Mei 21, 2008
Akibat dipengaruhi oleh faham non wahyu dan mendasarkan pemahamannya kepada Ra’yu tanpa ilmu dan keimanan yang sempurna, banyak umat islam yang memaknai SYURO, yang termaktub dalam Qs Ali Imron [3} : 159 dan As-Syuro [42] : 38 diartikan dengan DEMOKRASI. Terutama umat islam yang aktif dan melibatkan diri dalam organisasi partai politik. Kendati mereka memilki Dewan Syuro atau Majelis Syuro dalam partainya masing-masing, namun untuk urusan yang luas, mereka menggunakan majelis Parlemen.
Padahal Demokrasi merupakan faham yang bertentangan dengan Islam. Demokrasi artinya kekuasaan ada di tangan rakyat atau suara terbanyak, termasuk dalam hal membuat hukum. Sedangkan SYURO bukan pembuat hukum, tapi teknis pelaksanaan hukum Pembuatan hukum adalah hak perogratif ALLoh atau wewenang 4JJI saja. Manusia hanyalah diperintahkan untuk melaksanakan hukum 4JJI.
Sehingga akan nampak perbedaannya, dalam sistem Demokrasi ketika terjadi DEADLOCK, maka keputusan akhir dikembalikan kepada suara terbanyak atau VOTING. Sementara dalam Syuro, keputusan akhir dikembalikan kepada QUR’AN SUNNAH, “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, amak kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah)…(Qs An-Nisa [4] :59).
Allah Yang Maha Kasih dan Sayang telah memberikan peringatan kepada orang-orang beriman dengan firmanNYa, “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tiada lain hanyalah berdusta” (Qs Al-an’am [6] : 116, lihat pula Qs al-Maidah [5] : 49).
Wallohu ‘alam bishowab
& Komentar |
Agama, Aktual, Analisa, Artikel, Demokrasi, Islam, Kajian, Manhaj, Politik |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Mei 21, 2008
Manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi tugasnya adalah untuk beribadah kepadaNya (Qs 51:56, Qs 2:21). Agar tugas pengibadahan ini terlaksana, maka manusia difungsikan oleh Alloh sebagai Khalifah (Qs 2 : 30). Dimana makna Khalifah adalah wakil, mandataris atau pelaksana hukum-hukum Allah di muka bumi. Maka agar fungsi ini terlaksana, diperlukan adanya institusi yang disebut lembaga kekhilafahan atau Khilafah fil ardli. Maka tidak bisa dipungkiri lagi bahwa penegakkan kekhilafahan adalah sesuatu yang prinsipil atau sesuatu yang mesti keberadaannya. Atau dengan kata lain, penegakkan Kekhilafahan BUKAN ALTERNATIF, dikarenakan sistem-sistem non kekhilafahan gagal dalam mensejahterakan umat manusia. Tapi ia merupakan kewajiban yang perlu diperjuangkan oleh tiap individu yang mengaku muslium.
Namun untuk menegakkan lembaga Khilafah fil ardli ini tidak sebatas wacana atau opini untuk menjadi konsumsi publik dan menjadsi istilah yang latah. Tapi perlu adanya tindakan kongkrit yang pelaksanaannya harus sistematis, terpola dan berproses. Maka dalam hal ini Rasul Saw sebagai sumber ittiba’ (”katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (muhammad)…(Qs ali imran [3] :31) memberikan contoh, pola, sistem atau proses dalam menegakkan kekhilafahan.
Pertma kali yang dilakukan oleh beliau adalah membentuk masyarakat tauhidi, masyarakat yang hanya meng-agungkan Allah seraya menafikan sistem masyarakat musyrikin. Atau yang biasa disebut AL-BARO’AH (Qs 60:4), berlepas diri dari sistem jahiliyah dan berwala’ kepada sistem islam saja. Masyarakat tauhidi inilah sebagai cikal bakal untuk terbentuknya basis awal Kekhilafahan. Dimana Yatsrib dipilih sebagai tempat pertma dan utama untuk terwujudnya MADINAH (Negara Islam Yatsrib) hingga terjadinya Futuh Makah. Karena Madinah ini bukan negara Ashobiyah atau bersifat Nasionalisme, tapi berbentuk DAULAH, inklusif, membuka diri dari wilayah-wilayah Islam di luar Yatsrib dan Jazirah Arab untuk bertahkim ke MADINAH. Inilah yang disebut Pemerintahan Kehilafahan, pusat pemerintahan islam sedunia. Dan pola, sistem, proses inilah yang dicontohkan oleh tauladan kita semua, Nabi Muhammad Saw dalam menegakkan Kekhilafahan.
Bila ada kelompok atau golongan yang mengklaim hendak menegakkan Kekhilafahan, namun tidak berpola kepada SUNAH PERJUANGAN atau SUNAH AF’ALIYAH Rasul maka apa namanya kalau tidak disebut BID’AH. Menegakkan Kekhilafahan tanpa terlebih dahulu membentuk masyarakat Islam yang siap sami’na wa atho’na terhadap Syari’at Allah adalah hal yang naif, tapi justru berbaur/berkolaborasi dengan sistem dan masyarakat Jahiliyah.
Ingat, Landasan ideologinya adalah Kalimah Tauhid, Laa ilaaha=tidak ada ilah, hukum, sistem, UU, Ideologi, Illalloh=Kecuali Alloh sebagai sumber HUKUM, sistem dan sumber ideologi pelaksanaannya yang dijabarkan oleh Muhammadarrasululloh dalam Sunahnya.
Tidak ada komentar » |
Analisa, Indonesia, Islam, Kajian, Manhaj, Politik |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Mei 2, 2008
“Orang-orang beriman berperang di Jalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di Jalan Thogut. Sebab itu perangilah kawan-kawan Syetan itu, karena sesungguhnya tipu daya Syetan itu lemah” (Qs An-Nisa [4] : 76)
Dalam Al-Qur’an kalimat sabil sering dihubungkan dengan kalimat Allah dan at-Thagut. Sehingga membentuk kalimah SABILILLAH, artinya “Jalan Allah”. atau SABILITHOGUT, artinya “Jalan Thogut”. Jalan Allah adalah jalan yang lurus, sedangkan Jalan Thagut adalah jalan yang sesat.
Sabilillah
Sabilillah adalah cara, sistem, metode atau sarana/prasarana untuk terlaksananya pengabdian kepada Allah. Tidak akan diterima amal seseorang kalau tidak berada pada SABILILLAH. Sebagai contohnya “INFAQ”. Allah menyuruh muslim agar berinfaq fi Sabilillah/di Jalan Allah. “Dan berinfaqlah di “jalan Allah”….” (Qs Al-Baqarah [2] : 195). Begitupun “DAKWAH”, Dakwah atau mengajak manusia bukan kepada kelompok, organisasi, partai, Syu’ubiyyah/Nasionalisme. Mengajak manusia yang benar adalah mengajak ke dalam Sabilillah. “Ajaklah manusia ke “jalan Rabmu” dengan bijaksana…”(Qs An Nahl [16] : 125). Kemudian berjihad atau berjuang membela kebenaran harus di dalam Sabilillah, “Dan berperanglah kalian “di Jalan Allah” ….(Qs Al-Baqarah [2] : 244)
Sabilithogut
Menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, bentuk Thagut antara lain :
- Penguasa Zalim yang menolak Hukum Allah (QS An-Nisa [4] : 51, 60)
- Institusi, baik lembaga organisasi atau lembaga Negara yang berhukum kepada selain hukum Allah (Qs A;-Maidah [5] : 44, 45, 47)
Adapun dasar hukum Thogut adalah filsafat/hawahu (Qs 23:71), Nenek moyang/Abaahu (Qs 5 : 104) dan hukum-hukum Jahiliyah. Dalam pelaksanaannya Sunatullah para pengikut Thagut akan memerangi para pendukung Sabilillah dengan menggunakan sistem, cara, metode buatan Thagut, diantaranya saat ini berdasarkan kesepakatan suara terbanyak manusia yang tidak tahu menahu hukum Allah atau DEMOKRASI (Qs 6 : 116), inilah yang dimaksud Sabilithagut.
Suatu hal yang ironi orang yang mengklaim berjuang fi Sabililllah tapi menggunakan sistem Thogut tersebut (Qs 4 : 60). Atau lebih ironi lagi, sudah memahami bahwa institusi tersebut adalah institusi Thogut tapi masih mengkritisi kebijakan-kebijakannya atau berada dibawah naungannya/perlindungan hukum.
Sementara Para Rasul Allah senantiasa bersikap “MUKHLISIINA LAHUDDIN” (QS 98 : 5), murni dalam bersistem tanpa ada campur baur dengan sistem gherul islam. Rasululullah saw dan para pelanjutnya hingga akhir jaman bersikap AL-BARO’AH (Qs 60 : 4), berlepas diri/tidak mau tahu/tidak peduli/tidak ambil pusing terhadap aturan-aturan maupun kebijakan-kebijakan Thagut, sembari bersikap AL-WALA kepada kepemimpinan dan aturan-aturan Allah. Sebagaimana halnya Nabi Muhamad Saw di awal perjuangan Islam membentuk DARUL ARQOM (sebagai tempat bermusyawarah/pembinaan umat) sebagai tandingan untuk melawan DARUN NADWAH (tempat berkumpulnya/musyawarah Abu Jahal dan pemimpin Quraiys). Rasululullah Saw dan para Sahabatnya tidak pernah bermusyawarah didalam Gedung Darun Nadwah, walau sempat diajak sekalipun dan tidak memperdulikan kebijakan-kebijakan Kubu Darun Nadwah, atau dengan kata lain tidak pernah BERDEMO di halaman Gedung Darun Nadwah untuk menegakkan Hukum Allah.
Tapi Rasululullah Saw memperkuat dan memperkokoh barisan Darul Arqom (Kaum muslimin) baik dari segi kualitas (Pembinaan, Qs 62 : 2) maupun Kuantitas (Dakwah, Qs 16 :125) untuk menyongsong tegaknya Hukum Allah dalam wujud Madinah, Daulah hingga Khilafah (Qs 25 :55).
& Komentar |
Aktual, Analisa, Indonesia, Islam, Kajian, Manhaj, Politik |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
April 27, 2008
Fenomena aliran sesat kembali mencuat belakangan ini, hal ini terkait dengan keputusan Bakor Pakem yang menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Sehingga istilah “ALIRAN SESAT” kembali menjadi perbincangan yang latah di kalangan masyarakat kita, khususnya umat islam. Namun masyarakat, bahkan termasuk tokoh-tokohnya nampak kurang mendasar memahami istilah ALIRAN SESAT ini. Sehingga terjadi pro kontra penyikapan terhadap aliran sesat.
Kata “TERSESAT” sering digunakan dalam perjalanan. Seseorang dikatakan tersesat, apabila orang tersebut tidak sampai pada tujuan perjalanannya. Misalnya seseorang hendak berangkat dari Jakarta menuju Surabaya, tapi dia pergi ke arah Barat menuju Banten. Lantas dia menduga bahwa Banten adalah Surabaya. Maka orang tersebut dikatakan “TERSESAT”.
Contoh lain, misalnya sekelompok pendaki gunung sedang mengadakan adventure untuk menaklukan ketinggian puncak suatu gunung. Namun, karena mereka tidak tahu jalan dan tidak mau bertanya kepada yang lebih tahu. Mereka berputar-putar didalam hutan dan tidak sampai ke puncak gunung. Maka mereka disebut “tersesat”. Dan apabila yang tersesat itu sekelompok orang, maka kecenderungan pro kontra dan saling menyalahkan akan terjadi.
Begitupun dengan ISLAM, Islam kalau diibaratkan adalah sebuah sistem perjalanan hidup menuju RIDLO ALLAH dan JannahNYA. Karena Islam sebagai sebuah sistem perjalanan hidup, maka ia memerlukan peta jejak/lokasi perjalanan. Peta itulah yang dinamakan AL-QUR’AN. Namun peta (Al-Qur’an) tidak akan berarti apa-apa, bila hanya dibaca, diamati, dikaji tanpa diuji/diperjalankan. Dan peta walaupun sudah diperjalankan tidak akan berarti apa-apa, kalau tanpa ada orang yang memulainya/memberinya contoh.
Orang yang berhak memberi contoh dalam perjalanan hidup melalui sistem ISLAM adalah Rasulullah Saw. Dari Start IQRO dalam Surat Al-Alaq hingga finish Alyauma akmaltu lakum diinakum dalam Surat Al-Maidah ayat 3, Rasululullah Saw telah memberi contoh jejak perjalanan kerisalahannya dalam Sunah perjuangannya (bisa dibaca SEJARAH/TARIKH). Insya Allah jika menapak tilasi jejak rasul ini, umat islam tidak akan tersesat.
Namun bila melihat kondisi umat islam saat ini, nampaknya ironi. Mengaku menjalankan Sunah Rasul, tapi mengikuti jalan yang dirintis Thogut, diantaranya bisa dibaca dalam QS 4 : 60, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, mereka hendak berhakim kepada Thogut. Bukankah mereka telah diperintah untuk mengingkari thogut….”.
Wajarlah bila dalam penyikapan “aliran sesat” ini terjadi pro kontra diantara sesama tokoh dan masyarakat. Karena para “Penuduh Sesat” ini sendiri dalam keadaan “Tersesat“. Sudah tahu “Jejak Perjalanan Rasul”, namun lebih nyaman mengikuti “Jejak Perjalanan Thagut”. Inilah bahan tausyah bagi para pemuja Demokrasi, Nasionalisme/Ashobiyah. HAM, Fluralisme dan sistem-sistem hidup buatan manusia lainnya yang cenderung menyesatkan. “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi ini, maka mereka cenderung menyesatkan kamu dan mereka banyak berbuat kebohongan….” (Lengkapnya baca Qs 6 : 166).
“Ihdinashirotol mustaqim, shirotolladziina an’amta alaihim, ghoiril maghduubi alaihim waladloolliin”
Tidak ada komentar » |
Agama, Aktual, Analisa, Artikel, Indonesia, Islam, Kajian, Manhaj, Politik |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Maret 21, 2008
Mutaharri adalah mundur untuk siasat dalam peperangan fisik (Qs Al-Anfal [8] : 16). Perintah Allah ini intinya jangan mundur dari peperangan (Qs Al-Anfal [8] : 15), bukan mundur dari parlemen menjadi perang pemikiran atau merubah perintah perang fisik menjadi perang permikiran/Ghozwul fikri. Inilah yang disebut tabdil (Qs al-baqarah [2] : 59 ; al-A’araf [7] : 162).
Hizbut Tahrir berdiri di Yerussalem, tokohnya adalah Taqi al-Din al-Nabhani, tahun 1953. Sebelumnya beliau adalah pengikut Ikhwanul Muslimin. Karena ada perbedaan faham beliau memisahkan diri dan mendirikan Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir bercita-cita menegakkan Syari’at Islam dengan terlebih dahulu mendirikan “Kekhalifahan Islam”. Pengaruh HT hingga ke Negara-negara luar yang mayioritas berpenduduk muslim, termasuk Indonesia. Hizbut Tahrir berhasil di Yordania dengan mendirikan partai politik berazas Islam, namun gagal. Akhirnya HT tidak lagi bergerak melalui parlemen, mereka berpindah strategi yang dinamai “Mutaharri”, berjuang di luar parlemen.Sebagaimana halnya Hizbut Tahrir Indonesia, kendati mereka berjuang di luar parlemen, anti Demokrasi, Sekulerisme dan Kapitalisme. Namun mereka tidak mengambil sikap Furqon atau al-Bara’ah (berlepas diri). Menolak Demokrasi, namun turut serta kepada pemerintahan produk Demokrasi. Dengan turun ke jalan, berdemonstrasi mengkritisi kebijakan pemerintahan Sekuler. Hal ini berarti mengakui dan bertahkim kepada pemerintahan tersebut (Qs An Nisa [4] : 60). Bahkan beberapa waktu ke belakang dalam KKI/Konfrensi Khilafah Internasional di Stadion Gelora Bung Karno, pucuk pimpinan HTI, Muhammad Ismail Yusanto menyatakan Hizbut Tahrir akan menjadi Organisasi Peserta Pemilu. Menolak Demokrasi, tidak berarti anti Pemilu. Ironis….
Sebagai bahan Tausiyah bagi Hizbut Tahrir, Rasulullah Saw ketika menegakkan Kekhilafahan Islam terlebih dahulu membentuk basis awal Kekhilafahan yaitu MADINAH (Negara Islam) yang berdaulah di Yatsrib. Suatu hal yang mustahil Kekhilafahan dapat tegak dalam suatu Negara Syu’ubiyah (Ashobiyah/Nasionalisme). Dan suatu hal yang kontradiksi “memohon” tegaknya Syari’at Islam kepada pemerintahan Sekuler, yang menolak tegaknya Syari’at Islam secara sempurna. Syari’at Islam hanya bisa ditegakkan dengan Dakwah dan Qital, bukan dengan kompromi atau bermusyawarah dengan orang-orang kafir.
& Komentar |
Aktual, Analisa, Artikel, Demokrasi, Ekonomi, Fundamentalis, Indonesia, Islam, Kajian, Keamanan, Manhaj, Moral, Nasional, Negara, Pertahanan, Politik, Sekuler, Sosial, berita, kultur, media, opini |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Maret 21, 2008
Rasulullah Saw melakukan siyasah, “tawar menawar” kekuasaan atau posisi setelah memiliki kekuasaan atau posisi. Sebagaimana halnya perjanjian Hudaibiyah, ketika itu Islam dan Nabi Muhammad Saw sendiri sebagai penguasa di Madinah. Tawar menawar kekuasaan atau posisi tanpa memiliki kekuasaan, wilayah hukum dan pemerintahan akan termakan strategi lawan.
Ikhwanul Muslimin berdiri pada tahun 1928, tokohnya adalah Hasan Al-Banna di Mesir. Di Indonesia Ikhwanul Muslimin berpecah menjadi dua kelompok, yaitu pertama, kelompok yang masih konsisten dengan sikap pendirinya, yakni tidak masuk sistem Sekuler, pemerintahan yang menolak Syari’at Islam. Kedua, kelompok yang menyimpang dari ijtihad para pendirinya, yaitu kelompok yang ikut serta kepada pemerintahan yang menolak syari’at islam, dengan alasan Siyasah. Sehingga dalam perjalanannya kelompok ini (baik yang duduk di lembaga legislatif maupun eksekutif) tidak memiliki misi menegakkan Syari’at Islam secara kaffah, hanya cukup membentuk masyarakat yang islami, kendati hukum yang berlaku adalah hukum buatan manusia, seraya mengabaikan hukum-hukum yang termaktub dalam Al-Qur’an. Kelompok ini bertansformasi dalam partai politik yaitu Partai Keadilan (PK), kemudian karena tidak masuk syarat Electoral Treshold (ET) berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Sebagai bahan Tausiyah bagi kelompok IM yang kedua ini, Allah telah memerintahkan umat Islam dalam membentuk masyarakat Islam agar berpaling dari orang-orang munafik (Qs an Nisa [4] : 63,81) dan orang-orang musyrik (Qs Al-An’am [6] : 68, 106, al-Hijr [15] : 94), al-Sajdah [32] :30), al-Najm [53] :29).Umat Islam dilarang mengikuti pemerintahan atau kepemimpinan orang-orang munafik dan kafir (Qs An Nisa [4] :144, Ali Imran [3] : 28, al-Maidah [5] : 51,57). Nabi Ibrahim sendiri telah memberi “uswah” agar berlepas diri atau tidak berkompromi dengan masyarakat atau pemerintahan yang menolak tegaknya Syari’at Islam (Qs al-Mumtahanah [60] : 4,6). Syari’at Islam hanya bisa ditegakkan dengan Dakwah dan Qital, bukan dengan kompromi atau bermusyawarah dengan orang-orang kafir.
& Komentar |
Agama, Aktual, Analisa, Artikel, Budaya, Demokrasi, Ekonomi, Indonesia, Islam, Kajian, Manhaj, berita, kultur, media |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Maret 4, 2008
NKRI ini benar-benar negara badut….

, seorang penegak hukum selevel jaksa saja ternyata dihukum…karena menerima suap sejumlah uang $ 660 ribu US, kalau dirupiahkan lebih dari 600 milyar rupiah.
Ternyata…. tidak berlebihan kekhawatiran Amrozi, saat disidang kasus Bom Bali. Ketika itu Amrozi yang divonis hukuman mati ditawari sepatu oleh Urip Tri Gunawan, sang Jaksa Tersangka, karena dalam persidangan Amrozi kerap memakai sandal. Apa jawaban Amrozi, “Saya tidak mau, karena khawatir Sepatu yang diterima uang hasil dari korupsi”. Dan kini terbukti…..!.
Seharusnya tuntutan hukuman mati oleh Urip terhadap Amrozi, harus juga diterima oleh pak Urip, betul gak?.
Habis korupsi ternyata menyengsarakan ratusan juta rakyat negeri ini
….. Harga-harga kebutuhan pokok yang naik, menjerat leher rakyat, dari mulai beras, terigu, minyak goreng sampai harga bala-bala, comro dan gehu yang dulu cuma seratus perak, sekarang jadi seribu perak. Terus rakyat tidak punya kesempatan mendapat penghasilan, yang bekerja terkena PHK, yang berdagang merugi semenjak harga bala-bala dinaikkan, ukurannya diperkecil. Begitu juga pedagang keliling sering dipalak, aeh ditilang aparat berseragam coklat dengan aturan yang dibuat-buat. Itu karena ulah para koruptor………
Amrozi membom Bali, gudangnya maksiat, membunuh turis-turis bule yang membawa oleh-oleh penyakit (AIDS dan Narkoba) dari negerinya dan sedang berpesta fora harus dihukum mati. Sementara Urip dan koruptor-koruptor lainnya yang membunuh ratusan juta rakyat tak berdosa dengan perlahan-lahan karena kelaparan tak pernah ada kabar dihukum mati, malah yang ada adalah kabur ke luar negeri.
1 Komentar |
Aktual, Analisa, Artikel, Budaya, Demokrasi, Ekonomi, Indonesia, Islam, Kajian, Keamanan, Moral, Nasional, Negara, Pertahanan, Politik, Sekuler, Soeharto, Sosial, berita, kultur, opini |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Februari 25, 2008



Selama ini Osama Bin Laden mungkin dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap USA dan sekutunya. Dan oleh sebagian aktifis Harokah dianggap sebagai icon perlawanan Islam terhadap kesewenang-wenangan dan kedzaliman Amerika dan Negara-negara Barat. Padahal USA (wayang Zionis) adalah BIG BOSS dari Osama Bin Laden sendiri ?. Siapa sebenarnya pimpinan Jama’ah al-Qaida ini ?.
Muhammad Awad bin Laden, seorang warga Yaman Selatan yang berpindah ke Arab Saudi tahun 1930. Di sebuah pelabuhan Jedah ia bekerja sebagai kuli angkut. Disebakan keuletan dan kejujurannya, keluarga kerajaan Saudi akhirnya memberikan kepercayaan kepadanya. Tidak lama kemudian, ia berhasil mendirikan perusahaan kontruksi dengan nama Bin Laden Corporation. Perusahaan ini lalu menjadi perusahaan kontruksi terbesar di Timur Tengah. Dari Muhamad bin Laden inilah lahir seorang anak yang bernama Usamah, orang Barat menyebutnya Osama.
Usamah atau Osama muda tumbuh dari keluarga bisnis yang kaya raya. Ia hidup enak dan senang. Keadaan ini berlangsung sampai ia menjadi religius dan berjihad ke Afghanistan. Tahun 1979 M, selepas lulus dari Universitas King abdul Aziz di Jedah dan menyandang gelar Insinyur Teknik Sipil langsung terpanggil seruan jihad. Dimana waktu itu Uni Soviet menginvasi Afghanistan.
Selama tahun 1980 an M, Usamah dan Abdullah Azam menjalankan Maktab Al-Khidamar (MAK) untuk rekruitmen mujahidin melawan Uni Soviet. Dana untuk MAK ini diperoleh dari CIA lewat Dinas rahasia Pakistan, Inter Services Intellegence (ISI). Direktorat ISI sendiri didirikan oleh seorang tentara Inggris, Mayor Jendral R.Chawtome pada 1948 M. Sejak saat itu ISI dimanfaatkan oleh Intelejen Inggris dan Amerika untuk mempengaruhi keadaan politik di Asia. AS lewat CIA berkepentingan dengan mujahidin Afghanistan untuk meruntuhkan Uni Soviet sebagai saingan penguasaan Sumber Daya Alam di Asia Tengah.
Selama decade itu pula, kelompok bisnis Bin Laden juga menerima bagian dari hampir 200 miliyar Dollar AS dari kontrak untuk membangun fasilitas militer AS (basis, pelabuhan dan lapangan udara) di Arab Saudi. Kebanyakan ongkos ini memang untuk Arab Saudi, tapi Bin Laden Corporation juga menerima bagian besar dari uang ini.
Dalam penentangan dan perlawanan Osama terhadap Amerika, terutama penentangan yang keras terhadap kehadiran militer AS di Arab Saudi dalam perang Teluk, sekalipun Osama belum pernah mencela keterlibatan familiynya dalam menghadirkan tentara kufar tersebut. Ironi……….
Pada tahun 1989 M, Usamah membangun gua-gua komplek militer di Afghanistan. Sember daya pembangunan ini berasal dari bisnis kontruksi keluarganya. Dana pembangunannya berasal dari CIA. Saat itu, Usamah menganggap tak masalah bekerjasama dengan orang kafir.
David Shayler, Opsir Dinas rahsia Inggris M15, mengklaim punya bukti bahwa agen rahasia Inggris membayar 100.000 poundsterling bagi Al-Qaida nya Usama untuk membunuh Muamar Khadafi. Pada tahun 1996 M. Namun usaha ini gagal, Kahadafi lolos dari maut tanpa luka, sementara beberapa orang tidak berdosa terbunuh bom Al-Qaida ini.
Saat diwawancara harian “The Dawn” 9 November 2001, Usamah berkata, “ Orang Amerika sendiri mengeluarkan sebuah daftar tersangka serangan bom WTC dan Pentagon, 11 September 2001. Mereka adalah muslim, 2 orang dari Uni Emirat Arab, 1 orang dari Mesir dan 15 berkewarganegaraan Arab Saudi”. Dari latar belakang keluarga, petualangan, sepak terjangnya dan hubungan khususnya dengan AS yang menurut pengakuannya sebagai musuh utamanya kelihatan bahwa identitas mujahid yang melekat pada diri Osama bin Laden masih perlu dikaji dan dipertanyakan…. ?. Ia jauh dibawah Mujahidin generasi pasca Kekhilafahan berikut ini, Umar Mukhtar dari Libya, SM.Kartosuwiryo dari Indonesia, Hasan Al Banna, Sayid Quthb dan Muhammad Quthb dari Mesir, Syekh Ahmad Yasin dari Palestina. Kendati gerak langkah jihad mereka diakhiri di tiang gantungan, regu tembak dan tubuhnya dibombardir. Bahkan namanya dicatat dalam sejarah sebagai teroris dan pemberontak. Namun Allah Swt berfirman, “ Janganlah kamu berkata tentang orang yang syahid di jalan Allah, bahwa mereka itu telah mati. Tidak ! mereka itu tetap hidup, meskipun kamu tidak menyadarinya”, Qs al_baqarah : 154) Sumber :
Vol.6 elfata
Patrick Mec own calls for secret Shangler Trial, The Evening Standard, October 8, 2002
The Wahhabi Myth, oleh Hanef James Oliver, 2002
& Komentar |
Agama, Aktual, Analisa, Artikel, Demokrasi, Fundamentalis, Indonesia, Islam, Kajian, Keamanan, Liberal, Manhaj, Nasional, Negara, Pertahanan, Politik, Radikal, Teroris, media, opini |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Februari 2, 2008
MEKANISME, POLA, VISI DAN MISI DIN AL BATIL
MEKANISME
1. Aturan/Hukum :
- UUD buatan manusia
- Al-Qur’an hanya berlaku untuk urusan ubudiyah/ritual, bersifat parsial (Qs 4 : 150,15 : 10), urusan lain hanya jadi bahan perdebatan (Qs 3 : 105, 3:66)
2. Pimpinan/Hakim
- Beragama Islam, tapi berideologi non islam. Islam hanya dijadikan dagelan politik ; ketika membutuhkan suara dalam kampanye, mengatasnamakan islam. Jika kekuasaan digenggaman , islam dimarginalkan (Qs 5 : 57)
- Ulama/ustadz hanya berwenang di urysan keagamaan
3. Masyarakat
- Heterogen/pluralis berbagai ideologi dalam ikatan Syu’ibiyah/kebangsaan/nasionalisme (Ashobiyah)
- Umat Islam berpecah belah menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan golongannya (Qs 6:159, 30:32, 23:53)
POLA
VISI
Ketenangan, kedamaian dan kesenangan duniawi (Qs 3:196-197)
MISI
Ridlo/pujian manusia ; popularitas, menjadi selebritis, Da’i Favorit, mubaligh kondang dan pejabat publik (Qs 3 :18
MEKANISME, POLA, VISI DAN MISI DIEN AL HAQ
MEKANISME
- Aturan/Hukum : Al-Qur’an (Qs 2:2, 5:48-49) dan Assunah (Qs 3:31)
- Pimpinan/Hakim : Rasul (Qs 4:65) dan orang-orang beriman (Qs 4:59, 5:56)
- Masyarakat : Masyarakat yang bertauhid dalam komunitas jama’i(Qs 3:103,61:4), terdiri dai orang-orang yang telah berikrar/bersyahadah (Qs 3:53, 9:111)
VISI
- Tegakkan Dien Al Haq (Qs 42 :13)
- hancurkan Dien Al Batil (Qs 9 :33, 48:2
dengan jalan berdakwah, atau Qital apabila diperangi Qs 2:190-192)
MISI
Ridlo Alloh (Qs 2 :207, 9:111)
POLA
- Furqon (Qs 109:6) , al-baro’ah (berlepas diri) dari al-batil (Qs 60 :4) dan bersikap al Wala’ (loyal, ta’at berkepemimpinan) kepada Alloh saja (Qs 2 :208, 16:36)
- Bertahap, berproses dari mulai Shofan jama’an/berjama’ah kemudian bertransformasi menjadi Madinah yang berdaulat (non ashobiyah) hingga terbentuknya kekhilafahan di muka bumi (Qs 24 :55)
SILAHKAN SAUDARA-SAUDARI SEKARANG SEDANG BERADA DI FIHAK MANA, DAN APA YANG HENDAK DILAKUKAN…….!
& Komentar |
Agama, Aktual, Analisa, Artikel, Demokrasi, Islam, Kajian, Manhaj, Politik |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Januari 12, 2008
Menjelang wafatnya (wallohu ‘alam bishowab, karena kondisi kesehatannya kian kritis), di usia ke 86, Haji Muhammad Soeharto, mantan Presidem RI ke 2 dan terlama mengucapkan terima kasih kepada Megawati Soekarnoputri. Dimana isu yang berkembang, HM.Soeharto menyatakan menitipkan negeri ini kepada Megawati (geer kali yah…!).
Padahal pernyataan yang sebenarnya, Bapak HM.Soeharto mengucapkan terima kasih kepada Megawati karena telah mempertahankan Pancasila dan Negara kesatuan RI.
Beberapa abad yang lalu, Nabi Muhammad Saw menjelang wafatnya bersabda, “Taroktu fiikum amroini (Qur’an & Assunah)” , “Aku meningggalkan padamu (umat)dua perkara (Qur’an dan Sunnah)”. Akan memberi syafaat/berterima kasih kepada yang mempertahankan dan menjalankannya.
Dua manusia dengan nama yang sama, HMS (Haji Muhammad Soeharto) dan NMS (Nabi Muhammad Saw), tapi meninggalkan suatu urusan yang berbeda.
Tanya kenapa…?
& Komentar |
Aktual, Analisa, Demokrasi, Indonesia, Islam, Nasional, Negara, Politik, Soeharto, berita, media, opini |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Januari 8, 2008


Anda pasti mengenal Dinosaurus…..?. Binatang Purba yang melegenda, ia hidup di jaman Purba, dan tidak akan pernah hidup lagi di jaman sekarang. Keberadaannya hanya di museum, itupun berupa tengkoraknya. Dinosaurus asyik menjadi tontonan anak-anak juga orang dewasa, digambarkan sebagai sosok binatang yang menakutkan, di film-film digambarkan sebagai pemakan manusia.
Apakah anda setuju, bila nasib AL-QUR’AN tak ubahnya Dinosaurus di jaman kini ?. Al-Qur’an hanya jadi bahan bacaan (tilawah, tahsin diperbagus bacaannya, tajwid, diperlombakan dalam MTQ, diKhotamkan). Mushafnya yang kini berbentuk Kitab, hanya jadi bahan pajangan, hurufnya diperindah dengan kaligrafi, bentuknya dibentuk sedemikian rupa, ada Al-Qur’an terbesar, terkecil ukurannya…!. Terjemah dan maknanya hanya jadi bahan kajian, diskusi, seminar, diperdebatkan/bukan diamalkan. Walau diamalkan hanya bersifat parsial (dibidang ritual/ubudiyah saja). Sementara dalam kehidupan lain (Ipoleksosbudhankam), tidak berpedoman kepada Al-Qur’an.
Dan yang paling miris, dijadikan bahan komoditas politik (dalam kampanye perang dalil), dan dimanfaatkan ahli Tahayul (dibakar mushafnya, kemudian abunya dibuat kopi, naudzubillah). Ada lagi seorang mantan menteri Agama (Almarhum), pernah mengatakan Al-Qur’an sudah tidak relevan, maka perlu Reaktualisasi Al-Qur’an, diantaranya warisan harus dibagai rata antar perempuan dan laki2).
Seandainya terlaksana Al-Qur’an hanya dalam cerita-cerita sejarah, lelakon-lelakon penceramah. sementara dalam kehidupan sehari-sehari…..?.
Seandainya Umat Islam melaksanakan Al-Qur’an, maka bangsa Indonesia-lah yang paling maju, karena bangsa Indonesia mayoritas berpenduduk muslim. Tapi kenyataannya, terkorup, pengirim TKW (bermasalah lagi), kejahatan merajalela dalam berbagai bidang, ekonomi semakin sulit.
Kita merindukan Al-Qur’an berlaku di bumi pertiwi ini, walaupun kehadirannya akan menakutkan layaknya Dinosaurus apabila dihidupkan bagi orang-orang musyrik. Sehingga tidak mengherankan bila mereka menuduh teroris kepada orang-orang yang hendak menegakkan terlaksananya Al-Qur’an. Sebagaimana firmannya, ” Dialah yang telah mengutus seorang RasulNya (Muhammad) dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an) dan Dien yang yang Haq, untuk diunggulkan atas segala Dien, walaupun orang-orang Musyrik tidak menyukai”. (Qs At-Taubah [9] : 33).
1 Komentar |
Agama, Aktual, Analisa, Artikel, Budaya, Demokrasi, Fundamentalis, Indonesia, Islam, Kajian, Keamanan, Liberal, Manhaj, Moral, Nasional, Negara, Pertahanan, Politik, Radikal, Sosial, Teroris, berita, kultur, media, multireligi, opini, umum |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Januari 6, 2008
Harokatul Hadamah adalah gerakan yang bertujuan menghancurkan islam dan perjuangannya dengan menggunakan simbol-simbol islam. Sehingga umat islam yang masih awam merasa phobi (takut) kepada setiap pergerakan yang bernuansa islam. Hal ini mengakibatkan kontraproduktif dengan misi membentuk manusia yang islami dan masyarakat madani.
Fenomena Aliran Sesat
Pemberitaan mengenai gerakan yang mengatasnamakan islam yang disinyalir sesat dan menyesatkan tengah hangat beberapa waktu ke belakang, bahkan hingga kini. Sebenarnya fenomena aliran sesat ini adalah persoalan klasik yang menimpa umat islam. Hal ini pertama kali terjadi dalam sejarah islam adalah pasca wafatnya Nabi Saw, yaitu munculnya Tokoh Musailamah Al-Kadzab yang mengaku Nabi setelah Nabi Saw, Padahal Nabi Saw lah sebagai khotaman Nabiyyiin/penutup para nabi (Qs 33 : 40).
Walaupun vonis sesat hanya berhak dikeluarkan oleh lembaga berwenang (Kejati, MUI), namun umat islam sendiri bisa menilai sebuah gerakan terindikasi sesat. Diantaranya adalah mengubah hal-hal yang bersifat prinsipil (Aqidah) dan syari’at yang sudah baku (Qs 5:3). Diantaranya pengakuan kenabian, mengubah redaksi syahadatain, menggugurkan kewajiban syari’at (Shalat, zakat, shaum, haji dll).
Mengubah Syahadatain
Mengubah redaksi syahadatain yang dilakukan oleh Ahmad Mushadeq dan pengikutnya dalam kelompok yang menamakan diri Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah merupakan “Dlolalan mubiin”(kesesatan yang nyata). Yakni “Asyhadu Allaa ilaaha illalloh wa asyhadu anna al-masiih al-mau’ud rasulullah”. Al-Masih Al-mau’ud yang dimaksud adalah Mushadeq sendiri. Sehingga dari ikrar ini tidak secara langsung Mushadeq telah memproklamirkan diri sebagai Nabi dan Rasul.
Begitupun yang dilakukan oleh Ahmadiyah. Mereka mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi karena nama yang tercantum dalam Qs al-Shaf ayat 6 adalah AHMAD. Mereka beranggapan bahwa Nabi Muhamad bukan Nabi terakhir. Namun Mirza Ghulam Ahmad lah sebagai pendiri kelompok Ahmadiyah yang dimaksud dengan Nabi terakhir. Mereka menafsirkan kalimat khatam dalam Qs Al-Ahzab (33) : 40 dengan pengertian “cincin”. Hingga mereka mengkultuskan Mirza Ghulam Ahmad (Qs 2 : 165-167), hampir sama dengan orang-orang Yahudi mengkultuskan Uzair, orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa Putra Maryam (Qs 9 : 30-31). Bahkan mereka memiliki kitab tersendiri sebagai pedoman hidup, yaitu “Tadzkiroh”, hampir menyamai kedudukannya dengan al-Qur’an (Qs 2 : 79-80). (“SYAHADATAIN, Syarat Utama tegaknya syariat Islam”, hal.79, M.Umar JA, Pen.Bina Biladi Press).
Sebagian lagi ada kelompok yang menyertakan Syahadatain dengan keharusan membayar sejumlah uang mencapai ratusan ribu, bahkan hingga satu juta rupiah. Dengan dalih sebagai uang shodaqoh istighfar, atau untuk mensucikan diri. Sungguh keterlaluan “syari’at baru” ini, syahadatain yang sakral dan suci serta mesti dijauhkan dari motif duniawi, justru dinodai dengan syari’at yang entah Hadist riwayat siapa yang dijadikan landasan.
Makna Syahadatain
Syahadatain yang dimaksud Allah dan RasulNya adalah pernyataan sikap seseorang yang menjadikan islam sebagai pedoman dan ajaran hidupnya. Islam yang dimaksud tentunya bukan islam ketutunan, islam abangan atau islam KTP. Karena banyak orang yang mengaku muslim, tapi hidupnya tidak beraturan (Syari’at) Islam. Manusia yang sudah bersaksi bahwa dirinya muslim adalah manusia yang telah menjadikan dirinya sebagai hamba Allah. Hamba Allah adalah manusia yang hanya tunduk dan patuh kepada aturan dan hukum Allah saja. Tidak mengambil hukum, sistem hidup dan ideologinya selain Islam, bahkan menolaknya, inilah yang dinamakan sikap “Al-baro’ah”, berlepas diri (Qs 60 : 4). Hal ini terdapat pada kalimat “Laa ilaaha”.
Sungguh ironis orang yang mengaku muslim tapi masih berhukum kepada Thogut. Menurut Syaikh Muhamad Qutb, Thogut adalah seseorang, organisasi atau institusi, jama’ah, pemerintahan tradisi atau kekuatan yang menjadi panutan atau aturan manusia, dimana manusia tidak dapat membebaskan diri dari perintahnya dan larangannya. Orang yang mengaku mu’min dengan mengucapkan dua kalimat syahadat secara otomatis dia menolak thogut, “Sembahlah Allah dan jauhi thogut”, (Qs 16 : 36, 2 : 256).
Keberadaan orang-orang yang tidak konsisten dengan keimanannya, yaitu mengakui hukum thogut akan senantiasa ada hingga akhir jaman. Sebagaimana firmanNya, “ Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu?. Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum thogut” (Qs 4 : 60).
Setelah seseorang menolak dan melepaskan diri dari thogut (al-baro’ah), maka dia bersikap al-wala (taat, setia, loyal) kepada Allah saja dengan aturan dan hukumNya. Menjadikan Allah sebagai sumber otoritas, legalitas dan loyalitas. Hal ini terdapat dalam kalimat “illalloh”. Maka keberadaan syari’at syahadatain adalah merupakan tujuan dakwah itu sendiri, sebagaimana sabda Nabi Saw “Ajaklah manusia untuk bersyahadah, bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Apabila mereka telah mentaati kepadamu tentang hal itu (syahadatain), maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka shalat sebanyak lima kali sehari semalam” (HR Abu Daud dan Hakim, lihat pula HR Muslim bab keimanan Juz 7).
Tauhidullah dan Tauhidul ittiba’
Syahadat yang pertama, yaitu “Asyhadu allaa ilaaha illalloh” disebut Tauhidullah. Sementara Syahadat yang kedua disebut Tauhidul ittiba’, yaitu “Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah”. Dimana tidak akan sempurna keimanan seseorang, tanpa mengaplikasikan keimanannya dengan mengikuti Nabi Muhammad sebagai sumber ittiba’, “Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku…”(QS 3 : 31). Karena banyak orang yang mengakui Allah sebagai Tuhannya, tapi tidak mau mengakui Nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Sebagaimana Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu Tholib, mereka percaya kepada Allah tetapi tidak mengakui kerasulan Nabi Muhamad Saw. Begitupun saat ini banyak orang yang percaya kepada Allah, tapi tidak percaya kepada kerasulan Nabi Muhammad, yaitu dengan tidak mengikuti ajaran dan sunah Rasul. Bahkan yang diikuti adalah ajaran nenek moyangmya dengan dalih sebagai wasilah untuk menyembah Allah (Qs 5 : 104).
Muhammad sebagai Nabi telah berakhir, karena kenubuwahan adalah gelar. Dimana gelar kenubuwahan ini didapat oleh lebih dari 25 orang. Bahkan menurut riwayat disebutkan lebih dari seribu orang. Sementara hanya 25 orang saja diantara sekian banyak nabi tersebut yang diangkat menjadi Rasul. Dimana para Rasul ini mendapat tugas untuk menjadi wakil atau mandataris Allah di muka bumi, yaitu tegaknya Dinulloh (Qs 42 : 13). Tugas menegakkan Dinulloh atau biasa disebut tugas kerisalahan terakhir kali disempurnakan oleh Nabi Saw (Qs 5 : 3). Namun tidak berarti tugas ini berakhir, mesti ada umat yang melanjutkannya. sebagaimana firman Allah, “:Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul, apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?. Baranngsiapa berbalik ke belakang ia tidak akan merugikan Allah sedikitpun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur”(Qs Ali Imron [3] : 144). Dari sini saja kita bisa memahami, mengapa syahadat kedua, redaksinya berbunyi, Wa asyhadu anna muhammadarrasulululloh”, bukan “Wa asyhadu anna muhammadannnabiyulloh”. Karena kerisalahan adalah prinsip (Aqidah), sedangkan kenubuwahan adalah gelar pribadi.
Vonis Sesat
Memvonis suatu ajaran apakah itu Al-Haq atau Al-Batil, Al-Mustaqim atau Adlolalah pada hakekatnya adalah hak perogratif Allah dan RasulNya. Namun manusia diberi potensi yang sama oleh Allah untuk bisa menyimpulkan kebenaran dan kesalahan suatu ajaran. Potensi tersebut adalah potensi bertauhid yang sama rata diberikan kepada selueuh anak keturunan adam di alam ruh (Qs 7 : 172). Kemudian setelah lahir ke alam dunia manusia diberi potensi hati, pendengaran dan penglihatan (Qs 16 : 78, 7 : 179), tentunya dibarengi dengan potensi eksternal, yaitu berupa Hidayah (Qs 2 : 2, 48 :28).
Namun untuk memvonis suatu ajaran sesat, tidak lantas memvonis dengan membabi buta. Bahkan MUI sekalipun sangat berhati-hati mengeluarkan fatwa sesat kepada suatu ajaran dan kelompok. Perlu adanya klarifikasi (tabayyun), fakta, dalil dan argumen yang bisa dipertanggung jawabkan, tidak asal menuduh. Bila tuduhan tersebut didasari oleh prasangka, isu yang belum jelas kebenarannya dan dibarengi dengan perasaan benci dan dengki kepada pelakunya, justru isu semacam itu cenderung menyesatkan. Karena isu-isu yang berkembang, gosip dari mulut ke mulut, semakin banyak yang berkomentar kian ditambah-tambah dan dibumbui isu tersebut. Allah berfirman, “ Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan” (Qs Al-An’am (6) : 116). Wallahu ‘alam bishowab*****
Tidak ada komentar » |
Agama, Aktual, Analisa, Artikel, Budaya, Demokrasi, Ekonomi, Fundamentalis, Indonesia, Islam, Kajian, Keamanan, Liberal, Manhaj, Moral, Nasional, Negara, Pertahanan, Politik, Radikal, Sekuler, Sosial, Sosialis, Teroris |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Januari 6, 2008
DIBALIK ISU ALIRAN SESAT
Demi mempertahankan eksistensinya, NKRI rela mengorbankan rakyat
NKRI sebagai Negara nasionalisme/Ashobiyah berada di ambang kehancuran. Hal ini ditandai dengan carut marutnya system yang berlaku. Korupsi, kolusi, Nepotisme kian menjadi-jadi di berbagai bidang kehidupan. Karena memang system yang dianutnya kondusif-mengarah demikian. Kejahatan merajalela, karena hukum yang berlaku tidak membuat pelakunya jera. Sungguh ironis penjara jadi ajang tempat transaksi Narkoba. Begitupun perjinahan tidak kalah maraknya, dimana media-media justeru memfasilitasi dan mendorong masyarakat melakukan perzinahan.
Ashobiyah Vs Daulah
Namun disamping itu geliat futuhnya islam dengan berdirinya Daulah Islamiyah yang diawali oleh tegaknya Madinah di tiap-tiap wilayah Negara Ashobiyah semakin terasa. Daulah Islamiyah yang mempersatukan Negara-negara/madinah menuju tegaknya Khilafah-memang sangat ditakuti oleh Negara-negara Ashobiyah semacam NKRI, terutama “dunungannya”, yaitu Paman Sam, AS. Karena dengan Daulah tidak akan ada lagi ikatan-ikatan nasionalisme/ashobiyah. Ikatan ashobiyah adalah yang telah memporak-porandakan umat islam. Ikatan yang mempermudah umat islam diadu domba. Ikatan yang sulit antar sesama Negara yang mengaku berpenduduk muslim saling membantu, seperti Palestina, Irak, Afganistan dll. Bahkan Saudi Arabia sekalipun sebagai tempat kelahiran Nabi saw nyaris tidak bersuara- justru berteman akrab dengan Paman Sam/AS, gudangnya tokoh-tokoh Zionis. Dengan Daulah mimpi buruk yang dialami umat islam selama ini tidak akan terjadi lagi, sebagaimana yang pernah dialami oleh umat islam sepanjang 14 abad, semenjak terbentuknya Yatsrib jadi Madinah pertama hingga runtuhnya Kekhalifahan di Turki tahun 1923. Dari tahun itulah umat islam jadi “buronan’, DPO Thogut di bumi Allah. Insya Allah (Nasrulloh wafathun qoriib) sebentar lagi bumi Alloh akan kembali direbut oleh pemilik syahnya dalam AQIDAH MULKIYAH, IKATAN PEMERINTAHAN ALLOH.
Aliran sesat made in NKRI
Maka untuk mengantisipasi itu (tegaknya Al-Islam) dibuatlah isu aliran sesat. Mereka sendirilah yang memprakarsai terbentuknya kelompok2 sempalan aliran sesat. Dari mulai Opsus, Komji, kasus Imron versi Ali Murtopo di awal era Orba, hingga terbentuknya LDII/Lemkari, NII KW IX dan bebasnya Ahmadiyah mengembangkan ajarannya di wilayah NKRI. Kita bisa melihat bagaimana eksisnya LDII sebagai organisasi keagamaan-walaupun sudah dimaklumi sebagai aliran sesat, oleh MUI sekalipun. Begitu pula KW IX dengan Ponpes Al-Zaitunnya. Bahkan tokoh-tokoh NKRI begitu membanggakan kehadiran Ponpes termegah se Asia Tenggara ini. Dimana tiap-tiap Milad Al-zaitun, tokoh-tokoh semacam Harmoko, Wiranto, Habibie, Try Sutrisno, Hendropriyono berbondong-bondong menghadiri hajatan tahunan ini. Termasuk salah satu gedung dinamai Gedung Soeharto. Dari sini saja kita sudah bisa membaca, siapa dibalik maraknya kembali isu aliran sesat saat ini.
Dengan tujuan untuk mempertahankan NKRI dari “gangguan” Daulah dibuatlah “topeng-topeng” Daulah. Direkrutnya-ah anak-anak muda polos dan sebagian aktifis yang sedang ideal-idealnya. Dan dibikinlah doktrin2, ajaran2 yang mirip-bahkan nyaris sulit untuk membedakannnya. Hal ini untuk menjadi “konsumsi” ormas2 islam yang masih setia berada dibawah naungan Pancasila. Sehingga Ormas2 islam inilah yang menjadi ujung tombak untuk menghadang laju Daulah dengan tuduhan aliran sesat. Begitupun anak-anak polos yang tidak melek politik dan mudah diming2 simbol “perjuangan islam” menjadi korbannya. Orang tuanya yang telah melahirkan dan merawatnya hingga remaja-pun jadi korban kehilangan anaknya.
Hanya dalam AnNur permainan ini bisa terlihat jelas. Sementara dalam Adzdzulumat, dalam naungan system gelap gulita, system iltibas/kolaborasi Al Haq wal bathil, system yang penuh kompromi antar ideology, fenomena ini nampak samar-samar. Hingga yang terjadi adalah prasangka, saling tuduh, saling curiga, saling menduga dan berujung di meja-meja seminar, kajian, talk show, warning spanduk, demonstrasi dan sebangsanya. Wallohu ‘alam bishowab
Salim al-Muhajir
Tidak ada komentar » |
Agama, Aktual, Analisa, Artikel, Budaya, Demokrasi, Fundamentalis, Indonesia, Islam, Kajian, Keamanan, Liberal, Manhaj, Moral, Nasional, Negara, Pertahanan, Politik, Radikal, Sekuler, Sosial, Sosialis, Teroris |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Januari 6, 2008
Dalam Islam tidaklah demikian. Derajat kemulian manusia diusahakan oleh individunya masing-masing. Seorang anak yang lahir dari keluarga muslim atau mujahid, tidak berarti anaknya otomatis menjadi mujahid atau muslim dan mendapat tiket masuk Syurga secara gratis…,TIDAK. Orang-orang yang berhak masuk Syurga adalah orang-orang yang beriman dan beramal Shaleh, sekalipun orang tuanya kafir, sebagaimana Nabi Ibrahim. Atau pula Nabi Nuh tidak berhak menurunkan derajat kemuliannya sebagai Nabi dan Rasul kepada anaknya, Kan’an.
Dengan demikian dalam al-Qur’an ada beberapa derajat kemuliaan manusia, diukur oleh sejauh mana upayanya dalam menggapai kemuliaan tersebut. Yaitu dari mulai manusia kal an’am/manusia layaknya binatang (Qs 7 : 179), - kemudian sebagai manusia yang berperadaban - Abid/hamba Allah (Qs 2 : 21), Mu’min - Muslim - Ummah - Mujahid hingga Muttaqin ( Qs 49 : 13).
Manusia kal an’am
Adalah manusia yang enggan mempergunakan fasilitas yang telah diberikan Allah untuk beribadah kepadaNya, berupa hati, pendengaran dan penglihatan. Hidupnya hanya memperturutkan hawa nafsu layaknya binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Ketika hendak makan, barang atau harta milik siapa saja dimakannya, yang penting ada peluang. Maka lahirlah Koruptor, Pencuri, Penipu, perampok dan sebangsanya. Ketika hendak bersenggama (afwan..), dimana saja dan dengan siapa saja dilakukan, yang penting didasari suka sama suka, kalau terpaksa diperkosa. Maka lahirlah PSK, Gigolo, WIL, PIL, tante Girang, Oom Senang. Prilakunya senang dan bangga dipertontonkan kepada publik melalui media internet atau HP. “Bubuligiran” dan “Bubulucun” di depan kamera dihargai sebagai MISS Univers, Putri tercantik Sejagat. Naudzubillah
Binatang-binatang semacam itu tidak perlu didemo untuk mengenakan busana atau dibuatkan RUU Anti Pornografi , karena begitulah budaya binatang. Ada-ada saja binatang dipaksa mesti pakai busana…!. Wajarlah bila Ratna sarumpaet dan Dyah “Oneng” Rieke Pitaloka menolak RUU APP.
Jadikanlah dulu dia manusia…dengan DAKWAH.
Aeh…, ngomong2 Mpok Oneng Pitaloka dan Ceu Ratna Tarompet, aeh Sarumpaet pernah mendebat penulis dengan kata-kata yang meledak bak petasan di siang bolong pada acara “Silat Lidah ANTV”, begini ungkapannya, “hey Boy…! bilangin yah sama kyai-kyai lhu, ustadz-ustadz lhu, ulama-ulama lhu…., yang sok alim dan sok suci itu…, jangan maksa-maksa kami pake baju…, dan larang-larang telanjang. Karena ini bukan komunitas Islam, bukan Negara-nya Allah, tapi ini Negara dan komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai HAM = Hak Asasi Monyet, Hak Asasi Maung, Hak Asasi Munding, Hak Asasi Manuk, Hak Asasi Mbeeek….! “.
Allah Swt berfirman, “Dan sesungguhnya kebanyakan penghuni neraka Jahannam adalah dari golongan Jin dan manusia, mereka telah diberi hati - tapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-Ayat Allah dengan hatinya, mereka telah diberi pendengaran tapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah, dan mereka telah diberi penglihatan, tapi tidak dipergunakan untuk melihat ayat-ayat Allah. Mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat dari binatang… (Qs Al-A’raf [7]: 179 )
Tidak ada komentar » |
Agama, Aktual, Analisa, Artikel, Budaya, Demokrasi, Ekonomi, Fundamentalis, Indonesia, Islam, Kajian, Keamanan, Liberal, Manhaj, Moral, Nasional, Negara, Pertahanan, Politik, Radikal, Sekuler, Sosial, Sosialis, Teroris |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Januari 6, 2008
NEGERI TERLAKNAT DAN TUHAN MURKA.
Entahlah di wilayah mana negeri tersebut berada. Yang jelas pemerintah & penduduk Negeri tsb durhaka kepada tuhannya. Aturan & Hukum yang berlaku adalah aturan & hukum buatan mereka, dan mereka sendiri yang melanggarnya. Sementara aturan & hukum yang telah dibuatkan oleh tuhannya mereka abaikan, bahkan setiap upaya untuk menegakkannya mereka tolak dan tentang habis2an. Tidak ketinggalan cendekiawan yang mengaku muslim, tapi berpendidikan barat menganggap bahwa hukum Alloh sudah tidak relevan. Menurut mereka, hukum Alloh layak disimpan di museum, enak dilihat (dikaji, didiskusikan, diseminarkan),tapi tidak enak diberlakukan. Layaknya Dinosaurus, enak ditonton, tapi menakutkan kalau dihidupkan.
Jadi ……
Tidak usah bermimpi negeri tsb, menjadi Baldatun Thoyyibatun WaRobbun Ghofur. Semoga Negeri tsb tidak berada di wilayah kita.Karena kita adalah para perindu kebenaran,perindu tegaknya hukum Alloh.
BENCANA ATAU ADZAB ? . LONGSOR, BANJIR, GEMPA, TSUNAMI, ANGIN PUTING BELIUNG menerpa….!.
Tanah subur, tempat menanam tanaman,sumber kehidupan dan penghidupan-tiba-tiba longsor menimpa manusia hingga tewas.
Air yang menyejukan, pelepas dahaga,membersihkan pakaian dan bejana, membersihkan tubuh darikotoran dan najis, diridu tatkala kemarau-tiba-tiba meluap banjir menenggelamkan rumah2 & penghuninya.
Bumi tempat berpijak,bercengkrama, bercanda ria- tiba-tiba bergetar gempa,meruntuhkan bangunan2.
Air laut tempat penghidupan para nelayan, tempat tujuan wisatawan dengan keelokan dan keindahannya-tiba-tiba Tsunami meluap menerjang daratan,menghancurkan perkotaan.
Angin sepoi-sepoi menyejukkan badan yang kegerahan, meniup pohon2 dan dedaunan hingga nampak indah, tiba-tiba menjadi angin puting beliung.
Mengapa…? padahal manusia adalah Khalifah (Qs 2 :30), kewajiban, bumi, air , angin, laut dan alam raya ini melayani sang Khalifah, apakah itu sebgai bentuk protes mereka kepada Sang Khalifah yang tidak AMANAH ?
Itu terjadi secara tiba-tiba dan beruntun di negeri terlaknat dan tuhan murka, bukan…, bukan di tempat kita berpijak.
MAMAH LAUREN DITANYA….!
Ada-ada saja…,itu mungkin ungkapan orang yang masih berakal. dukun sok tahu yang kini disebut paranormal kian menjamur. TV-TV beerlomba mewawancarai dan menampilkannya, dan “memaksa” masyarakat menonton & menyimak ramalan bualnya.
Wajarlah bencana kian mendera, aeh tidak kapok…,ditanya lagi prediksi tahun 2008 apakah akan terjadi lagi bencana, Mamah Lauren…! ?.
Dasar…..
semoga hal2 tersebut tidak terjadi di negeri kita, itu hanya ada di BaldatunLaknatun wa Robbun Ghodobun……!
Tidak ada komentar » |
Agama, Aktual, Analisa, Artikel, Islam, Kajian, Manhaj, Tidak terkategori |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Januari 3, 2008
Kebanyakan orang tidak bisa membedakan antara moral dengan Akhlaq. Moral yang identik dengan kebajikan, kedermawanan, sopan santun, senyum, sapa, hormat dan sikap2 terpuji lainnya disebut juga Akhlaq. Padahal sikap demikian juga dilakukan oleh Shidarta Gautama, Putri Diana, Bunda Theresa dan orang2 non muslim lainnya. Jika moral adalah akhlaq apakah Putri Diana seorang yang berakhlaq mulia?.
Jika Akhlaq selalu identik dengan kenyamanan, ketenangan, kedamaian, apakah para mujahid yang berperang dan membunuh di jalan Alloh tidak berakhlaq ?. Atau seorang mujahid yang siap meninggalkan Anak dan istri demi panggilan jihad, dia tidak berakhlaq ?.
Moral adalah kecenderungan sikap manusia, ia berpotensi selalu ingin berbuat kebajikan. Namun belum terjamin dia mendapat nilai dari Alloh, karena tindakannya berdasar instink belaka. sementara Akhlaq adalah sikap seseorang yang berlandaskan Aqidah dengan kesiapan menjalankan Syari’at. Seorang Nabi Ibrahim As yang siap menjalankan perintah Alloh, yaitu menyembelih putranya, Ismail adalah Akhlaq mulia.
Seorang “Da’i” yang selalu menggembar-gemborkan senyum, sapa, hormat, toleran, baik adalah seorang moralis sejati, bukan seorang Da’i Akhlaqiyah, tak ubahnya Putri Diana dan Bunda Theresa. Apalagi isi ceramahnya tanpa dibarengi dengan ayat-ayat Qur’an.
& Komentar |
Agama, Analisa, Artikel, Budaya, Islam, Kajian, Manhaj, berita |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Desember 21, 2007
Terlepas dari pro kontra atau syar’i tidaknya aksi yang dilakukan oleh Imam Samudra dkk( terpidana mati bom Bali), namun kita patut mengacungkan jempol atas ketegaran mereka menghadapi maut dengan satu keyakinan akan memperoleh JANNAH. Amien….
Disaat kebanyakan orang dihinggapi penyakit hubbudunya/cinta dunia wa karohiyatul maut/benci mati saat ini. Termasuk para selebritis Agama, atau yang biasa disebut Da’i Kondang atau mubaligh populer. Ngomong2 menurut Ust.Anwar Sanusi ada seorang ustadz Da’i muda yang sering nongol di TV , sempat2 membeli plat nomor mobilnya seharga 14 juta…!. tatkala umat kelaparan, karena kenaikan berbagai harga kebutuhan dasar, seperti sembako…!. Apakah umat akan cukup kenyang dengan teori2 agama dan tiap hari menonton kemegahan sang ustadz yang begitu nyamannya bepergian umroh/haji dengan ahlul maksiyat(artis2 pornoaksi), IRONIS….
Untuk itu ucapan Selamat dan Salut pantas diacungkan kepada saudara, teman kita Imam Samudra, Amrozi, Ali Ghufron dan kawan2 yang rela meninggalkan kelezatan dunia dan mendapat makian penghuninya….!
Namun bukan berarti…, aksinya pantas diikuti (itupun kalau mereka sendiri dalangnya)
& Komentar |
Agama, Aktual, Analisa, Islam |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Desember 21, 2007
Pada Idul Adha kali ini, marilah kita melakukan ritus napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim As yang begitu amat cintaNya kepada Kekasihnya, Alloh Azza wa jalla. Sehingga rela mengorbankan putra tercintanya yang sudah diharapkan kelahirannya selama seratus tahun. Itulah seorang Pecinta Sejati….!
Marilah kita menjadi Ibrahim-Ibrahim kecil yang senantiasa siap mengorbankan “ismail” yang paling kita cintai.
Memasuki pergantian tahun, dari tahun 1428 Hijriah ke tahun 1429 Hijriah marilah kita melakukan ritus napak tilas perjalanan Nabi Muhammad Saw, khususnya mengenai peristiwa HIJRAH. Dari Hijrah Nabi inilah dimulainya pengidzharan Al-Islam dan terwujudnya peradaban yang Paling Agung sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Tidak ada komentar » |
Tidak terkategori |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Desember 9, 2007
“Dialah Yang telah mengutus seorang Rasul dengan membawa petunjuk dan Dienul Haq, agar dimenangkan atas seluruh Dien yang ada, dan Allah sebagai Saksi/walau orang-orang Musyrik membencinya”,(Qs 48 : 2
Pada hakekatnya seorang muslim yang berjuang atau biasa disebut Mujahid adalah teroris/ancaman bagi orang-orang musyrikin dan kafirin. Sebagaimana dicontohkan oleh seorang Muhammad bin Abdullah. Beliau sebelum diangkat menjadi Rasul mendapat gelar terpuji dari orang-orang Musyrikin Quraiys, yaitu gelar “Al-Amin”. Karena perilakunya tidak mengancam eksistensi Dien/ideologi mereka, bahkan perbuatannya banyak memberikan manfaat. Sebagaimana halnya pemindahan Hajarul Aswad yang fenomenal itu.
Namun setelah beliau mendapat tugas untuk Idzharuddin, menegakkan Dienulloh di muka bumi, beliau mendapat perlakuan yang kontradiksi dengan gelar yang pernah diberikan kepada beliau. Bahkan beliau mendapat gelar baru, yaitu “Penyihir, pendusta, touble maker”. Sehingga seorang Umar Bin Khotob sebelum masuk islam sempat terpengaruh, sampai hendak membunuh Nabi Saw. Karena Umar adalah “seorang Pembela Kebenaran versi Ideologi Jahiliyah”. Kehadiran Nabi Muhammad dengan misi barunya seakan memporak porandakan sistem yang sedang dibangunnya. Namun dengan RahimNya, Allah membukakan Hidayah bagi sang “Al-Faruq”.
Dimanapun dan kapanpun Seorang pejuang Dienul HAQ adalah seorang Teroris bagi para pembela Dienul Batil. Jadi amat heran seandainya ada tokoh2 yang mengaku Muslim merasa perlu mengklarifikasi kepada Thogut bahwa Islam bukan Teroris. Jadi apa selama ini yang mereka perjuangkan…?.
Teroris Gadungan
Benarkah gambaran, bahwa Amrozi Cs sebagai aplikasi terorisme islam…?. No…, No itu adalah Teroris Gadungan…!. Islam berstrategi dalam menteror kaum musyrikin. Lagi pula dalam al-Qur’an bahwa peperangan fisik dilakukan apabila diserang lebih dulu, dan tidak boleh melampaui batas, merusak bangunan, membunuh orang sipil, binatang, menebang pohon. Melakukan pemboman seperti itu tidak ada Ayat Qur’an atau hadits yang menjelaskannya. Jadi ada dalang dibalik teroris Gadungan ini…!
Tidak ada komentar » |
Analisa, Islam, Manhaj |
Permalink
Ditulis oleh elfatih2007
Desember 8, 2007
Harokatul Hadamah adalah gerakan yang bertujuan menghancurkan islam dan perjuangannya dengan menggunakan simbol-simbol islam. Sehingga umat islam yang masih awam merasa phobi (takut) kepada setiap pergerakan yang bernuansa islam. Hal ini mengakibatkan kontraproduktif dengan misi membentuk manusia yang islami dan masyarakat madani.
Fenomena Aliran Sesat
Pemberitaan mengenai gerakan yang mengatasnamakan islam yang disinyalir sesat dan menyesatkan tengah hangat beberapa waktu ke belakang, bahkan hingga kini. Sebenarnya fenomena aliran sesat ini adalah persoalan klasik yang menimpa umat islam. Hal ini pertama kali terjadi dalam sejarah islam adalah pasca wafatnya Nabi Saw, yaitu munculnya Tokoh Musailamah Al-Kadzab yang mengaku Nabi setelah Nabi Saw, Padahal Nabi Saw lah sebagai khotaman Nabiyyiin/penutup para nabi (Qs 33 : 40).
Walaupun vonis sesat hanya berhak dikeluarkan oleh lembaga berwenang (Kejati, MUI), namun umat islam sendiri bisa menilai sebuah gerakan terindikasi sesat. Diantaranya adalah mengubah hal-hal yang bersifat prinsipil (Aqidah) dan syari’at yang sudah baku (Qs 5:3). Diantaranya pengakuan kenabian, mengubah redaksi syahadatain, menggugurkan kewajiban syari’at (Shalat, zakat, shaum, haji dll).
Mengubah Syahadatain
Mengubah redaksi syahadatain yang dilakukan oleh Ahmad Mushadeq dan pengikutnya dalam kelompok yang menamakan diri Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah merupakan “Dlolalan mubiin”(kesesatan yang nyata). Yakni “Asyhadu Allaa ilaaha illalloh wa asyhadu anna al-masiih al-mau’ud rasulullah”. Al-Masih Al-mau’ud yang dimaksud adalah Mushadeq sendiri. Sehingga dari ikrar ini tidak secara langsung Mushadeq telah memproklamirkan diri sebagai Nabi dan Rasul.
Begitupun yang dilakukan oleh Ahmadiyah. Mereka mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi karena nama yang tercantum dalam Qs al-Shaf ayat 6 adalah AHMAD. Mereka beranggapan bahwa Nabi Muhamad bukan Nabi terakhir. Namun Mirza Ghulam Ahmad lah sebagai pendiri kelompok Ahmadiyah yang dimaksud dengan Nabi terakhir. Mereka menafsirkan kalimat khatam dalam Qs Al-Ahzab (33) : 40 dengan pengertian “cincin”. Hingga mereka mengkultuskan Mirza Ghulam Ahmad (Qs 2 : 165-167), hampir sama dengan orang-orang Yahudi mengkultuskan Uzair, orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa Putra Maryam (Qs 9 : 30-31). Bahkan mereka memiliki kitab tersendiri sebagai pedoman hidup, yaitu “Tadzkiroh”, hampir menyamai kedudukannya dengan al-Qur’an (Qs 2 : 79-80). (“SYAHADATAIN, Syarat Utama tegaknya syariat