah-darah kaki kita bila tidak hati-hati menginjakkannya. Liku dan kerikil itu sengaja dibuat “sedemikian rupa” oleh musuh-musuh Allah. Mereka telah membuat “langkah-langkah” jitu untuk meredam, bahkan membasmi sekalipun langkah-langkah perjuangan ini. “Wahai orang-orang beriman, masuklah ke dalam islam secara keseluruhan/kaaffah, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syetan. Sungguh , syetan itu musuh yang nyat bagimu” (Qs al-Baqarah [2] : 208).

Karena “KEKHILAFANNYA” banyak saudara-saudara seperjuangan yang terjebak oleh langkah-langkah syetan ini, saking “halusnya” jebakan tersebut maka banyak saudara-saudara yang belum menyadari bahwa hal itu adalah JEBAKAN semata. Bahkan mereka mengira bahwa JEBAKAN itu adalah JALAN KEBENARAN, SABILILILLAH. Mereka membelanya mati-matian seakan membela kepada TUHANnya.

Diantaranya mereka mendasarkan KEBENARAN versi mereka kepada,

HAWAHU, Pemikiran pribadi, argumen manusia yang serba relatif, perasaan, filling, emosional  hingga lahirlah apa yang dinamakan PILSAFAT ISLAM, ISLAM LIBERAL, ISLAM FLURALISME, ISLAM SOSIALISME, ISLAM NASIONALISME bahkan ISLAM KOMUNISME (ingat NASAKOM versi Orde lama). Awalnya nampak seperti sebuah kebenaran, hingga untuk beberapa dekade mendapat simpati dan dukungan massa, namun akhirnya ambruk karena menyengsarakan manusia (ingat,komunis selama 70 tahun berjaya dan mendapat simpati puluhan juta manusia, namun akhirnya tumbang…). Marilah kita kaji FirmanNya Yang Maha Memprediksi, “Dan seandainya kebenaran itu menurut “keinginan” mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua  yang ada di dalamnya………(Qs al-Mu’minun [23] ; 71.

ABAAHU, kebenaran berdasarkan tradisi nenek moyang, leluhur, karuhun, pilsafat budaya bangsa warisan nenek moyang. Padahal para pelanjut ini sendiri tidak mengetahui dan tidak mau tahu dari mana nenek moyangnya menciptakan tradisi tersebut. Bahkan nenek moyangnya sendiri tidak berdasarkan “PETUNJUK” menciptkan tradisi, ajaran, budaya dan tata aturan. “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah (al-Qur’an) dan (mengikuti) Rasul (as-Sunah). Mereka menjawab, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya). Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk?” (Qs al-Maidah [4] : 105).

Kultus Individu, kebenaran bersandarkan kepada seseorang yang dianggap memiliki kharismatik, terpandang, tokoh bahkan mengkultuskannya melebihi kepada Nabi. mereka menciptakan nabi-nabi baru layaknya Musailamah al-Kadzab.“Mereka telah menjadikan para alim ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah…….”(Qs at-Taubah [9] : 31).

Berdasarkan suara terbanyak, suara terbanyak atau kebiasaan yang biasa dilakukan secara kolektif oleh mayoritas masyarakat sebagai standar kebenaran. Sehingga melahirkan istilah ‘kedaulatan di tangan rakyat” atau moto “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Sekalipun masyarkat kebanyakan tersebut atau rakyat mayoritas tersebut adalah ahlul maksiyat dan anti syari’at. “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan” (Qs al-An’am [6] ; 116).

Kebenaran berdasarkan golongan, kelompok, partai, jam’iyyah. Tiap-tiap golongan merasa bangga terhadap golongannya, dan saling mengklaim bahwa golongannya lah “Al-Jama’ah”, sebagai satu golongan yang selamat dari 72 golongan yang sesat/celaka. Mereka cenderung emosional, subjektif dalam mempertahankan argumen golongannya. Bahkan cenderung “rawan konflik” di dalam intern golongannya sendiri. Dari konflik tersebut berbuah golongan baru atau tandingan hingga semakin banyak saja pecahan-pecahan golongan. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS Ar-Rum [30] : 32, lihat pula Qs 23 : 53).

Demikian-lah saudara-saudariku…………