RSS

Demokrasi…, sebuah kemunduran peradaban !???

Syahdan sebelum Muhammad bin Abdullah diangkat oleh Allah Swt sebagai rasul-Nya, keadaan di Mekah dan di seluruh dunia pada umumnya sedang dalam masa mundurnya peradaban. Peradaban yang dimaksud adalah peradaban kemanusiaan, walau secara teknologi saat itu sudah banyak kemajuan. Begitupun dalam hal kesusasteraan orang Mekah pada khususnya sudah pandai. Bahkan lirik-lirik dalam syair mereka adalah berbicara tentang ketauhidan, tentang Ibrahim as dan millahnya. Mereka juga secara ritual sudah berhaji, berinfaq, bahkan sembahyang. Namun mengapa Islam menyebutnya masa JAHILIYAH, masa kemunduran peradaban.

Karena Syair-syair yang mereka lantunkan adalah hanya bentuk seni belaka, bukan lahir dari jiwa tauhid. Syair mereka gunakan untuk menarik simpati, dukungan dan popularitas. Dimana pada kenyataannya syair yang mereka lantunkan tidak diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

  • Hukum positif yang berlaku adalah Hukum nenek moyang (Qs 5 : 104, 2:170).
  • Tali ikatan diantara mereka adalah ikatan Ashobiyah/Qobilah atau kesukuan (Quraiys).
  • Mereka sering membangga-banggakan kelompok dan sukunya. Dan mereka saling membela sesama suku mereka apabila ada yang mendzalimi, walaupun yang dibelanya di pihak yang salah.
  • Mereka saling merasa yang paling berhak dan layak memimpin dibanding kelompok atau suku yang lainnya (ingat, kisah pemindahan hajarul aswad setelah batu hitam tersebut terbawa arus banjir dari tempatnya/Ka’bah).
  • Masyarakatnya tidak segan saling membunuh karena persoalan sepele. Anak perempuan dibunuh, karena merasa aib dan tidak bisa berperang (contoh kisah Umar bin Khotob di masa jahiliyah)

Setelah sang al-Amin diangkat jadi Rasul-Nya dan mengembangkan misinya ke seluruh penjuru dunia, dunia kembali berada dalam puncak kemajuan peradaban. Perbudakan dihapuskan, perempuan dihargai, bahkan dimuliakan sejajar dengan kaum pria. Hukum Allah adalah hukum positifnya. Wilayah-wilayah di dunia yang bertahkim ke madinah mengalami kemajuan di berbagai bidang, baik segi dunia maupun akhiratnya. Toleransi dan perdamaian bukan hanya slogan belaka, tapi dipraktekkan.

Kini 1400 tahun lebih pasca kejayaan Islam dan dunia, umat Islam kembali kehilangan kepemimpinan dan kekhilafahan. Dunia kembali mengalami masa suram, masa kemunduran peradaban.

Ayat-ayat Allah hanya jadi kamuflase untuk meraih simpati, dukungan dan popularitas, sementara….

  • Hukum positif yang berlaku adalah hukum nenek moyang/kultur budaya bangsa
  • Tali ikatan diantara manusia adalah ikatan Ashobiyah/Kebangsaan/Nasionalisme
  • Mereka saling membangga-banggakan pribadi, golongan, partai dan bangsanya. Mereka saling membela sesama mereka, walupun yang dibelanya salah, pelaku KKN.
  • Mereka merasa paling layak dan berhak menjadi pemimpin , Presiden, anggota Dewan dibanding orang lain, kelompok lain, partai lain atau bangsa lainnya.
  • Masyarakatnya tidak segan saling membunuh karena persoalan sepele. Bayi laki-laki dan perempuan dibunuh, bahkan sebelum lahir ke dunia-pun (KB dan Aborsi) dengan alasan tidak bisa makan atau karena hasil hubungan perzinaan.

Semua itu mereka sebut sebagai kemajauan peradaban dengan slogan DEMOKRATISASI. Mereka mengkalim sedang membuat peradaban gemilang. Namun bagaimana kenyataan yang terjadi…..?

Allah berfirman, “Apabila mereka diseru untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawabnya sesungguhnya kami sedang membuat kemaslahatan. Ingatlah, sesungguhnya mereka sedang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya (Qs al-Baqoroh [2] :11-12)

 

 

 

Merindu Negara Allah

Allah menjadikan bumi ini sebagai tempat manusia untuk beribadah kepada-Nya. Maka untuk mewujudkan tujuan Allah mencipta manusia (Qs 56:51) dan menjadikan bumi ini, maka Allah merancang sistem (tata aturan, hukum atau Syari’at) dalam Diinul Islam agar manusia bisa beribadah kepada-Nya dengan contoh yang diperagakan oleh Rasul-Nya. “Dia yang telah mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan Dinul Islam agar dimenangkan atas seluruh Din yang ada, walaupun orang-orang musyrik tidak menyuakainya (Qs 48 : 28, 9 :33).

Secara logika maka kita bisa memahami bahwa bisa terlaksananya penghambaan manusia kepada Rab-nya secara sempurna dan menyeluruh dalam segala asfek kehidupan, bukan hanya ritual saja, hanyalah dalam wujud sebuah institusi yang berwenang dan berkuasa/berdaulat penuh secara de jure de facto. Yang kini disebut sebuah lembaga negara. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasul Saw dengan membentuk MADINAH (tempat tegaknya dinul Islam) di Yatsrib.

Di Wilayah Nusantara ini, ideologi/cita-cita untuk mewujudkan lembaga pengIbadahan pasca runtuhnya kekhilafahan Islam ini telah dirintis kembali oleh para pejuang Islam yang bahu membahu melawan kaum Kuffar Belanda yang menjajah wilayah ini. dari mulai Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro dll hingga HOS Cokroaminoto, SM.Kartosuwiryo dll. Dalam perkembangannya pada saat itu hingga era Revolusi pasca Proklamasi, baik itu Proklamasi RI maupun Proklamasi NII. Seluruh umat Islam yang diwakili oleh tokoh-tokohnya telah mewujudkan keseriusannya untuk membentuk Negara Allah (kita sebut demikian, karena istilah Negara islam telah dimanipulasi, dipolitisasi dan diracuni, terutama oleh KW IX al-Zaytun). Baik itu tokoh-tokoh yang tergabung dalam wadah yang konstitusional menurut istilah mereka. Seperti halnya Muhamad Natsir (Masyumi), Wahid Hasyim (NU), Agus Salim, Abdul Kahar Muzakir dll yang merumuskan Piagam Jakarta dan memperjuangkan untuk menjadikan Islam sebagai dasar Negara dalam Sidang konstituante tahun 1956 di Bandung, maupun yang berjuang dengan pola furqon sebagaimana halnya SM.Kartosuwiryo. Kita patut bersyukur, karena saat itu tokoh-tokoh Islam seragam komitmen dengan keislamannya untuk mewujudkan daulah Islamiyah.

Namun kini, hal itu tidak terjadi lagi. Tokoh-tokoh yang mengaku sebagai tokoh Islam justru menolak kalau boleh kita sebut demikian. Seperti halnya ungkapan mendiang Gus Dur yang tokoh NU, mengatakan musuh saya adalam Islam kanan, islam yang ingin menjadikan Islam sebagai dasar Negara. Kemudian Amien Rais, tokoh Muhamadiyah mengatakan bahwa tidak ada ayat dalam al-Qur’an yang menerangkan tentang wajibnya tegak Negara Islam. Begitupun Imam Masjid Istiqlal, Ali Mustofa yakub mengatakan bahwa bagi siapa saja mau menegakkan Negara Islam, maka silahkan keluar dari Indonesia dan mencari negara lain yang mau menegakkannya (TvOne-Apa Kabar Indonesia, 4/04/2011).

Padahal dalam Qs 48:28 dan Qs 9:33 diatas bahwa hanya orang-orang musyrik yang membenci Idzharnya/tegak nya al-Islam, mengapa mereka muslim bahkan tokohnya, justru bersikap seperti orang musyrik?.

Kita sebagai orang beriman tentu ingin beribadah sebagaimana Ibadah yang dikehendaki Allah dengan tata pelaksanaannya telah dicontohkan Rasul-Nya. Maka kita menyadari seruan Allah untuk melaksanakan Islam secara kaffah. “wahai orang-orang beiman masuklah kamu kedalam Islam secara menyeluruh/kaffah….(Qs 2:208). Hal itu hanya bisa terlaksana dalam wadah yang bernama NEGARA ALLAH. Bagaimana bisa kita melaksanakan islam dan hukum-hukumnya secara menyeluruh bila kita bersama-sama juga untuk melaksanakan Dasar Negara buatan manusia, yang digali dari nilai-nilai budaya nenek moyang, “Jika mereka diseru untuk menjalakankan apa-apa yang diturunkan Allah dan kepada rasulNya, mereka menjawab cukuplah apa-apa yang datang dari nenek moyang kami. Walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui dan tidak mendapat petunjuk (QS 5 : 104). “Bagimu Dinmu, Bagiku Dinku “(Qs al-Kafirun ayat 7). Disana akan terjadi sekulerisme, pemisahan antara Islam dengan Negara.

 

 
 

Radikal Yes…, Anarkis No….!

Belakangan ini publik kembali diramaikan oleh dua kata ini, Radikalisme dan Anarkisme. Dalam hal ini Media massa mempublikkan dua kata ini seolah satu rumpun, satu aksi yang satu sama lain saling ada keterkaitan dan keduanya berkonotasi negatif. Padahal beda, yang satu positif dan harus dimiliki oleh orang yang memiliki cita-cita atau ideologi, yaitu Radikal, yang satunya lagi bersifat negatif yaitu Anarkis, sikap dekstruktif dan cenderung memaksakan kehendak dengan cara kekerasan sekalipun.

Sehingga sebagian umat islam terhasut propaganda media massa, dengan mengembar-gemborkan apa yang dinamakan deRadikalisasi. Padahal Radikal secara kata adalah “mengakar”, dan ini harus dimiliki oleh muslim yang berAqidah. Karena tanpa AKAR, batang pohon tak akan tumbuh, begitu-pun buah tak akan jadi-jadi selamanya. Walaupun ada hanyalah pohon-pohonan atau buah mainan yang terbuat dari plastik. Akarnya-pun terbalik, jadi hiasan belaka. Dan inilah dampak dari aksi deRadikalisasi, umat islam hanya menjadikan Syari’at sebagai hiasan belaka, berhenti cukup pada kegiatan-kegiatan ritual dan seremonial belaka. Tanpa memberikan manfaat pada kehidupan nyata/IPOLEKSOSBUDHANKAM.

Jadi Radikal/Akar adalah Aqidah yang harus dimiliki tiap individu muslim, karena Akar yang baik dan menghujam ke dalam tanah akan menumbuhkan pohon (syari’at) yang menjulang tinggi ke langit dan kokoh serta menghasilkan buah (Akhlaq) yang akan memberikan manfaat bagi manusia (rahmatan lil alamin). Muslim yang Radikal akan bersikap/bersyari’at dengan akhlaq yang terbaik. Ia menyadari bahwa Islam adalah agama kedamaian dan kesejukan tanpa paksaan di dalam nya (Qs 2:256), apalagi untuk menyampaikan pesan-pesannya dengan cara kekerasan/anarkis. Hal itu tidak disyari’atkan di dalam Islam. Karena di dalam Islam, Qital atau peperangan itu hanya  media untuk mempertahankan Izzah/kemuliaan ketika Islam diperangi agar Dakwah tidak terganggu. Kemudian dalam peperangan-pun islam terikat oleh aturan-aturan agar tidak melampaui batas. Tidak menghancurkan bangunan, menebang pohon, membunuh hewan ternak serta membunuh orang-orang sipil (Qs 3 : 190-193).

Jadi amat tidak relevan jika aksi-aksi anarkis seperti Bom bunuh diri dan sejenisnya dialamatkan kepada muslim yang Radikal. Muslim yang radikal tahu aturan dan Syari’at, ia tidak akan merusak fisik dan citra islam itu sendiri. Ia akan memberikan manfaat bagi umat manusia sebagaimana sifatnya Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

Wallohu ‘alam bishowab

 

Isu Cuci Otak, Cuci Otak kotor(OMES,PIKTOR)

Belakangan ini kita kembali diramaikan oleh berita isu cuci otak disamping berita teror bom yang kembali marak. Tuduhan pun langsung diarahkan kepada Islam dan para pejuangnya. Sungguh kerikil perjuangan yang mesti dihadapi sebagai dinamika perjuangan, bukannya surut untuk mengendorkan ghiroh jihad, apalagi menjadi apatis, Naudzubillah. Karena kalau sampai apatis, Yahudi-lah yang menang, karena memang itu-lah tujuan mereka merekayasa drama isu cuci otak dan teror bom, agar para kaum mujahid muda apatis dan hidup hedonis/hubuddunya wa karohiyatul maut. Sehingga dominasi dan eksistensi mereka tetap berlangsung di belahan bumi ini tanpa ada yang mengganggu gugat.

CUCI OTAK

Publik, terutama media yang memberikan istilah ini seolah-olah tidak memahami tata bahasa atau EYD. Istilah cuci otak lebih cenderung bersifat tendensius untuk menyudutkan pihak tertentu, khususnya Al-Islam yang benar-benar mengajarkan Tauhidullloh. Secara kata sendiri OTAK adalah raga/jasmani yang bisa terlihat, alat semata. Jadi tidak tepat kalau diistilahi OTAK. Kalau cuci otak, maka yang harus dibuka adalah batok kepala oleh ahli bedah, kemudian gumpalan otaknya dicuci entah pakai apa dicucinya, detergen, sabun, sampo atau apa???. Mungkin yang mereka maksud adalah CUCI AKAL PIKIRAN. Dan istilah CUCI-pun kurang tepat, karena CUCI yang dimaksud mereka berkonotasi negatif. Padahal CUCI adalah suatu pekerjaan yang baik, mencuci berarti membersihkan benda, pakaian, atau badan dari yang kotor-kotor. Ini yang perlu diralat oleh ahli bahasa, kecuali kalau tetap mempertahankan istilah ini untuk menyudutkan dengan menyebar fitnah terhadap Islam. Maka kita terima, karena mungkin mereka merasa selama ini OTAK mereka KOTOR dengan OMES (Otak MESum) atau PIKTOR (PIKiran KOTor), sehingga perlu diCUCI dengan Dakwah Tauhidulloh agar kembali FITROH sebagaimana ketika ia lahir.

Isu Cuci Otak berkedok NII

Lalu bagaimana dengan fakta dan kesaksian korban dan mantan yang menyatakan bahwa para pelaku “Cuci Otak” ini adalah anggota/warga NII, dengan ajaran2 menyimpang (memvonis ortu kafir, meninggalkan ortu, bai’at tutup mata,dikuras uangnya untuk infaq dsb). Sehingga citra NII dari mulai Orde Lama, Orde Baru hingga era ini semakin negatif dan terpuruk. Di Jaman Orde Lama dibawah Rezim Soekarno dituduh Gerombolan, padahal kita tahu para gerombolan yang merampok dan membakar rumah-rumah penduduk adalah gerombolan komunis yang menyusup dan berpura-pura sebagai pejuang Darul Islam. Karena mereka iri penduduk mendukung perjuangan NII dengan mengirim bahan makanan ke gunung-gunung untuk para pejuang Hizbulloh/TII. Sehingga eksistensi NII ini cukup bertahan lama dari tahun 49 sampai 60-an. Maka lumbung-lumbung padi penduduk pendukung  sebagai bekal perjuangan tentara Hizbulloh dibakar. Dan langsung mereka menuduh para pelakunya adalah TII sendiri, ironis.

Lalu di jaman Orde baru dibawah rezim Soeharto, para hizbullohpasca SM.Kartosuwiryo dihukum mati turun gunung dan berbaur dengan masyarakat. Maka mereka (kaki tangan kepercayaan Soeharto, yaitu Ali Moertopo dan LB.Moerdani) melakukan penyusupan untuk kemudian mendompleng Komandemen Wilayah IX yang kala itu dibawah koordinasi Adah Jaelani hingga akhirnya berdiri Ponpes Super megah Al-Zaitun di Haur Geulis Indramayu dibawah komando Abu Toto atau Syech Panji Gumilang, yang mengajarkan para “Da’inya” untuk merekrut Mad’u/objek Dakwah dengan iming-iming berdirinya kembali NII sebagai Madinah untuk kemudian meninggalkan NKRI sebagai Mekah, jadilah Hijrah Mekah-Madinah. Sementara pusat “Madinah” sendiri yakni Al-Zaitun jadi kebanggaan tokoh-tokoh Orde Baru yang notabene dianggap musuh dan kafir oleh para pengikut NII Al-Zaitun ini, super ironis. Dimana tiap-tiap Milad/HUT Al-zaitun, tokoh-tokoh semacam Harmoko, Wiranto, Habibie, Try Sutrisno, Hendropriyono berbondong-bondong menghadiri hajatan tahunan ini. Termasuk salah satu gedung dinamai Gedung Soeharto. Dari sini saja kita sudah bisa membaca, siapa dibalik maraknya kembali isu aliran sesat saat ini. Dan paling mirisnya pembangunan gedung ini diantaranya didanai oleh para “da’i” nya yang selain merekrut juga mengumpulkan infaq sebanyak-banyaknya dengan cara apapun, mencuri, menipu dan berbohong kepada ortu. Cara-cara keji itulah yang selalu dituduhkan kepada Negara Islam yang diproklamasikan oleh SM.Kartosuwiryo tanggal 7 Agustus 1949. Proklamasi yang sudah jauh-jauh hari sudah dipersiapkan dan disosialisasikan sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. Dimana saat sosialisasi itu hadir Pemuda marhaen, yang kemudian “menculik” Soekarno Hatta ke Rengas Dengklok agar secepatnya memproklamasikan RI supaya tidak kalah start dengan para Hizbulloh. Namun usia Proklamasi 1945 ini hanya bertahan sampai tahun 1949, karena terus diganggu oleh Agresi Militer Belanda.. Dan akhirnya kalah di meja perundingan Renville, dimana wilayah RI tinggal Jogjakarta saja, bahkan Soekarno Hatta sendiri ditawan di Digul. Dalam vacum of power inilah Negara Islam diproklamasikan di Jawa Barat setelah melakukan berbagai peperangan dengan Militer Belanda yang ingin mendirikan negara Boneka nya, Negara Pasundan.

Pembaca budiman !!! Marilah cuci otak kita dari prasangka/suudzon tentang isu-isu murahan dan gosip-gosip klasik, sehingga akal dan jiwa kita benar-benar suci bersih agar bisa menerima kebenaran dengan lapang dada. “Janganlah kamu mengikuti kebanyakan manusia (yang menebar isu), karena omonganmereka hanyalah prasangka belaka dan kebanyakan mereka berbuat bohong….(Qs 6 : 116)

 

Lagu Bubuy Bulan & Balonku, lagu Propaganda Komunis?

Di jaman jaya-jayanya di era Orde Lama, kaum komunis yang tergabung dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) rajin membuat propaganda, diantaraanya melalui lagu-lagu ciptaan seniman-senimannya. Diantaranya lagu yang terkenal, dan lagu ini juga yang dinyanyikan Gerwani di lubang Buaya ketika terjadi pembantaian terhadap 7 Jenderal Revolusi, “Ini dadaku, mana dadamu,,, hancurkan kepala batu”

Bagi masyarakat Jawa Barat, mungkin sudah tidak asing lagi dengan bait lagu sunda lawas yang dikarang Benny Corda dan Djuhari berikut ini,

Bubuy bulan
Bubuy bulan sangray bentang
Panon poe
Panon poe disasate

Unggal bulan, unggal bulan
Unggal bulan abdi teang

Unggal poe,unggal poe
Unggal poe oge hade

Situ Ciburuy
laukna hese dipancing
Nyeredet hate
Ningali ngeplak caina

Duh eta saha nu ngalangkung
unggal enjing
Nyeredet hate
Ningali sorot socana

Coba kita perhatikan bait lagu diatas, disana ada kalimat Bubuy bulan yang artinya Bulan dibubur, Sangray bentang artinya Bintang digoreng diatas kuali tanpa minyak goreng.  Tahukan anda di Jaman Orde Lama Komunis yang berlogo Palu Arit sangat membenci sekali golongan islam, khususnya yang diwakili Masyumi dan NII yang berlambang Bulan Bintang . Dengan dikarangnya lagu diatas diindikasikan ada unsur kesengajaan untuk menyerang Golongan Islam dengan menghinakan lambangnya, yaitu Bulan dibubur sampai betul-betul lembek tak enak dimakan, begitupun Bintang digoreng tanpa minyak goreng lagi. ???????

Lalu perhatikan juga Lagu anak-anak karangan AT Mahmud, Balonku

Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Hijau, kuning, kelabu
Merah muda dan biru
Meletus BALON HIJAU DOR!
Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
Kupegang erat-erat

Komunis dengan PKI-nya disamping Palu Arit sebagai logo nya, juga MERAH adalah warna kebesarannya. Sedangkan Golongan Islam disamping Bulan Bintang sebagai lambang, HIJAU warna kebanggaannya. Lalu Balonku diatas kenapa Warna Hijau yang dipilih meletus, bukan warna kuning, kelabu, Merah muda atau Biru???,

coba perhatikan komentar seseorang berikut ini,

ane masih penasaran nih gan? siapa yang nyiptain lagu balonku
agama beliau apa ya gan?

sekedar berfikir.

balonku ada lima
rupa-rupa warnanya
hijau kuning kelabu
merah muda dan biru
meletus balon “HIJAU”

” kenapa harus balon hijau ya gan? itu kan warna syurga! “

Mari kita yang mencintai agama Allah ini bersama-sama mencari tahu kebenarannya, siapa dan apa maksud menciptakan lagu diatas, jangan sampai karena ketidak tahuan kita, kita latah menyanyikan lagu-lagu musuh islam yang berindikasi propaganda diatas, apalagi sampai mengajarkannya lagi kepada anak-anak kita yang semestinya diajarkan untuk mencintai agamanya ini.

 

LAGI-LAGI…KHILAFAH….!!!

Y44h.…, Kh4lafah itulah kat4 Y4Ng 5eRiNg Qta dEnGar gencar digEmb4r-GemB0Rk4N Ol3h SeBu4h “HizBiyyah” (GOloloNgan), baik itu dalam tulisan2 p3NerB!TanNy4 maupuN dalam aks!2 TuRun Ke J4L4N-nya/!stilah lain daripada Demonstras!….,

menjadi sebuah IrOn! meNeriaKkan perlunya tegak Khilafah….sement4Ra Hizb itu sendiri berada di sebuah NeG4R4 Kontr4 Kh!lafah, yaitu Negara Ashobiyah (Nasionalisme) dan yang dKritis!nya adalah KeB!j4kan Negara ashobiyah itu sendiri…., dan teramat !rOni untuk memperjuangkannya-pun menggunakan pola DEMONSTRASI, yang notabene bagian daripada Demokrasi, yang oleh Hizb itu sendiri sering ditentang…, tak ubahnya menjilat ludah sendiri . Lalu diantara yang meneriakannya di jalanan saat aksi unjuk rasa adalah para akhwat berjilbab lebar…, yang oleh Rasul sendiri aurat wanita/diantaranya suara wanita harus dijaga kehormatannya, wanita dalam bersuara mesti lembut, santun, tidak layak mengeluarkan suara keras, apalagi di depan muka umum…!.

 

Kalau mendengar Khilafah yang diusung oleh Hizb ini Qta diingatkan oleh sebuah obat yang bernama Obat Generik…., obat sapu jagat, berbagai penyakit bisa disembuhkan olehnya. Ketika berbicara Pendidikan mahal, khilafah alternatifnya, BBM naik, Harga Kebutuhan pokok naik, TDL naik, KKN merajalela, Pornoaksi/pornografi marak, ekonomi sulit dan kesejahteraan rakyat tidak kunjung terpenuhi…., lalu dijanjikan dengan sebuah kata/sistem yang bernama Khilafah. Benarkah demikian???, BENAR…sebagaimana dijanjikan Allah dalam Qs 7 : 96, “Seandainya penduduk Negeri beriman dan bertakwa (terlaksananya Hukum Allah dalam sbuah Daulah/Khilfah) maka kemakmuran akan terwujud”, TAPI apakah itu orientasi dari penegakkan Khilafah yang diusung oleh Hizb ini????, dan memandang bahwa Khilafah adalah sebagai solusi atau alternatif sebagaimana yang dikampanyekannya???… Lalu apakah bedanya dengan para Juru Kampanye Partai Politik yang selalu berbicara janji2 mensejahterakan rakyat, kemakmuran, pendidikan gratis, BBM murah dsb???? PADAHAL Masyarakat sudah jenuh dengan janji-janji manis tentang kesejahteraan dan kemakmuran, sudah terlalu banyak janji manis diobral oleh politikus dan demo-demo atas nama rakyat menuju sejahtera, padahal sebaliknya dengan demo tersebut justru memacetkan jalan, yang berdampak mengurangi produktifitas usaha/kerja.

Rakyat atau umat sebenarnya perlu difahamkan akan makna hidup untuk ibadah semata dengan sebenar-benarnya Ibadah dalam segala asfek kehidupan. Sehingga jika umat sudah faham akan tujuan hidup, ia akan senantiasa strugle, bertahan dalam menghadapi dinamika kehidupan. Karena kesulitan dan kesenangan hidup adalah bagian daripada warna  kehidupan di dunia yang bersifat al-mutaghyyir/dinamis, kesejahteraan dan kesenangan hakeki hanya ada di akhirat. Jika sudah terwujud masyarakat yang demikian (beriman&bertakwa), maka secara otomatisasi Khilafah Fil Ardli akan terwujud sesuai dengan Kehendak Allah (Qs 23:55) dan cara yang dicontohkapun mengikuti pola RasulNya. Dengan tegaknya Khilafah bukan jaminan kesejahteraan dalam hal MATERI seperti yang dijanjikan oleh Hizb pengusung Khilafah ini terwujud. Kita lihat sejarah Madinah sebagai basis Khilafah tegak di Yatsrib, warga islam justru kesulitan ekonomi karena selalu dirongrong oleh Negara2 Kafir disekitarnya, seperti dalam Perang Ahzab.

Menegakkan Kekhilafahan BUKANLAH SOLUSI ATAU ALTERNATIF, tapi ia KEWAJIBAN yang harus ditunaikan oleh siapa saja yang mengaku muslim, dan tegaknya Khilafah bukan berorientasi kesejahteraan materi, karena banyak juga negara-negara NON Khilafah yang sanggup mensejahterakan rakyatnya, seperti Negara-negara Eropa, Amrik, Singapore dll….!. Memperjuangkan tegaknya Khilafah adalah bagian daripada proses menuju RidloNya…, sekali lagi  semata-mata untuk mendapatkan Ridlo Allah saja/Mukhlisiina lahuddiin, ikhlas tanpa berharap selainNya. Allah-lah yang akan menjamin Fi Dunya Hasanah dan Fil Akhiroti Hasanah. Hasbunallah Wa Nikmal Wakiil:)

 

Tahlil Vs Tahlilan

Kalimah Tauhid Laa Ilaaha Ialloh atau biasa disebut kalimah Tahlil adalah suatu kalimah yang sarat makna. Pada era kejayaan Islam kalimah Tahlil ini dapat menggoyangkan dominasi negara-negara adidaya kala itu, Romawi dan Persia. Namun kini kalimah ini hanya bisa menggoyangkan badan dan kepala dengan pelapalan berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus kali hampa makna. Ironisnya kalimah tahlil ini tidak lebih hanya sebatas kemasan, dimana isinya justru berupa ajaran-ajaran yang bertolak belakang dengan makna kalimah ini, yakni ritual kenduri, “makan-makan” di kematian dengan dalih mengantar roh yang meninggal secara bertahap, hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus dst. Bukankah ini ajaran nenek moyang yang jauh dari nilai-nilai uluhiyah?. Sehingga istilah Tahlil-pun diganti menjadi Tahlilan. Kita sepakat Tahlil adalah sesuatu yang dianjurkan, bahkan diwajibkan untuk senantiasa dilapalkan setiap saat, namun kita tidak setuju dengan budaya Tahlilan yang identik dengan ritual agama non islam.

Dan kita juga prihatin, budaya tahlilan ini juga kerap dilakukan oleh para penguasa negeri ini yang notabene sekuler ketika salah seorang keluarganya meninggal. Sehingga masyarakat awam merasa terpicu juga untuk ikut-ikutan merayakannya ketika ditinggal mati oleh keluarganya. Memang tugas para penyeru sunnah dan para penentang bid’ah makin berat. Tapi inilah resiko perjungan, yang penghargaannyapun tak tanggung-tanggung, TROFI PIALA AKHIRAT.

 

Selamat Tahun Baru Jahiliyah

Hari ini Jum’at, tanggal 01-01-2010 menurut penanggalan Masehi/Tahun Syamsiyah, manusia di seluruh dunia-tidak ketinggalan yang mengaku umat islam merayakan ritual tahunan yang dimulai tadi malam, pukul 00.00. Meniup terompet, menyalakan kembang api, berposta pora hingga larut malam bahkan hingga dini hari tadi.

Penyambutan tahun baru masehi seakan sesuatu yang wajib dilakukan dengan berbagai cara dan pesta pora. Dari manakah awal mula kebiasaan yang seakan jadi “ibadah” tahunan ini?.

Mereka, khususnya umat islam mejawabnya cukup dengan tidak tahu karena ini sudah menjadi budaya rutin yang turun temurun. Kita harus melestarikannya, begitulah kilahnya. “Jika mereka diseru untuk menjalankan apa-apa yang diturunkan Allah (al-Qur’an) dan kepada Rasul (as-Sunah) mereka menjawabnya, cukuplah apa-apa yang datang dari nenek moyang kami, walaupun nenek moyang mereka (melakukan hal itu) tidak tahu dan tidak berdasarkan petunjuk” (Qs 5 : 104).

Atau mereka melakukan budaya itu, karena memang kebanyakan orang merayakannya. Jika dia tidak ikut serta akan dicap sebagai orang yang ketinggalan jaman, tidak bergaul dsb. “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niswcaya nereka akan menyesatkanmu, mereka tiada lain hanyalah berprasangka dan berbuat kebohongan belaka….”(Qs 6:116).

Apalah namanya orang-orang semacam itu, kalau bukan disebut orang-orang jahiliyah, bodoh, dungu, tak ubahnya kambing congek?. Padahal Allah telah menganugerahinya dengan berbagai potensi yang tidak dimiliki makhluk lain, yang potensi tersebut untuk bisa memfilter mana yang benar dan salah(Qs 7:179).

Ya…kita harus mengakui, sadar atau tidak sadar bahwa panggung dunia ini, kini, hingga saat ini masih dikuasai oleh rajanya orang-orang jahiliyah, Thogut. Jadi kejahiliyahan bukan diukur oleh primitif tidaknya suatu peradaban, atau kejahiliyahan hanya terjadi pada suatu kurun waktu tertentu. Kejahiliyahan akan senantiasa bergilir dengan jaman tegaknya kebenaran (al-Islam). Dan kita hidup pada jaman kejahiliyahan itu sedang berjaya. Untuk itu, bagaimana peragaan hidup yang dicontohkan oleh para rasul Allah hingga Rasululah Saw ketika kejahiliyahan sedang manggung?. Berpangku tangan dengan hanya cukup melafalkan do’a-do’a, dzikir-dzikir dan pujian-pujian/sholawat atas nabi dengan berharap berkah darinya. Seraya menutup mata dari fenomena sosial (ayat kauniyah), seakan-akan Islam sedang berjaya hingga tidak perlu lagi diperjuangkan dengan pengorbanan ala nabi dan para sahabatnya ketika melawan tirani kejahiliyahan.

Jadi tidak heran jika penyambutan  tahun masehi ini dengan cara-cara jahiliyah, pesta pora dan senang-senang. Beri kabar gembiralah mereka dengan adzab yang pedih, “Janganlah kamu terpesona dengan pola tingkah, pesta pora orang-orang kafir di muka bumi ini, itu hanyalah kesenangan sesaat dan tempat kembali mereka adalah neraka  jahannam” (Qs ali Imron).

Wahai umat islam, sadarlah, Iqro’ dan qum faandzir,,,sedang dalam keadaan bagaimana jaman antum hidup?.

 

ANTRI, menuju kampung halaman

Qta tidak usah khawatir tidak mendapat giliran. Entah Qta yang terlebih dahulu mendapat panggilan, atau ortu Qta, saudara Qta, Sahabat Qta. Wallohu ‘alam Qta tidak ada yang tahu, karena Qta tidak mendapat nomor urut.

Antri, adalah suatu keadaan, kenyataan, kondisi yang membuat tidak nyaman. Kesal, jengkel, gelisah, borring adalah kondisi hati yang timbul dampak dari keadaan demikian. Antri minyak tanah, antri BBM, antri BLT, antri lowongan kerja, antri lalu lintas adalah keadaan yang sring Qta dengar.

Lalu, bagaimana dengan antri menuju kampung halaman?. dimanakah kampung halaman Qta?. Benarkan Qta sedang antri menuju kampung halaman?. Jika benar, bagaimana keadaan Qta di kampung halaman tersebut, istirahatkah dengan penuh suka cita setelah pulang dari pengembaraan yang penuh lika-liku dan melelahkan?. Atau-kah justru mengalamai kesusahan karena tidak membawa oleh-oleh sedikitpun?.

 
2 Comments

Posted by pada Juni 29, 2009 in Tidak terkategori

 

Al-Islam dan Problematikanya

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh. Dan janganlah mengikuti langkah-langkah Syetan, sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu”

(Qs al-Baqarah [2] : 208)

Islam adalah Dinullah, sistem hidup dan kehidupan yang bersifat Syumuliyah (lengkap, sempurna). Tidak ada satu asfek kehidupan-pun yang luput dari Kepengaturan islam. Bidang Ubudiyah, Muamalah, Munakahah dan Jinayah atau IPOLEKSOSBUDHANKAM landasan Syari’at-Nya sudah termaktub dalam Dusturul Muslimin (UUD kaum muslimin) yakni al-Qur’an dan as-Sunah.

Allah mengutus Rasulululah Muhammad Saw adalah untuk menyempurnakan Dinullah, sehingga menjadi pedoman utama umat manusia hingga akhir jaman, “Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu Dinmu…..”(Qs al-Maidah [5] : 3). Pasca turunnya ayat terakhir ini, maka tugas Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul Allah telah berakhir. Tidak ada DIN lagi, Syari’at lagi, UUD lagi yang berhak dan syah untuk mengatur kehidupan manusia selain Dinul Islam, “Sesungguhnya Din yang diridloi disisi Allah adalah al-Islam….(Qs ali Imran [3] : 19. “Dan barangsiapa yang mencari Din selain al-Islam, maka ia tidak akan diterima. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Qs ali Imran [3] : 85).

Kaum lantardlo

Namun kesempurnaan al-Islam, diutusnya Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir dan penyempurna Din  yang juga dibawa para Nabi dan Rasul sebelumnya (Qs 42 :13) dan dimuliakannya kaum muslimin sebagai umat terbaik di akhir jaman tidak disukai oleh manusia-manusia thogou, manusia takabur atau lebih tepatnya musuh-musuh Allah, “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridlo kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka….”(Qs al-Baqarah [2] : 120).

Dengan penuh kesungguhan, terprogram dan sistematis*[1] kaum lantardlo ini menyusun makar (Qs 8 : 30) untuk memadamkan cahaya Allah, mengaburkan makna al-Islam sebagai Dinullah, mendistorsi sejarah. Hingga mengembalikan dunia ini kepada peradaban Jahiliyah setelah diterangi oleh peradaban agung (Al-Islam) selama berabad-abad.

Peradaban Jahiliyah yang mereka bangun sengaja dikemas sedemikian rupa agar nampak sebagai sebuah kemajuan, kemodernan  dan kejayaan dunia*[2]. Dengan segala kesanggupan ilmiah dan materialnya, kejahiliyahan modern memang mewujudkan beberapa kenyataan yang bermanfaat bagi manusia, yang secara kualitas maupun kuantitas belum pernah terwujud pada zaman-zaman sebelumnya. Itulah yang mengaburkan pandangan mata manusia, lebih hebat daripada yang pernah terjadi di masa lampau, sehingga manusia menganggap hidupnya berada diatas petunjuk yang benar.

Upaya ini semakin nampak terutama setelah runtuhnya satu-satunya simbol Institusi Islam Dunia tahun 1924, yaitu Kekhilafahan Utsmani di Turki. Kaum lantardlo ini mengirim utusan untuk mengekspansi Negara-negara muslim yang sebelumnya berada dibawah naungan Khilafah dengan misi 3 G : Gold, Gospel, terutama God dan kemudian menjajahnya. Negara-negara dari daratan Eropa dan Amrik berbagi wilayah koloni, diantaranya wilayah kita Nusantara ini dikuasai oleh Portugis, kemudian Belanda selama 350 tahun. Adalah Snouck Hugronye* [3] merupakan tokoh yang berperan besar memudarkan kemurnian al-Islam dan mengaburkan makna Dinulloh ini sehingga terjadi Iltibas/kolaborasi dengan Din Ghoer Islam/al-Batil.

Pada masanya umat Islam dibuat berpecah belah/Devide et impera, hingga melahirkan dua kubu besar umat yang senantiasa bertentangan, yakni kubu Tradisionalis dan Kubu Modernis. Kemudian kaum lan tardlo lebih berfihak kepada kubu Tradisionalis/abangan, hingga pecah Perang Padri antara pasukan pimpinan Tuanku Haji dari Kaum Adat/Tradisionalis yang dibantu Belanda dengan pasukan pimpinan Imam Bonjol dari Kaum Padri/Modernis di Sumatera Barat. Pada perkembangan selanjutnya mereka juga membuat “fatwa” larangan menterjemahkan al-Qur’an, mengharuskan Khutbah Jum’at dengan Bahasa Arab dan melarang dengan memakai Bahasa Daerah atau Nasional, memisahkan Islam dengan urusan Sosial Politik Kemasyarakatan hingga pemahaman umat digiring  untuk memaknai Islam sebagai agama ritual belaka secara turun temurun (Qs al-Maidah [5] : 104).

Warisan Kaum lantardlo

Kendati kaum penjajah ini telah kembali ke negerinya, namun mereka telah berhasil mewariskan ideologinya kepada anak bangsa negeri ini. Sesuai dengan kehendak mereka, mereka tidak akan ridlo kepada umat Muhammad sampai umat ini mengikuti millah mereka(Qs 2:120). Dan Ironisnya para perusak Islam yang menggiring umat ini untuk mengikuti millah mereka bukan lagi mereka sendiri, tapi para agennya, anak bangsa ini yang notabene juga beragama Islam. Kalau di Turki ada Kemal Pasya, di Indonesia ada Soekarno, Tan Malaka dan Muso. Sabda Nabi Saw, “Al-Islamu mahjuubun bi muslimin”* [4].

Warisan kaum lantardlo yang hingga kini masih dipakai oleh umat Islam, yang umat sendiri tidak menyadari bahwa ideologi atau sistem yang diwariskan oleh kaum lantardlo ini adalah Kebatilan. Bahkan dengan lantang umat termasuk tokohnya sendiri mengatakan bahwa tindakan mereka sebagai bentuk Ijtihad*[5]. Diantara Sistem ideologi tersebut adalah Sekulerisme, Demokrasi, Nasionalisme, Fluralisme dan HAM.

Sekulerisme

Faham ini adalah faham yang memisahkan antara kehidupan agama dengan kehidupan Sosial politik Kemasyarakatan. Mereka menerima hukum-hukum Allah, namun hanya sebagian saja, itupun yang bersifat Ubudiyah/ritual. Sementara urusan kehidupan lainnya mereka menolaknya. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan : “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman atau kafir)” (Qs an-Nisa [4] : 150).

Demokrasi

Faham Demokrasi adalah faham yang menjadikan suara mayoritas manusia atau rakyat suatu Negara sebagai sumber keputusan akhir, Standar kebenaran. Kendati keputusan yang dihasilkan dari pendapat kebanyakan orang tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Ilahiyah. “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah., Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadapAllah) (Qs Al-An’am [6] : 116). Dalam membuat keputusan, ketika terjadi Dead lock*[6] dalam sebuah “Musyawarah”maka akan terjadi Bargaining position, Koalisi antar Ideologi dan pemenangnya adalah yang memiliki suara terbanyak. Hal ini bertentangan dengan firman Allah, “Jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya…”(Qs an-Nisa [4] : 59).

Semestinya seorang muslim tidak duduk bersama “pemerintahan Kafir” di suatu majlis (parlemen), atau masuk ke dalam sistim mereka (QS Ali Imran [3]:118,149, Al-Nisa [4]:140, Al-Baqarah [2]:42,159,174,) dengan alasan apapun (QS Ali Imran [3]:118-119, 149-150) termasuk bermusyawarah (QS Al-An’am [6]:116).  Ingat, firman Allah (QS  Al-Baqarah [2]:120, 109).

Nasionalisme

Faham ini adalah faham yang mendasarkan ikatan ideologi, ikatan isme dan segala ikatan yang ada dibingkai dalam ikatan Nasiolisme, atau ikatan kebangsaan. Sehingga ikatan apapun tidak boleh keluar dari ikatan kebangsaan, termasuk ikatan Aqidah Islamiyah. Seorang muslim tidak berhak membantu muslim lainnya di luar wilayah Nasionalismenya sepanjang tidak ada ijin dari kepemimpinan Nasional-nya*[7]. Inilah suatu bentuk sikap ashobiyah yang dikecam oleh Nabi Saw, “Bukan termasuk umatku orang yang berjuang atas dasar ashobiyah”. Padahal al-Islam adalah bersifat rahmatan lil alamin, mendasarkan ikatan mutlak dan ikatan yang Haq adalah ikatan Aqidah Imaniyah dan Islamiyah dibelahan bumi manapun keberadaan seorang muslim. Maka fase pergerakan Islam adalah menuju kepemimpinan Internasional : Jama’ah, Madinah, Daulah hingga khilafah fil-ardli (Qs 24 : 55).

Fluralisme

Faham ini adalah faham yang hendak membaurkan/Iltibas antar Haq dan Batil dengan dalih kemajemukan. Isu SARA (Suku, Agama, Ras) sengaja diangkat ke permukaan untuk menghadang perjuangan para Mujahid Islam.. Hingga keyakinan untuk menegakkan Hak dan menghancurkan Batil dianggap suatu tindakan terorisme. Perdamaian, Toleransi dan Kemajemukan yang mereka gemakan adalah misi sefihak. Ketika Umat Islam hendak membela dan memperjuangkan keyakinannya mereka bersuara lantang untuk menghadangnya. Sementara ketika Misi Kristenisasi semakin merajalela mereka diam seribu bahasa. Bahkan ada diantara tokoh yang mengaku tokoh Islam menjadikan Perjanjian Hudaibiyah sebagai penisbatan fluralisme*[8].

Islam mengakui keberagaman, namun bukan berarti keaneka ragaman keyakinan harus dipadukan/dicampuradukkan (Qs al-Kafirun [109) : 6), tapi berdampingan untuk saling menghormati dibawah kendali orang-orang beriman dan bertaqwa (pemerintahan Islam), “Hai manusia sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal, Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia diantaramu adalah orang-orang Bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi mengabarkan” (Qs al-Hujurat [49] : 13)

Hak Asasi manusia

Faham ini adalah faham yang hendak menjadikan segala bentuk perbuatan, tindakan dan sikap manusia dibenarkan dengan dalih manusia memiliki Hak Asasi, hak yang mendasar kendati bertentangan dengan nilai-nilai Rububiyah*[9]. Sehingga para pelaku maksiyat; mesum, pornoaksi berlindung dibawah payung HAM dengan dalih tindakannya sebagai Hak berekspresi seni. Apabila membentuk masyarakat, maka segala aturan yang dibuat senantiasa akan berorientasikan kepada kepentingan pribadi atau hak-hak individu (individualisme). Mereka banyak menuntut HAM daripada KAM (Kewajiban Asasi Manusia). Mereka lebih mementingkan kesenangan pribadi sendiri daripada kehidupan sosial. Allah berfirman, “Andaikata kebenaran itu  mengikuti hawa nafsu mereka, niscaya akan binasalah  langit dan bumi ini beserta apa-apa yang ada padanya…” (Qs al-Mu’minun [23] : 71).

Padahal Al-HAQ hanyalah milik Allah semata, “Al-Haq itu dari Rabmu, maka janganlah kamu menjadi orang-orang yang ragu”(Qs al-Baqarah [2] : 147). Kewajiban manusia adalah beribadah kepada-Nya, yakni menegakkan HAK-NYA (yaitu tegak Hukum dan KekuasaanNya), “Hai manusia beribadahlah kepada Rabmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu. Agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa” (Qs al-Baqarah [2] : 21).

Manusia kembali kepada Rabnya

Jahiliyah modern yang telah dibangun oleh kaum lan tardlo dengan segala jenis thagutnya mengira akan dapat menghancurkan, bahkan mengira telah menghancurkan Din Allah. Ia berhak mempunyai perkiraan demikian. Orang yang melihat peta bumi sepintas lalu tentu akan tertegun menyaksikan panji jahiliyah berkibar di setiap tempat pada permukaan bumi. Sebaliknya ia tidak melihat sebuah panji Islam pun yang berkibar. Akan tetapi Din Allah sama sekali tidak tergantung kepada manusia, “….dan Allah tetap menyempurnakan Din-Nya, kendati orang-orang kafir tidak menyukainya.”(Qs Ash-Shaf [61] : 8).

Kesengsaraan berat yang diderita umat manusia yang hidup dibawah kekuasaan Jahiliyah di muka bumi ini; kerusakan akibat kezaliman sistem thogut di bidang politik, ekonomi, sosial, moral dan segala bidang kehidupan lainnya merupakan beberapa faktor yang akan mendorong manusia kembali kepada RabNya. Manusia akan merindukan sistem hidup dan kehidupan yang dilandasi nilai-nilai Ilahiyah.

Namun untuk mewujudkan kerinduan manusia terhadap Rabnya tersebut, tidak akan terwujud oleh umat Islam yang hanya berpangku tangan, seraya memperbanyak dzikir, Sholawat, istighosah belaka di masjid-masjid. “….Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka….”(Qs ar-Rad [13] : 11).

Bila Allah menghendaki, Dia akan membangkitkan kembali DinNya melalui umat lain yang sanggup melaksanakan tugas kewajiban dengan sebenar-benarnya. “Hai manusia, bila Allah menghendaki, Dia berkuasa melenyapkan kalian dan mendatangkan umat manusia (untuk menggantikan kalian). Allah MahaKuasa berbuat hal itu”(Qs An-Nisa [4] : 133).

Umat manusia yang akan sanggup memikul tugas mulia ini adalah orang-orang beriman dan senantiasa beramal saleh ; bergerak, berjuang, berkorban, siap menjual diri dan hartanya di jalan Allah, siap menukar kesenangan duniawinya dengan mengharap kebahagiaan ukhrowi. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka Din yang telah diridloi-Nya untuk mereka….”(Qs An-Nur [24] :55).****


[1] Ali Bin Abi Tholib : Kebatilan yang terorganisir akan mengalahkan Kebenaran yang tidak terorganisir

[2]Kebanyakan orang memahami Kejahiliyahan identik dengan budaya primitif. Padahal kejahiliyahan yang dimaksud adalah penolakan terhadap hukum yang bersumber dari Allah, kendati secara peradaban duniawi telah maju. Sebagaimana halnya masyarakat Jahiliyah Quraiys yang telah mapan dalam hal pemerintahan, sosial, ekonomi, budaya dan Hankam. Nabi Muhammad saw. diutus untuk mengubah tatanan masyarakat serta mengubah “sistem nilai” masyarakat Arab, Mekkah (QS Al-Kafirun [109]:1-6) yang telah mapan. Masyarakat tersebut menurut tinjauan Islam disebut “masyarakat Jahiliah”,  karena tidak menjadikan aturan Allah sebagai aturan dan undang-undang kehidupan.

[3]Snouck Hugronye adalah misionaris yang disusupkan oleh Belanda untuk menghancurkan kekuatan Aceh yang sulit ditaklukkan oleh Belanda, dengan terlebih dahulu merusak ideologi rakyat Aceh, yaitu Islam. Dia berpura-pura masuk islam dengan mengganti nama jadi Abdul Gofar

[4] Sabda Nabi Saw : Al-Islamu mahjuubun bi muslimin, “Islam terhalang oleh (ulah) umat islam sendiri”

[5] Ijtihad : Memutuskan perkara yang tidak ada  nashnya dalam al-Qur’an dan al-Hadits oleh para ulama mujtahidin. Apabila benar mendapatkan dua pahala, apabila salah mendapat satu nilai pahala. Mengenai Kepemipinan, pola atau sistemnya sudah ada dalam al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasul saw  dalam sunahnya. Sehingga amat naïf jika mengikuti sistem Demokrasi dalam hal  memilih pemimpin disebut sebagai berntuk ijtihad

[6] Dead lock, mengalami kebuntuan dalam bermusyawarah. Dalam sejarah Indonesia hal ini yang melahirkan Dekrit Presiden (Soekarno) untuk membubarkan Sidang Konstituante hasil Pemilu 1955 hingga lahir Nasakom. Akibat tidak adanya keputusan dalam menentukan Dasar Negara, dimana perdebatan yang a lot antar pendukung Islam (Masyumi, NU, PSII dan Perti) yang diwakili Muhammad Natsir dan pendukung Pancasila (PNI, PKI, PSI dan Partai Murba) yang diwakili Ruslan Abdul Gani

[7] Kita bisa menyaksikan bagaimana tidak berdayanya saudara-saudara muslim di Palestina ketika digempur oleh tentara lakanatullah Israel. Dan lebih tidak berdaya pula Negara-negara tetangganya yang notabene sesama muslim (Saudi Arabia, Mesir dan Negara Timteng)  untuk membantu saudaranya yang teraniaya. Karena tersandung oleh kebijakan Negara Nasionalismenya

[8] Perjanjian Hudabiyah adalah suatu perjanjian yang dilakukan oleh dua kekuatan /dua pemerintahan, yaitu antara Pemerintahan  Musyrikin Mekkah dan Pemerintahan Islam di Madinah. Bandingkan dengan pendapat sebagian “Umat Islam” khususnya di Indonesia,  yang berpendapat bahwa “Piagam Jakarta” dan “Pancasila” adalah sama halnya dengan Perjanjian Hudaibiyah pada masa Nabi Muhammad saw. Piagam Jakarta/Pancasila, Perjanjian antara dua kekuatan ( dalam satu negara)  atau perjanjian antara  para pencundang /pengecut  dengan kaum kuffar?

[9]Rububiyah (Qs An-Nas; 1), adalah Allah sebagai Rab, pengatur, pemberi rezeki, pembuat aturan, hukum. Bagi orang yang menerima hukum Allah, namun menerima juga Hukum selain Hukum Allah (Hukum buatan manusia) dikategorikan sebagai sikap Syirik Rububiyah

 

Amar ma’ruf nahyi munkar ala FPI

“Dan harus ada diantara kalian umat yang mengajak kepada Al-Khoer dan memerintah al-ma’ruf  dan mencegah kemungkaran…..”(Qs ali Imron[3] : 104)

FPI atau Front Pembela Islam yang kini dipimpin Habib Rizieq Sihab merupakan Ormas atau kelompok yang terbilang fenomenal, atau bahkan cenderung kontroversial. Sikap pro kontra senantiasa mengiringi setiap  aksi yang dilakukan FPI. Bagi kelompok yang pro, kehadiran FPI seolah mewakili aspirasinya yang sudah muak terhadap segala bentuk kemaksiyatan yang semakin merajalela. Bagi yang kontra aksi yang dilakukan FPI cenderung anarkis. Padahal Nabi Saw sendiri telah mencontohkan untuk bersikap mauidzotil hasanah, rohmaniyah, bijaksana, penuh kasih sayang dalam menyampikan al-Islam. Sehingga orang kafir musyrik sekalipun akan berbalik simpati kepada Islam, hingga masuk dan ikut memperjuangkannya.

FPI mengklaim bahwa aksi yang dilakukannya selama ini adalah sebagai bentuk amar ma’ruf nahyi munkar. Namun apakah implementasi amar ma’ruf nahyi munkar seperti yang dilakukan FPI sudah sesuai Sunnah?. Apakah melakukan aksi obrak-abrik terhadap orang-orang Jahiliyah pernah dicontohkan oleh Rasul saw?. Apakah mereka(orang Jahiliyah) adalah orang-orang yang mengerti Syari’at Islam dan sadar akan konskwensi apabila melanggarnya?. Apakah tempat maksiyat tersebut berada di wilayah islam, wilayah tempat tegaknya Syari’at Islam?. Sehingga bagi orang atau kelompok yang membuat maksiyat wajib diperangi, dihukumi?. Dan siapakah aparat yang berhak menghukuminya?.

Perintah amar ma’ruf

Amar ma’ruf terdiri dari dua kata, yaitu amar artinya MEMERINTAH dan ma’ruf artinya YANG DIKENAL. Maksud yang dikenal adalah perintah Allah yang telah jelas tertulis dalam al-Qur’an/kitabNya. Jadi Aparat yang berwenang memerintah adalah pemerintahan Islam, dan masyarakat yang diperintahkan untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi maksiyat adalah masyarakat yang sudah terikat oleh aturan Islam, kaum muslimin-muslimat, yang sudah mengenal Syari’at Islam. Adapun bagi orang yang belum terikat oleh aturan dan UU Islam sekalipun mengaku beragama islam (Karena Islam KTP), tidak ada kewajiban menjalankan Syari’at Islam. Ia harus terlebih dahulu diDakwahi, diajak untuk masuk ke dalam konfigurasi Al-Islam, “Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh…….” (Qs 2 : 208), kemudian dibina untuk dikenalkan tentang Al-Islam dengan segala aturan (Syari’at)-Nya (Qs 62 :2). Setelah dia sadar, taslim terhadap Syari’at, maka wajib ia dikawal untuk senantiasa istiqomah dalam menjalankan segala perintah Allah/Amar ma’ruf. Apabila melanggar maka dikenai perintah nahyi munkar/dicegah untuk berbuat munkar. Syari’at Islam hanya sah dilaksanakan oleh Muslim, yaitu orang yang telah menyatakan diri masuk ke dalam al-Islam (Qs 68 : 39). Syari’at Islam hanya dapat diterapkan pada Masyarakat Muslim yang berada dalam wilayah pemerintahan Islam. Kaum Musyrik sekalipun melaksanakan Syaria’t Islam tidak akan diterima oleh Allah Swt, “….Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan” (Qs al-An’am (6): 88, al-Zumar (39) : 65

Perintah Nahyi Munkar

Nahyi Munkar terdiri dari dua kata, yaitu nahyi artinya melarang dan munkar artinya kemungkaran. Nahyi Munkar artinya melarang manusia melakukan kemungkaran. Orang yang dilarang melakukan kemungkaran ialah orang yang sudah terikat  atau berada dalam al-Islam, dan dia sudah memahami Syari’at Islam. Kaum musyrik  (sekalipun mengaku muslim) tidak akan bersedia meninggalkan perbuatan yang bertentangan dengan al-Qur’an, karena mereka tidak yakin kepadanya. Mereka disebutkan dalam al-Qur’an seperti binatang/kal an’am (Qs 7 : 179). Mereka terlebih dahulu harus diajak/diDakwahi dengan penuh bijaksana untuk memahami hakikat dirinya sebagai Insan (Qs 76 :1), mengenal Rabnya dan kewajiban padaNya (Qs 2 :21, Qs 56:51) hingga tersadarkan untuk berislam.

Dakwah bukanlah mengajak manusia melaksanakan perintah Allah. Dakwah adalah mengajak manusia untuk masuk kepada al-khair, al-Islam (Qs 3: 104) atau ke “Sabil” Allah (Qs 16 : 125). Setelah manusia berada dalam al-Khair/al-Islam, maka berlaku-lah amar ma’ruf nahyi munkar.

Jadi pantaskah memaksa orang-orang Jahiliyah yang belum memahami al-Islam secara utuh untuk melaksanakan syari’at Islam, dan memarahi perbuatan Jahilnya, bahkan mengobrak-abriknya. IIustrasinya pantaskah seorang Guru TK  memaksa anak didiknya untuk mengerjakan pelajaran anak  SMU, dan memarahinya apabila salah mengerjakannya. Mungkin ada baiknya kawan-kawan kita di FPI memahami terlebih dahulu makna al-Islam, Muslim, Jahiliyah, musyrik menurut Qur’an-Sunnah bukan menurut identitas yang tertera dalam Kartu Penduduk/KTP.

 

Abdi Rakyat atau Abdi Allah???

Abdi Rakyat, akan mengabdi kepada rakyat, melayani dan mensejahterakan rakyat. Ini-lah kata-kata yang pada musim kampanye ini sedang populer disuarakan oleh para Caleg dan Capres. Namun setelah mereka berhasil meraih simpati rakyat dengan menduduki jabatan, sang abdi rakyat berubah jadi penguasa yang harus dilayani rakyat. Setiap berkunjung kepada rakyat, rakyat harus minggir ketika sang penguasa yang mengaku abdi rakyat naik mobil dan dikawal anggota Polisi dengan raungan sirine. Dan banyak lagi yang harus dilakukan oleh rakyat untuk menyenangkan sang penguasa yang mengaku abdi rakyat.

Abdi Rakyat, tidak-kah disadari oleh mereka (termasuk didalamnya yang mengaku dari partai Islam) kalimat ini sebagai bentuk kemusyrikan. Karena seorang mu’min itu hanya mengabdikan diri kepada Allah saja dalam segala aktifitas, “Inna sholatiii wanusukii wa mahyayaa wamamaati lillahi robbil alamiiin” (Qs 6:162).

Manusia itu hanya diseru oleh Allah untuk menjadi Abdi Allah, bukan Abdi selain-NYA, “Wahai manusia jadilah Abdi tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu….(Qs al-Baqoroh [2] : 21). Orang-orang yang menolak seruan ini dikategorikan sebagai orang-orang kaffir, karena dia telah menjadi abdi selain-NYA.

Para Abdi Allah senantiasa akan berusaha meraih simpati/ridlo Allah (Qs 2:207) dengan penuh rasa khauf dan roja’. Dengan menjalankan setiap perintahNya, diantaranya memimpin umat/rakyat dengan benar tanpa pamrih. Sehingga umat/rakyat sejahtera, damai, aman. Karena apabila tidak memimpin umat/rakyat dengan benar, maka akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah di akhirat kelak. Ia akan berusaha sekuat tenaga, pikiran karena takut kepemimpinannya tidak diridloi oleh Allah. Bisa dibaca dalam sejarah bagaimana Khalifah Umar bin Khotob berkeliling kampung, jikalau rakyatnya kelaparan. Itu-lah perilaku abdi Allah. Mereka tidak perlu gembar-gembor janji, tapi bukti.

Bagaimana dengan para abdi rakyat, ia akan mengabdi apabila rakyat dibutuhkan. Dan akan berlaku dzalim, apabila sudah berkuasa dan tidak membutuhkan lagi suara rakyat, habis pemilu-nya sudah usai.

Jadi jangan berharap banyak kepada para abdi rakyat ini, berharap-lah kepada para abdi Allah saja.

 

SYIRIK, BUKAN RITUAL SAJA

Syirik merupakan perbuatan dosa besar dan bagi pelakunya/musyrik tidak akan diampuni dosa syiriknya tersebut. Karena perbuatan tersebut merupakan sikap menduakan Allah. Namun kebanyakan orang memahami Syirik, sebagaimana halnya memahami makna Ibadah, hanya berhenti dalam tataran ritual saja. Syirik identik dengan hal yang berhubungan dengan menyembah berhala, patung, pohon, keris, dukun. Padahal Allah itu disamping DzatNya yang harus diAhadkan, juga af’alnya (HukumNya, Undang2Nya, kerajaannya) tidak boleh disekutukan.

Hukum dan Undang-Undang Allah yang termaktub dalam al-Qur’an harus menjadi hukum positif dalam segala asfek kehidupan. Bagi yang menentangnya, maka ia disebut kafir. Dan bagi yang meyakininya, namun masih nyaman menerapkan hukum positif yang bukan bersumber dari Undang-UndangNya, bahkan membenci, memusuhi terhadap siapa saja yang bercita-cita hendak menegakkan Hukum dan pemerintahanNya, maka tidak dapat dielakkan lagi itu adalah perbuatan Syirik.

“Dia telah mengutus seorang Rasul beserta al-Huda (al-Qur’an) dan Diinul Haq untuk dimenangkan atas segala Din. walau orang-orang musyrik membencinya (Qs at-Taubah [9]:33, al-Fath [48] :28).


 

DALIL AL-QUR’AN TENTANG WAJIBNYA GOLPUT

Dalam musyawarah ijtima’ fatwa Majelis Ulama Indonesia di Padangpanjang, Sumatera Barat yang berakhir Senin kemarin, MUI akhirnya memfatwakan haramnya golput. Umat Islam diwajibkan memilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.

“Wajib bagi bangsa Indonesia untuk memilih pemimpin. Kalau yang dipilih ada namun tidak dipilih, menjadi haram,” ujar Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, Ali Mustafa Ya’qub menjelaskan hasil Ijtima’ Ulama Fatwa III MUI di Kabupaten Padang Panjang, Padang, Sumatera Barat. (detikcom 25/1/09).

Menyikapi nyelenehnya Lembaga ini, disamping memfatwakan haramnya rokok. Maka jauh-jauh sebelumnya Nabi Ibrahim as sebagai uswatun hasanah/suri tauladan yang baik, bapak tauhid kaum mu’minin telah menghimbau kepada umatnya dan umat Islam pengikut Nabi Muhammad Saw untuk berlepas diri dari SEGALA BENTUK PENGHAMBAAN selain kepada Allah dan untuk mengingkari SEGALA BENTUK  KEKAFIRAN yang dilakukan kaumnya.

Sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik pada Ibrahim ketika ia berkata pada kaumnya, sesungguhnya kami berlepas diri dari segala bentuk sesembahan selain Allah dan kami mengingkari kekafiranmu, telah nyata antara kami dan kami permusuhan untuk selamanya…(Qs Al-Mumtahanah [60] : 4).

Mungkin yang tidak disadari oleh MUI adalah bahwa Demokrasi dengan segala produknya (Pemilu, Pilpres, Pilkada dan Parpol) telah melahirkan sikap  iltibas/campur aduk dengan kaum kufar (Qs 3 :71)Dalam Demokrasi  jabatan (Aleg, Presiden, Gubernur, Walikota dsb) sebagai sesuatu yang paling penting/prioritas dalam hidupnya, sehingga memburunya dengan berbagai cara, sembari mengabaikan syari’atNya. Kendati berbicara Syari’at hanya sebagai kamuflase untuk meraih suara/ simpati umat. Setelah berkuasa? apa yang dilakukan?(Qs 5 : 57). Justru pelaku Korupsi banyak dilakukan oleh anggota Dewan yang mengaku dari Partai Islam (Al-Amin Nasution/PPP, Bulyan Royan/PBR, M.S Ka’ban/PBB), Bagaimana bisa mengurus rakyat banyak untuk bermoral, membina kadernya saja tidak bisa ?. Bukankah sikap-sikap tersebut sebagai BENTUK PENGHAMBAAN kepada tahta dengan segala prestisius dan glamournya ?.

Dalam Demokrasi yang berhak memimpin, segala keputusan/kebijakan yang diambil harus berasal dari suara terbanyak, baik itu berupa hukum, aturan dan UU. Kendati suara terbanyak itu berasal dari masyarakat Jahiliyah. Apa namanya kalau kebijakan atau hukum yang diambil bukan bersumber dari hukum Allah?. “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang  kafir.” Qs 5:44-50 .Kemudian Pemimpin yang terpilih bukan dari orang-orang beriman dan bertaqwa. Masihkah kita menafikan bahwa itu bukan sebagai BENTUK KEKAFIRAN?.

Selanjutnya Ali Mustafa Ya’qub menjelaskan, fenomena golput kalau dibiarkan, akan berbahaya. “Kalau nggak memilih berbahaya, bisa nggak punya pemimpin,” ujar Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu al-Quran (IIQ) ini.

Apakah disaat Fir’aun berkuasa tidak ada Nabi Musa as sebagai pemimpin Al-Haq, ketika Namrudz berkuasa tidak ada Nabi Ibrahim as sebagai pemimpin orang2 beriman kala itu, saat Abu Jahal berkuasa tidak ada nabi Muhammad as,  Bush/Obama berkuasa tidak ada para penerus kerisalahan (Qs 3 : 144) yang memimpin kebenaran yang berkarakter sama dengan Rasul (Qs 16 : 36) untuk mencapai misi yang sama dengan para rasul pendahulunya (Qs 42 : 13)?.

Jadi, akankah kita lebih memilih mengikuti fatwa MUI atau himbauan Nabi Ibrahim AS????

 

Israel ngamuk, umat islam mati kutu

Serangan Israel yang membabi buta ke Palestina, hingga menewaskan hingga 400 nyawa lebih warga Palestina seperti biasanya disikapi dengan aksi-aksi konvensional, aksi klasik dan terkesan seremonial oleh warga dunia, khususnya umat islam. Yaitu aksi demonstrasi; mengecam, mengutuk, berteriak-teriak takbir, membakar bendera Israel dan Amerika, membakar photo Presiden kedua negara tersebut, mengumpulkan dana bantuan untuk dikirim ke Palestina, membuka posko pendaftaran Jihad, boikot produk makanan, minuman, restoran Yahudi. Begitulah seterusnya dan seterusnya umat islam, khususnya di negeri ini menyikapi setiap Thagut mendzalimi umat islam Palestina, Irak, Afganistan dan sebagainya.

Lantas bagaimana reaksi Israel dan Amrik menyikapi kecaman umat islam tersebut. Bak peribahasa, “anjing menggonggong-kafilah berlalu”. Demonstrasi bergelombang di seluruh penjuru dunia, sementara serangan Israel terus menghujani warga Palestina dan meluluh lantakkan bangunan-bangunan tiap 20 menit sekali.

Demonstrasi…???? . Itu produk rancangan kami, demikian mungkin jawaban bangsa Yahudi. Melawan dengan demo,  sama dengan memperkokoh eksistensi kekuasaan dan kedzaliman kaum Zionisme ini.

Yang dikhawatirkan oleh kaum Yahudi adalah justru jika aksinya tidak didemo, berarti umat Islam sedang menyusun kekuatan, persatuan dan strategi seperti yang telah dicontohkan Nabi Saw hingga Futuh Islam dan tegaknya Khilafah Fil Ardl. Maka kekuatan Yahudi akan dilawan oleh kekuatan lagi, yaitu Pemerintahan Kekhilafahan yang mendunia tanpa dibatasi oleh sekat-sekat Nasionalisme. Semua umat Islam bersatu dalam ikatan AQIDAH MULKIYAH Allah yang bernama Khilafah fil ardli. Sekali lagi itu manhaj atau Sunah Perjuangan Rasul yang ditakutkan Yahudi bila umat  Islam mengamalkannya.

Maka untuk mengantisipasi kehadiran kekuatan tersebut, Yahudi terlebih dahulu telah memproduk sistem yang khusus diimpor untuk negara-negara mayoritas muslim. Produk itu tiada lain adalah sistem Nasionalisme. Maka umat Islam terkotak-kotak dalam wilayah geografis, antar satu wilayah Nasional dengan wilayah Nasional lainnya tidak berhak untuk saling membantu. Maka pada gilirannya umat Islam mati kutu saat sesama saudara seagamanya didzalimi, karena terbentur oleh kebijakan Pemerintah Nasionalisnya. Reaksi umat islam terpaku oleh kegiatan seremonial dan konvensional belaka.

Menyerukan boikot Produk makanan dan minuman Yahudi, dengan menggunakan Produk ideologi Yahudi; yakni Demokrasi/Demonstrasi dan Nasionalisme. Ironis

Dan yang lebih memprihatinkan lagi dalam aksinya ini para “aktifis” dengan aksesoris islami dan Arabi ini disamping mengibarkan bendera Palestina juga mengibarkan bendera Ashobiyahnya : Hizbiyah, Jam’iyyah, Harokah, Ormas, Partai Politiknya. Mau mengecam apa mau Kampanye akhi…???. Mau mengutuk apa mau iklan organisasi ukhti…???

 

Kelompok Habib, benarkah dalam Islam?

Sebutan HABIB atau HABAIB (jamak) adalah orang atau kelompok yang mengaku keturunan Nabi Muhammad Saw. Mereka merasa bangga menjadi keturunan Nabi Muhammad Saw dan membubuhkan nama “Habib” didepan namanya. Kelompok ini menamakan kelompok Sunny dan menganggap sebagai keturunan Nabi atau  bangsa Quraiys.

Padahal dalam Islam jalur keturunan yang diakui adalah jalur “ayah”. Dimana Nabi Muhammad Saw tidak mempunyai keturunan putra laki-laki. Tetapi putri beliau adalah Fatimah radiyallohu anha. Kalau memakai jalur ayah maka Husen dan Hasan adalah putra Ali r.a, Ali putra Abu Tholib dan Abu Tholib putra Abdul Mutholib.

Jadi memakai nama Habib bukanlah keturunan Nabi Muhammad Saw, tetapi keturunan Ali bin Abu Tholib. Begitu juga yang meyakini Ali r.a adalah pelanjut kepemimpinan syah (kelompok ahlul Bayt/Syi’ah). Ali bukanlah keturunan Nabi Muhammad Saw, melainkan putra Abu Thalib.

Nabi Muhammad tidak menurunkan dan mewariskan kenabian/nubuwah kepada keturunannya. Apalagi beliau tidak memiliki putra laki-laki yang hidup hingga dewasa dan memiliki keturunan. Sebagaimana firman Allah Saw, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasululullah dan penutup para Nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs al-Ahzab [33] : 40).

Dari ayat diatas saja kita bisa memahami bahwa dalam Islam, seandainya Nabi Muhammad Saw sekalipun memiliki keturunan laki-laki, beliau tidak akan mewariskan gelar kenubuwahan. Tetapi beliau hanya mewariskan “MISI dan FUNGSI KERISALAHAN kepada umatnya (lihat Qs 3 : 144). Siapa saja yang melanjutkan fungsi dan misinya itulah umatnya yang akan mendapatkan syafa’at.

Dalam islam tidak dikenal Dinasti (pemerintahan turun temurun), karena ini akan melanggar prinsip islam. Dimana dalam Islam hanya orang bertaqwalah yang dimuliakan Allah Saw (Qs al-hujurot [49] : 13) dari bangsa manapun ia berasal dan dari keturunan siapapun ia dilahirkan, maka orang bertaqwalah yang berhak menjadi pelanjut kepemimpinan Rasulullah Saw.

Semoga tulisan ini juga menyadarkan bahwa kepemimpinan pasca Khulafaurrasyidin yang menggunakan sistem Dinasti , hingga kerajaan Arab Saudi yang kini sedang berkuasa sudah keluar dari prinsip-prinsip Islam.

 

UU Pornografi melanggar HAM

Yuk…kita tolak UU Pornografi….!, karena jelas2 RUU yg tlah disyahkan anggota dewan sok moralis itu telah melanggar HAM…HAK ASASI MONYET…!

Sudah jelas Monyet, maunya telanjang, bergoyang dombret, goyang ngebor dipaksa harus pakai baju, pakai jilbab lagi…..!. Kepada para pendukung UU Pornografi, saudara mesti tahu bahwa monyet adalah pekerjaannya ngeDOGER, bercanda ria, berjingkrak2 meniru tingkah polah manusia untuk menghibur penonton. Lalu dari pekerjaannya itu ia mendapat lemparan uang receh, ampauw, tips…dan aplaus sehingga jadi idola-lah dan jadi selebritis-lah sang Monyet di komunitas masyarakat Monyet.

Saudara mesti sadar bahwa jika monyet tidak main Doger, dari mana ia makan, dari mana anak bini atau jalunya makan…harus faham itu….!.

kemudian bagi para penikmat Doger Monyet yang menolak UU pornografi, jelas apabila ulah Monyet dibatasi oleh atuaran-aturan yang njlimet akan membuat Hoby mereka terbatasi. Lalu lahan rezeki mereka hilang, karena mereka adalah para panitia penyelenggara Konser Doger Monyet.

Dalam hal ini Alloh swt telah berfirman, :D AN SESUNGGUHNYA KEBANYAKAN PENGHUNI NERAKA JAHANNAM ADALAH MANUSIA DAN JIN. MEREKA MEMPUNYAI HATI,TAPI TIDAK DIPERGUNAKAN UNTUK MEMAHAMI AYAT2 ALLOH, MEREKA MEMPUNYAI PENGLIHATAN&PENDENGARAN TAPI TIDAK DIGUNAKAN UNTUK MELIHAT DAN MENDENGAR AYAT2 ALLOH. MEREKA ITU SEPERTI BINATANG, BAHKAN LEBIH SESAT DARIPADA BINATANG…..(Qs Al-a’raf [7] : 179

 

Kaitkata:

Jelang eksekusi,siapa teroris itu?

Alloh menjadikan bumi ini sebagai tempat tinggal, wadah bagi manusia untuk mengabdi kepadaNya. Dengan demikian  Alloh memfungsikan manusia sebagai khalifah (Qs 2:30). Khalifah adalah wakil atau mandataris Alloh, pelaksana hukum Alloh di muka bumi. Jadi pembuat hukum adalah hak perogratif Alloh semata, sementara aparatur pelaksananya manusia.

Maka bumi ini layak dan berhak dikuasai, dipimpin oleh orang-orang beriman saja yang menjalankan fungsinya. Sehingga keberadaan bumi ini sebagai KERAJAAN ALLOH. Namun…bagaimana halnya bila bumi ini dikuasai oleh manusia yang melampaui batas atau THOGUT?. Maka yang terjadi adalah ancaman/teror bagi eksistensi atau keberlangsungan bumi, segala isi dan seluruh penghuninya. Kekacauan senantiasa akan terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, IPOLEKSOSBUDHANKAM. Dan berbagai upaya telah diupayakan mengatasi kekacauan tersebut. Namun upaya2 tersebut akan sia-sia belaka, hanya sebatas tambal sulam. Pergantian kepemimpinan hanya pergantian sosok belaka, sementara akar permasalahannya, yaitu SISTEM yang akan mewadahi terlaksananya hukum Alloh dan akan mengikat manusia untuk beriman kepada Alloh saja tidak diupayakan untuk ditegakkan.

Hingga kini mereka (Thogut) itu sedang berkuasa. Maka segala hukum dan kebijakan yang diproduksi tidak akan menghasilkan manfaat apapun bagi manusia. Kemadlorotan dan kekacauan senantiasa akan berlangsung selama mereka menguasai tiap-tiap wilayah di bumi ini. Dan sekarang mereka sedang dan akan mengeksekusi mati PARA TERORIS versi mereka. Dan Alloh-pun akan mengeksekusi mereka di akhirat kelak dengan eksekusi yang lebih pedih. Jadi Terosis menurut pandangan siapa, Alloh atau manusia kebanyakan…?.

 
5 Comments

Posted by pada November 4, 2008 in Aktual, Analisa, Indonesia, Islam, Kajian, Manhaj, Politik

 

Kaitkata:

Amrozi, tahu diri-lah!

Penulis tidak akan mempersoalkan orang perorang, Amrozi cs dan teroris lainnya, FPI yang berlagak polisi islam, Ahmadiyah yang membandel, Koruptor yang tebal muka, pelaku Narkoba yang tidak jera. Tapi Penulis akan mempersoalkan SISTEM yang melahirkan dan menghadirkan individu2 nyeleneh tersebut. Dimana mereka hadir dari sebuah SISTEM yang amburadul.

Rasul Saw sebagai USWAH hasanah dalam kehidupan ini telah memberikan contoh bahwa yang pertama kali beliau lakukan adalah mengubah SISTEM. Dari SISTEM Thogut kepada sistem Islam (Qs 16:36, Qs 2:256). Dan beliau terlebih dahulu menyadarkan dan mengajak (dakwah) perindividu kepada sistem islam sehingga terbentuk masyarakat yang berSistem Islam, bangsa yang bersistem Islam (Madinah) hingga dunia yang bersistem Islam(Khilafah fil Ardli).

Jadi tahu diri-lah…kepada orang, kelompok, harokah atau apapun namanya bahwa apa yang kalian cela, kritik, hujat tentang hukum, aturan atau kebijakan Thogut akan sia-sia belaka kalau SISTEM hidup yang mencengkram kalian adalah SISTEM yang SALAH alias AMBURADUL. Maka dalam hal ini Alloh Swt berfirman, “Barangsiapa yang mencari, berjuang, beramal, beribadah dalam Din/sistem selain Islam maka ia tidak akan diterima/sia-sia belaka….(Qs 3:85). Karena Islam-lah sebagai satu-satunya SISTEM yang diridloi Alloh (Qs 3:19). Untuk itu para Rasul Alloh telah mensyari’atkan penegakkan SISTEM/ADdin (Qs 42:13). Hingga wajib untuk di Idzhar/tegak stegak-tegaknya (QS 9:33) di muka bumi hingga bumi ini kembali dikuasai oleh orang-orang beriman dan beramal soleh (Qs 24:55).

 
12 Comments

Posted by pada Oktober 31, 2008 in Agama, Aktual, Analisa, Indonesia, Islam, Manhaj, Politik

 

DAKWAH tidak Sekedar KATA !

Dakwah yang kini identik dengan ceramah, tabligh, khutbah, nasihat atau pidato, dan dilakukan oleh segelintir orang (ustadz, mubaligh, santri, aktifis). Ternyata tidaklah sesempit itu maknanya. Namun Dakwah adalah suatu KERJA NYATA yang harus dilakukan oleh setiap orang yang sudah menyatakan keimanannya/ikrar Syahadatain kepada Allah melalui aparatNya (Qs 48 : 10), dalam rangka melahirkan manusia-manusia yang siap ditata dan diatur, serta tunduk pada kehendak-Nya (Mukmin-Mukhlis). Yang akan menjadi penyangga dalam rangka tegaknya AL-ISLAM di dunia ini umumnya dan di Indonesia khususnya. Dengan jelas dan tegas bahwa dakwah yang dilakukan adalah untuk MENGAJAK manusia yang berada dalam system nonwahyu (jahiliyah/batil/thogut) kepada system wahyu (al Islam), BUKAN MENGAJAK manusia kepada kelompok, golongan, organisasi, faksi ataupun partai (Ashobiyah).

Jelaslah sudah bagi semua, bahwa dakwah yang dilakukan adalah suatu proses atau usaha untuk mengajak manausia ke dalam Al-Khoir (Al Islam YANG TERLEMBAGAKAN) (Qs Ali Imron [3] : 104) atau ke dalam sabili Rabbika (Qs an-Nahl [16] : 125), serta mengeluarkan manusia (Qs Ali Imran [3] : 110) dari kegelapan kepada cahaya (Qs al-Baqarah [2] :257), secara tegas adalah dari system thogut kepada system Islam, dari al-Bathil kepada al-Haq, atau dari Darul Kufar kepada Darul Islam (Qs an-Nahl [16] : 36).

Pada titik puncaknya dakwah adalah mengajak manusia agar meninggalkan system thogut dan menerima system Allah dengan konskwensi meninggalkan loyalitas terhadap system thogut dan memberikan loyalitas kepada system Islam.

Semoga para da’I dan da’iyah, mujahid-mujahidah dakwah agar dapat memaksimalkan daya juangnya, melaksanakan tugas dalam rangka darma bakti kepada Allah Swt serta MENDZAHIRKAN Daulah Islam (DI) ala MINHAJIN NUBUWAH di muka bumi umumnya, Indonesia khususnya.

“Hai kalian mujahid-mujahidah dakwah hanya ada dua pilihan bagi kita! “Jadi aktor atau hanya jadi penonton, Maju kedepan menjadi ksatria atau mundur kebelakang menjadi pecundang”

“Jihad tidak akan pernah tertidur, perjuangan tak akan pernah berakhir, kebatilan akan lenyap”.

Camkan semua itu ! Wahai Mujahid-mujahidah dakwah

Saudaralu, langkah yang kita tapaki, meskipun merangkak tapi pasti, Karena itu lebih baik daripada diam, Bukankah diam identik dengan kematian ?

 
6 Comments

Posted by pada Oktober 4, 2008 in Agama, Analisa, Indonesia, Islam, Kajian, Manhaj, Politik

 

RAMADLAN BULAN MERAIH SUARA

Waktu Kampanye yang cukup panjang pada pemilu 2009 kali ini dimanfaatkan oleh partai politik beserta para calegnya untuk mengenalkan diri ke publik, dengan berbagai cara dan gaya. Begitupun tiap mementum digunakan untuk meraih simpati calon pemilih. Tidak ketinggalan MOMENTUM RAMADLAN kali inipun wajah-wajah baru maupun lama tampil mengenalkan diri ke publik dengan sejuta TEBAR PESONA, senyum menawan dengan sapaan SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA, Semoga Puasa Tahun ini membukakan hati saudara-saudari calon pemilih untuk mencoblosku. ha…ha….ha….

Bulan Ramadlan yang  suci meraih ridlo ILAHi semata dan mesti dijauhkan dari motif-motif duniawi, tetap saja dimanfaatkan oleh para petualang politik pengejar TAHTA. Melihat sistem pemilihan melalui Demokrasi ini tidak ada harapan sama sekali untuk menghasilkan pemimpin yang bersih. Kenapa?. Karena jelas para petualang itu telah menggelontorkan uang milyaran rupiah dalam kampanye, jadi tidak logis kalau sudah  terpilih tidak akan meraup harta untuk mengembalikan modal kampanye terlebih dahulu, lalu memanen labanya. Ada KPK juga hanya omong kosong……pemanis demokrasi

Selamat menjalankan Puasa saja dan Raihlah Suara sebanyak-sebanyaknya dengan tebar pesona dan umbar janji untuk menuai Simpati manusia, Biarkan saja nanti RIDLO ALLOH menyusul saja………..

 

FA’AINA TADZHABUN PKS

Organisasi yang menamakan diri HAROKAH ISLAM, namun terlibat dan melibatkan diri dalam sistem THOGUT (baca, Demokrasi/bahkan melegitimasinya dengan dalil Qur’an&Hadist yang dipaksakan bahwa Demokrasi tidak bertentangan dengan Islam) (lihat dan kaji Qs 4 : 60) lambat laun tidak akan bisa melepaskan diri dari perangkap sistem tersebut. Itulah yang terjadi terhadap saudara2 kita di PKS. PKS yang semula diharapkan sebagai ikon perjuangan Islam, yang mengklaim sebagai Partai Dakwah, kini sudah mulai kehilangan warna Islamnya. Kader-kadernya yg duduk baik di Legislatif maupun Eksekutif, begitupun yang menang Pilkada Gubernur, Walikota dan Bupati tidak satupun yang bersuara dan bertindak hendak menegakkan Syari’at Islam secara Kaffah. Bahkan di tiap-tiap daerah yang Pilkadanya dimenangkan PKS, tidak nampak peminimalan KEMAKSIYATAN, bahkan semakin menjadi-jadi.

Kader2 PKS lebih disibukkan untuk mendongkrak suara, sehingga unsur DAKWAHnya terabaikan. Contoh yang paling memilukan, di suatu daerah PKS merasa didzolimi dengan black Campain yang menyatakan bahwa PKS anti Tahlilan (Kenduri di kematian). PKS menolak kampanye hitam tersebut, bahwa PKS tidak anti tahlil. Lantas…DAKWAH untuk memberantas BID’AH, KHUROFAT, THAYYUL nya bagaimana?. Apakah kehendak Allah harus kalah dengan kehendak rakyat banyak?. Padahal para Penegak Dinullah akan berhadapan dengan kemarahan dan kebencian orang2 musyrik (baca Qs 9:33) “Liyudzhirohu aladdini kullihi walau karihal musyrikun”. Kemudian dalam Qs 48:28, “Liyudzhirohu aladdini kullihi wakafaa billahi syahida”  para penegak Din Alloh hanya berharap pengakuan/legitimasi dari Allah, kendati pendukungnya sedikit. Itu hanya sebagian kecil contoh saja untuk mempertanyakan klaim HIZBUD DAKWAHnya PKS. Fa’aina tadzahabun PKS…?

 

Syuro BUKAN Demokrasi

Akibat dipengaruhi oleh faham non wahyu dan mendasarkan pemahamannya kepada Ra’yu tanpa ilmu dan keimanan yang sempurna, banyak umat islam yang memaknai SYURO, yang termaktub dalam Qs Ali Imron [3} : 159 dan As-Syuro [42] : 38 diartikan dengan DEMOKRASI. Terutama umat islam yang aktif dan melibatkan diri dalam organisasi partai politik. Kendati mereka memilki Dewan Syuro atau Majelis Syuro dalam partainya masing-masing, namun untuk urusan yang luas, mereka menggunakan majelis Parlemen.

Padahal Demokrasi merupakan faham yang bertentangan dengan Islam. Demokrasi artinya kekuasaan ada di tangan rakyat atau suara terbanyak, termasuk dalam hal membuat hukum. Sedangkan SYURO bukan pembuat hukum, tapi teknis pelaksanaan hukum Pembuatan hukum adalah hak perogratif ALLoh atau wewenang 4JJI saja. Manusia hanyalah diperintahkan untuk melaksanakan hukum 4JJI.

Sehingga akan nampak perbedaannya, dalam sistem Demokrasi ketika terjadi DEADLOCK, maka keputusan akhir dikembalikan kepada suara terbanyak atau VOTING. Sementara dalam Syuro, keputusan akhir dikembalikan kepada QUR’AN SUNNAH, “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, amak kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah)…(Qs An-Nisa [4] :59).

Allah Yang Maha Kasih dan Sayang telah memberikan peringatan kepada orang-orang beriman dengan firmanNYa, “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tiada lain hanyalah berdusta” (Qs Al-an’am [6] : 116, lihat pula Qs al-Maidah [5] : 49).

Wallohu ‘alam bishowab  

 

Menegakkan Kekhilafahan

Manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi tugasnya adalah untuk beribadah kepadaNya (Qs 51:56, Qs 2:21). Agar tugas pengibadahan ini terlaksana, maka manusia difungsikan oleh Alloh sebagai Khalifah (Qs 2 : 30). Dimana makna Khalifah adalah wakil, mandataris atau pelaksana hukum-hukum Allah di muka bumi. Maka agar fungsi ini terlaksana, diperlukan adanya institusi yang disebut lembaga kekhilafahan atau Khilafah fil ardli.  Maka tidak bisa dipungkiri lagi bahwa penegakkan kekhilafahan adalah sesuatu yang prinsipil atau sesuatu yang mesti keberadaannya. Atau dengan kata lain, penegakkan Kekhilafahan BUKAN ALTERNATIF, dikarenakan sistem-sistem non kekhilafahan gagal dalam mensejahterakan umat manusia. Tapi ia merupakan kewajiban yang perlu diperjuangkan oleh tiap individu yang mengaku muslium.

Namun untuk menegakkan lembaga Khilafah fil ardli ini tidak sebatas wacana atau opini untuk menjadi konsumsi publik dan menjadsi istilah yang latah. Tapi perlu adanya tindakan kongkrit yang pelaksanaannya harus sistematis, terpola dan berproses. Maka dalam hal ini Rasul Saw sebagai sumber ittiba’ (“katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (muhammad)…(Qs ali imran [3] :31) memberikan contoh, pola, sistem atau proses dalam menegakkan kekhilafahan.

Pertma kali yang dilakukan oleh beliau adalah membentuk masyarakat tauhidi, masyarakat yang hanya meng-agungkan Allah seraya menafikan sistem masyarakat musyrikin. Atau yang biasa disebut AL-BARO’AH (Qs 60:4), berlepas diri dari sistem jahiliyah dan berwala’ kepada sistem islam saja. Masyarakat tauhidi inilah sebagai cikal bakal untuk terbentuknya basis awal Kekhilafahan. Dimana Yatsrib dipilih sebagai tempat pertma dan utama untuk terwujudnya MADINAH (Negara Islam Yatsrib) hingga terjadinya Futuh Makah.  Karena Madinah ini bukan negara Ashobiyah atau bersifat Nasionalisme, tapi berbentuk DAULAH, inklusif, membuka diri dari wilayah-wilayah Islam di luar Yatsrib dan Jazirah Arab untuk bertahkim ke MADINAH. Inilah yang disebut Pemerintahan Kehilafahan, pusat pemerintahan islam sedunia. Dan pola, sistem, proses inilah yang dicontohkan oleh tauladan kita semua, Nabi Muhammad Saw dalam menegakkan Kekhilafahan.

Bila ada kelompok atau golongan yang mengklaim hendak menegakkan Kekhilafahan, namun tidak berpola kepada SUNAH PERJUANGAN atau SUNAH AF’ALIYAH Rasul maka apa namanya kalau tidak disebut BID’AH. Menegakkan Kekhilafahan tanpa terlebih dahulu membentuk masyarakat Islam yang siap sami’na wa atho’na terhadap Syari’at Allah adalah hal yang naif, tapi justru berbaur/berkolaborasi dengan sistem dan masyarakat Jahiliyah.

Ingat, Landasan ideologinya adalah Kalimah Tauhid, Laa ilaaha=tidak ada ilah, hukum, sistem, UU, Ideologi, Illalloh=Kecuali  Alloh sebagai sumber HUKUM, sistem dan sumber ideologi pelaksanaannya yang dijabarkan oleh Muhammadarrasululloh dalam Sunahnya.

 

 
 

SABILILLAH Vs SABILITHOGUT

“Orang-orang beriman berperang di Jalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di Jalan Thogut. Sebab itu perangilah kawan-kawan Syetan itu, karena sesungguhnya tipu daya Syetan itu lemah” (Qs An-Nisa [4] : 76)

Dalam Al-Qur’an kalimat sabil sering dihubungkan dengan kalimat Allah dan at-Thagut. Sehingga membentuk kalimah SABILILLAH, artinya “Jalan Allah”. atau SABILITHOGUT, artinya “Jalan Thogut”. Jalan Allah adalah jalan yang lurus, sedangkan Jalan Thagut adalah jalan yang sesat.

Sabilillah

Sabilillah adalah cara, sistem, metode atau sarana/prasarana untuk terlaksananya pengabdian kepada Allah. Tidak akan diterima amal seseorang kalau tidak berada pada SABILILLAH. Sebagai contohnya “INFAQ”. Allah menyuruh muslim agar berinfaq fi Sabilillah/di Jalan Allah. “Dan berinfaqlah di “jalan Allah”….” (Qs Al-Baqarah [2] : 195). Begitupun “DAKWAH”, Dakwah atau mengajak manusia bukan kepada kelompok, organisasi, partai, Syu’ubiyyah/Nasionalisme. Mengajak manusia yang benar adalah mengajak ke dalam Sabilillah. Ajaklah manusia ke “jalan Rabmu” dengan bijaksana…”(Qs An Nahl [16] : 125). Kemudian berjihad atau berjuang membela kebenaran harus di dalam Sabilillah, “Dan berperanglah kalian “di Jalan Allah” ….(Qs Al-Baqarah [2] : 244)

Sabilithogut

Menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, bentuk Thagut antara lain :

  • Penguasa Zalim yang menolak Hukum Allah (QS An-Nisa [4] : 51, 60)
  • Institusi, baik lembaga organisasi atau lembaga Negara yang berhukum kepada selain hukum Allah (Qs A;-Maidah [5] : 44, 45, 47)

Adapun dasar hukum Thogut adalah filsafat/hawahu (Qs 23:71), Nenek moyang/Abaahu (Qs 5 : 104) dan hukum-hukum Jahiliyah. Dalam pelaksanaannya Sunatullah para pengikut Thagut akan memerangi para pendukung Sabilillah dengan menggunakan sistem, cara, metode buatan Thagut, diantaranya saat ini berdasarkan kesepakatan suara terbanyak manusia yang tidak tahu menahu hukum Allah atau DEMOKRASI (Qs 6 : 116), inilah yang dimaksud Sabilithagut.

Suatu hal yang ironi orang yang mengklaim berjuang fi Sabililllah tapi menggunakan sistem Thogut tersebut (Qs 4 : 60). Atau lebih ironi lagi, sudah memahami bahwa institusi tersebut adalah institusi Thogut tapi masih mengkritisi kebijakan-kebijakannya atau berada dibawah naungannya/perlindungan hukum.

Sementara Para Rasul Allah senantiasa bersikap “MUKHLISIINA LAHUDDIN” (QS 98 : 5), murni dalam bersistem tanpa ada campur baur dengan sistem gherul islam. Rasululullah saw dan para pelanjutnya hingga akhir jaman bersikap AL-BARO’AH (Qs 60 : 4), berlepas diri/tidak mau tahu/tidak peduli/tidak ambil pusing terhadap aturan-aturan maupun kebijakan-kebijakan Thagut, sembari bersikap AL-WALA kepada kepemimpinan dan aturan-aturan Allah. Sebagaimana halnya Nabi Muhamad Saw di awal perjuangan Islam membentuk DARUL ARQOM  (sebagai tempat bermusyawarah/pembinaan umat) sebagai tandingan untuk melawan DARUN NADWAH (tempat berkumpulnya/musyawarah Abu Jahal dan pemimpin Quraiys). Rasululullah Saw dan para Sahabatnya tidak pernah bermusyawarah didalam Gedung Darun Nadwah, walau sempat diajak sekalipun dan tidak memperdulikan kebijakan-kebijakan Kubu Darun Nadwah, atau dengan kata lain tidak pernah BERDEMO di halaman Gedung Darun Nadwah untuk menegakkan Hukum Allah.

Tapi Rasululullah Saw memperkuat dan memperkokoh barisan Darul Arqom (Kaum muslimin) baik dari segi kualitas (Pembinaan, Qs 62 : 2) maupun Kuantitas (Dakwah, Qs 16 :125) untuk menyongsong tegaknya Hukum Allah dalam wujud Madinah, Daulah hingga Khilafah (Qs 25 :55).

 

Ahmadiyah dan aliran sesat versi Bakor Pakem dkk

Fenomena aliran sesat kembali mencuat belakangan ini, hal ini terkait dengan keputusan Bakor Pakem yang menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Sehingga istilah “ALIRAN SESAT” kembali menjadi perbincangan yang latah di kalangan masyarakat kita, khususnya umat islam. Namun masyarakat, bahkan termasuk tokoh-tokohnya nampak kurang mendasar memahami istilah ALIRAN SESAT ini. Sehingga terjadi pro kontra penyikapan terhadap aliran sesat.

Kata “TERSESAT” sering digunakan dalam perjalanan. Seseorang dikatakan tersesat, apabila orang tersebut tidak sampai pada tujuan perjalanannya. Misalnya seseorang hendak berangkat dari Jakarta menuju Surabaya, tapi dia pergi ke arah Barat menuju Banten. Lantas dia menduga bahwa Banten adalah Surabaya. Maka orang tersebut dikatakan “TERSESAT”.

Contoh lain, misalnya sekelompok pendaki gunung sedang mengadakan adventure untuk menaklukan ketinggian puncak suatu gunung. Namun, karena mereka tidak tahu jalan dan tidak mau bertanya  kepada yang  lebih tahu. Mereka berputar-putar didalam hutan dan tidak  sampai ke puncak gunung. Maka mereka disebut “tersesat”.  Dan apabila  yang tersesat itu  sekelompok  orang, maka kecenderungan pro kontra dan saling menyalahkan  akan terjadi.

Begitupun dengan ISLAM, Islam kalau diibaratkan adalah sebuah sistem perjalanan hidup menuju RIDLO ALLAH dan JannahNYA.  Karena Islam sebagai sebuah sistem perjalanan hidup, maka ia memerlukan peta jejak/lokasi perjalanan. Peta itulah yang dinamakan AL-QUR’AN. Namun peta (Al-Qur’an) tidak akan berarti apa-apa, bila hanya dibaca, diamati, dikaji tanpa diuji/diperjalankan. Dan peta walaupun sudah diperjalankan tidak akan  berarti apa-apa, kalau tanpa ada orang yang memulainya/memberinya contoh.

Orang yang berhak memberi contoh dalam perjalanan hidup melalui sistem ISLAM adalah Rasulullah Saw. Dari Start IQRO dalam Surat Al-Alaq hingga finish Alyauma akmaltu lakum diinakum dalam Surat Al-Maidah ayat 3, Rasululullah Saw telah memberi contoh jejak perjalanan kerisalahannya dalam Sunah perjuangannya (bisa dibaca SEJARAH/TARIKH). Insya Allah jika menapak tilasi jejak rasul ini, umat islam tidak akan tersesat.

Namun bila melihat kondisi umat islam saat ini, nampaknya ironi. Mengaku menjalankan Sunah Rasul, tapi mengikuti jalan yang dirintis Thogut, diantaranya bisa dibaca dalam QS 4 : 60, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, mereka hendak berhakim kepada Thogut. Bukankah mereka telah diperintah untuk mengingkari thogut….”.

Wajarlah bila dalam penyikapan “aliran sesat” ini terjadi pro kontra diantara sesama tokoh dan masyarakat. Karena para “Penuduh Sesat” ini sendiri dalam keadaan “Tersesat“. Sudah tahu “Jejak Perjalanan Rasul”, namun lebih nyaman mengikuti “Jejak Perjalanan Thagut”. Inilah bahan tausyah bagi para pemuja Demokrasi, Nasionalisme/Ashobiyah. HAM, Fluralisme dan sistem-sistem hidup buatan manusia lainnya yang cenderung menyesatkan. “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi ini, maka mereka cenderung menyesatkan kamu dan mereka banyak berbuat kebohongan….” (Lengkapnya baca Qs 6 : 166).

“Ihdinashirotol mustaqim, shirotolladziina an’amta alaihim, ghoiril maghduubi alaihim waladloolliin”

 

MUTAHARRI ALA HIZBUT TAHRIR

Mutaharri adalah mundur untuk siasat dalam peperangan fisik (Qs Al-Anfal [8] : 16). Perintah Allah ini intinya jangan mundur dari peperangan (Qs Al-Anfal [8] : 15), bukan mundur dari parlemen menjadi perang pemikiran atau merubah perintah perang fisik menjadi perang permikiran/Ghozwul fikri. Inilah yang disebut tabdil (Qs al-baqarah [2] : 59 ; al-A’araf [7] : 162).

Hizbut Tahrir berdiri di Yerussalem, tokohnya adalah Taqi al-Din al-Nabhani, tahun 1953. Sebelumnya beliau adalah pengikut Ikhwanul Muslimin. Karena ada perbedaan faham beliau memisahkan diri dan mendirikan Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir bercita-cita menegakkan Syari’at Islam dengan terlebih dahulu mendirikan “Kekhalifahan Islam”. Pengaruh HT hingga ke Negara-negara luar yang mayioritas berpenduduk muslim, termasuk Indonesia. Hizbut Tahrir berhasil di Yordania dengan mendirikan partai politik berazas Islam, namun gagal. Akhirnya HT tidak lagi bergerak melalui parlemen, mereka berpindah strategi yang dinamai “Mutaharri”, berjuang di luar parlemen.Sebagaimana halnya Hizbut Tahrir Indonesia, kendati mereka berjuang di luar parlemen, anti Demokrasi, Sekulerisme dan Kapitalisme. Namun mereka tidak mengambil sikap Furqon atau al-Bara’ah (berlepas diri). Menolak Demokrasi, namun turut serta kepada pemerintahan produk Demokrasi. Dengan turun ke jalan, berdemonstrasi mengkritisi kebijakan pemerintahan Sekuler. Hal ini berarti mengakui dan bertahkim kepada pemerintahan tersebut (Qs An Nisa [4] : 60). Bahkan beberapa waktu ke belakang dalam KKI/Konfrensi Khilafah Internasional di Stadion Gelora Bung Karno, pucuk pimpinan HTI, Muhammad Ismail Yusanto menyatakan Hizbut Tahrir akan menjadi Organisasi Peserta Pemilu. Menolak Demokrasi, tidak berarti anti Pemilu. Ironis…. 

Sebagai bahan Tausiyah bagi Hizbut Tahrir,  Rasulullah Saw ketika menegakkan Kekhilafahan Islam terlebih dahulu membentuk basis awal Kekhilafahan yaitu MADINAH (Negara Islam) yang berdaulah di Yatsrib. Suatu hal yang mustahil Kekhilafahan dapat tegak dalam suatu Negara Syu’ubiyah (Ashobiyah/Nasionalisme). Dan suatu hal yang kontradiksi “memohon” tegaknya Syari’at Islam kepada pemerintahan Sekuler, yang menolak tegaknya Syari’at Islam secara sempurna. Syari’at Islam hanya bisa ditegakkan dengan Dakwah dan Qital, bukan dengan kompromi atau bermusyawarah dengan orang-orang kafir.  

 

SIYASAH ALA PKS

Rasulullah Saw melakukan siyasah, “tawar menawar” kekuasaan atau posisi setelah memiliki kekuasaan atau posisi. Sebagaimana halnya perjanjian Hudaibiyah, ketika itu Islam dan Nabi Muhammad Saw sendiri sebagai penguasa di Madinah. Tawar menawar kekuasaan atau posisi tanpa memiliki kekuasaan, wilayah hukum dan pemerintahan akan termakan strategi lawan.

Ikhwanul  Muslimin berdiri pada tahun 1928, tokohnya adalah Hasan Al-Banna di Mesir. Di Indonesia Ikhwanul Muslimin berpecah menjadi dua kelompok, yaitu pertama, kelompok yang masih konsisten dengan sikap pendirinya, yakni tidak masuk sistem Sekuler, pemerintahan yang menolak Syari’at Islam. Kedua, kelompok yang menyimpang dari ijtihad para pendirinya, yaitu kelompok yang ikut serta kepada pemerintahan yang menolak syari’at islam, dengan alasan Siyasah. Sehingga dalam perjalanannya kelompok ini (baik yang duduk di lembaga legislatif maupun eksekutif) tidak memiliki misi menegakkan Syari’at Islam secara kaffah, hanya cukup membentuk masyarakat yang islami, kendati hukum yang berlaku adalah hukum buatan manusia, seraya mengabaikan hukum-hukum yang termaktub dalam Al-Qur’an. Kelompok ini bertansformasi dalam partai politik yaitu Partai Keadilan (PK), kemudian karena tidak masuk syarat Electoral Treshold (ET) berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Sebagai bahan Tausiyah bagi kelompok IM yang kedua ini, Allah telah memerintahkan umat Islam dalam membentuk masyarakat Islam agar berpaling dari orang-orang munafik (Qs an Nisa [4] : 63,81) dan orang-orang musyrik (Qs Al-An’am [6] : 68, 106, al-Hijr [15] : 94), al-Sajdah [32] :30), al-Najm [53] :29).Umat Islam dilarang mengikuti pemerintahan atau kepemimpinan orang-orang munafik dan kafir (Qs An Nisa [4] :144, Ali Imran [3] : 28, al-Maidah [5] : 51,57). Nabi Ibrahim sendiri telah memberi “uswah” agar berlepas diri atau tidak berkompromi dengan masyarakat atau pemerintahan yang menolak tegaknya Syari’at Islam (Qs al-Mumtahanah [60] : 4,6). Syari’at Islam hanya bisa ditegakkan dengan Dakwah dan Qital, bukan dengan kompromi atau bermusyawarah dengan orang-orang kafir.

 

Urip, Jaksa Penuntut Amrozi korupsi

NKRI ini benar-benar negara badut…. , seorang penegak hukum selevel jaksa saja ternyata dihukum…karena menerima suap sejumlah uang $ 660 ribu US, kalau dirupiahkan lebih dari 600 milyar rupiah.

Ternyata…. tidak berlebihan kekhawatiran Amrozi, saat disidang kasus Bom Bali. Ketika itu Amrozi yang divonis hukuman mati ditawari sepatu oleh Urip Tri Gunawan, sang Jaksa Tersangka, karena dalam persidangan Amrozi kerap memakai sandal. Apa jawaban Amrozi, “Saya tidak mau, karena khawatir Sepatu yang diterima uang hasil dari korupsi”. Dan kini terbukti…..!.

Seharusnya tuntutan hukuman mati oleh Urip terhadap Amrozi, harus juga diterima oleh pak Urip, betul gak?.

Habis korupsi ternyata menyengsarakan ratusan juta rakyat negeri ini ….. Harga-harga kebutuhan pokok yang naik, menjerat leher rakyat, dari mulai beras, terigu, minyak goreng sampai harga bala-bala, comro dan gehu yang dulu cuma seratus perak, sekarang jadi seribu perak. Terus rakyat tidak punya kesempatan mendapat penghasilan, yang bekerja terkena PHK, yang berdagang merugi semenjak harga bala-bala dinaikkan, ukurannya diperkecil. Begitu juga pedagang keliling sering dipalak, aeh ditilang aparat berseragam coklat dengan aturan yang dibuat-buat. Itu karena ulah para koruptor………

Amrozi membom Bali, gudangnya maksiat, membunuh turis-turis bule yang membawa oleh-oleh penyakit (AIDS dan Narkoba) dari negerinya dan sedang berpesta fora harus dihukum mati. Sementara Urip dan koruptor-koruptor lainnya yang membunuh ratusan juta rakyat tak berdosa dengan perlahan-lahan karena kelaparan tak pernah ada kabar dihukum mati, malah yang ada adalah kabur ke luar negeri.

 

OSAMA BIN LADEN Mujahid Gadungan…?

Selama ini Osama Bin Laden mungkin dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap USA dan sekutunya. Dan oleh sebagian aktifis Harokah dianggap sebagai icon perlawanan Islam terhadap kesewenang-wenangan dan kedzaliman Amerika dan Negara-negara Barat. Padahal USA (wayang Zionis) adalah BIG BOSS dari Osama Bin Laden sendiri ?. Siapa sebenarnya  pimpinan Jama’ah al-Qaida ini ?.

 

Muhammad Awad bin Laden, seorang warga Yaman Selatan yang berpindah ke Arab Saudi tahun 1930. Di sebuah pelabuhan Jedah ia bekerja sebagai kuli angkut. Disebakan keuletan dan kejujurannya, keluarga kerajaan Saudi akhirnya memberikan kepercayaan kepadanya. Tidak lama kemudian, ia berhasil mendirikan perusahaan kontruksi dengan nama Bin Laden Corporation. Perusahaan ini lalu menjadi perusahaan kontruksi terbesar di Timur Tengah. Dari Muhamad bin Laden inilah lahir seorang anak yang bernama Usamah, orang Barat menyebutnya Osama.

 

Usamah atau Osama muda tumbuh dari keluarga bisnis yang kaya raya. Ia hidup enak dan senang. Keadaan ini berlangsung sampai ia menjadi religius dan berjihad ke Afghanistan. Tahun 1979 M, selepas lulus dari Universitas King abdul Aziz di Jedah dan menyandang gelar Insinyur Teknik Sipil langsung terpanggil seruan jihad. Dimana waktu itu Uni Soviet menginvasi Afghanistan.

 

Selama tahun 1980 an M, Usamah dan Abdullah Azam menjalankan Maktab Al-Khidamar (MAK) untuk rekruitmen mujahidin melawan Uni Soviet. Dana untuk MAK ini diperoleh dari CIA lewat Dinas rahasia Pakistan, Inter Services Intellegence (ISI). Direktorat ISI sendiri didirikan oleh seorang tentara Inggris, Mayor Jendral R.Chawtome pada 1948 M. Sejak saat itu ISI dimanfaatkan oleh Intelejen Inggris dan Amerika untuk mempengaruhi keadaan politik di Asia. AS lewat CIA berkepentingan dengan mujahidin Afghanistan untuk meruntuhkan Uni Soviet sebagai saingan penguasaan Sumber Daya Alam di Asia Tengah.

 

Selama decade itu pula, kelompok bisnis Bin Laden juga menerima bagian dari hampir 200 miliyar Dollar AS dari kontrak untuk membangun fasilitas militer AS (basis, pelabuhan dan lapangan udara) di Arab Saudi. Kebanyakan ongkos ini memang untuk Arab Saudi, tapi Bin Laden Corporation juga menerima bagian besar dari uang ini.

 Dalam penentangan dan perlawanan Osama terhadap Amerika, terutama penentangan yang keras terhadap kehadiran militer AS di Arab Saudi dalam perang Teluk, sekalipun Osama belum pernah mencela keterlibatan familiynya dalam menghadirkan tentara kufar tersebut. Ironi………. 

Pada tahun 1989 M, Usamah membangun gua-gua komplek militer di Afghanistan. Sember daya pembangunan ini berasal dari bisnis kontruksi keluarganya. Dana pembangunannya berasal dari CIA. Saat itu, Usamah menganggap tak masalah bekerjasama dengan orang kafir.

 

David Shayler, Opsir Dinas rahsia Inggris M15, mengklaim punya bukti bahwa agen rahasia Inggris membayar 100.000 poundsterling bagi Al-Qaida nya Usama untuk membunuh Muamar Khadafi. Pada tahun 1996 M. Namun usaha ini gagal, Kahadafi lolos dari maut tanpa luka, sementara beberapa orang tidak berdosa terbunuh bom Al-Qaida ini.

Saat diwawancara harian “The Dawn” 9 November 2001, Usamah berkata, “ Orang Amerika sendiri mengeluarkan sebuah daftar tersangka serangan bom WTC dan Pentagon, 11 September 2001. Mereka adalah muslim, 2 orang dari Uni Emirat Arab, 1 orang dari Mesir dan 15 berkewarganegaraan Arab Saudi”. Dari latar belakang keluarga, petualangan, sepak terjangnya dan hubungan khususnya dengan AS yang menurut pengakuannya sebagai musuh utamanya kelihatan bahwa identitas mujahid yang melekat pada diri Osama bin Laden masih perlu dikaji dan dipertanyakan…. ?. Ia jauh dibawah Mujahidin generasi pasca Kekhilafahan berikut ini, Umar Mukhtar dari Libya, SM.Kartosuwiryo dari Indonesia, Hasan Al Banna, Sayid Quthb dan Muhammad Quthb dari Mesir, Syekh Ahmad Yasin dari Palestina. Kendati gerak langkah jihad mereka diakhiri di tiang gantungan, regu tembak dan tubuhnya dibombardir. Bahkan namanya dicatat dalam sejarah sebagai teroris dan pemberontak. Namun Allah Swt berfirman, “ Janganlah kamu berkata tentang orang yang syahid di jalan Allah, bahwa mereka itu telah mati. Tidak ! mereka itu tetap hidup, meskipun kamu tidak menyadarinya”, Qs al_baqarah : 154)  Sumber : *      Vol.6 elfata*      Patrick Mec own calls for secret Shangler Trial, The Evening Standard, October 8, 2002*      The Wahhabi Myth, oleh Hanef James Oliver, 2002 

 

AL BATIL Vs AL HAQ

MEKANISME, POLA, VISI DAN MISI DIN AL BATIL

MEKANISME

1. Aturan/Hukum :

  • UUD buatan manusia
  • Al-Qur’an hanya berlaku untuk urusan ubudiyah/ritual, bersifat parsial (Qs 4 : 150,15 : 10), urusan lain hanya jadi bahan perdebatan (Qs 3 : 105, 3:66)

2. Pimpinan/Hakim

  • Beragama Islam, tapi berideologi non islam. Islam hanya dijadikan dagelan politik ; ketika membutuhkan suara dalam kampanye, mengatasnamakan islam. Jika kekuasaan digenggaman , islam dimarginalkan (Qs 5 : 57)
  • Ulama/ustadz hanya berwenang di urysan keagamaan

3. Masyarakat

  • Heterogen/pluralis berbagai ideologi dalam ikatan Syu’ibiyah/kebangsaan/nasionalisme (Ashobiyah)
  • Umat Islam berpecah belah menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan golongannya (Qs 6:159, 30:32, 23:53)

POLA

  • Iltibas/campur baur antara islam dengan budaya dan ideologi lain (Qs 3 :71)
  • Berparlemen (Qs 3 :118)
  • Kebenaran berdasarkan suara terbanyak/one man one vote/demokrasi (Qs 6 :116)

VISI

Ketenangan, kedamaian dan kesenangan duniawi (Qs 3:196-197)

MISI

Ridlo/pujian manusia ; popularitas, menjadi selebritis, Da’i Favorit, mubaligh kondang dan pejabat publik (Qs 3 :188)


 

MEKANISME, POLA, VISI DAN MISI DIEN AL HAQ

MEKANISME

  1. Aturan/Hukum : Al-Qur’an (Qs 2:2, 5:48-49) dan Assunah (Qs 3:31)
  2. Pimpinan/Hakim : Rasul (Qs 4:65) dan orang-orang beriman (Qs 4:59, 5:56)
  3. Masyarakat : Masyarakat yang bertauhid dalam komunitas jama’i(Qs 3:103,61:4), terdiri dai orang-orang yang telah berikrar/bersyahadah (Qs 3:53, 9:111)

VISI

  • Tegakkan Dien Al Haq (Qs 42 :13)
  • hancurkan Dien Al Batil (Qs 9 :33, 48:28) dengan jalan berdakwah, atau Qital apabila diperangi Qs 2:190-192)

MISI

Ridlo Alloh (Qs 2 :207, 9:111)

POLA

  • Furqon (Qs 109:6) , al-baro’ah (berlepas diri) dari al-batil (Qs 60 :4) dan bersikap al Wala’ (loyal, ta’at berkepemimpinan) kepada Alloh saja (Qs 2 :208, 16:36)
  • Bertahap, berproses dari mulai Shofan jama’an/berjama’ah kemudian bertransformasi menjadi Madinah yang berdaulat (non ashobiyah) hingga terbentuknya kekhilafahan di muka bumi (Qs 24 :55)

SILAHKAN SAUDARA-SAUDARI SEKARANG SEDANG BERADA DI FIHAK MANA, DAN APA YANG HENDAK DILAKUKAN…….!

 

PAK HARTO Ucapkan Terima kasih, karena….!

Menjelang wafatnya (wallohu ‘alam bishowab, karena kondisi kesehatannya kian kritis), di usia ke 86, Haji Muhammad Soeharto, mantan Presidem RI ke 2 dan terlama mengucapkan terima kasih kepada Megawati Soekarnoputri. Dimana isu yang berkembang, HM.Soeharto menyatakan menitipkan negeri ini kepada Megawati (geer kali yah…!).

Padahal pernyataan yang sebenarnya, Bapak HM.Soeharto mengucapkan terima kasih kepada Megawati karena telah mempertahankan Pancasila dan Negara kesatuan RI.

Beberapa abad yang lalu, Nabi Muhammad Saw menjelang wafatnya bersabda, “Taroktu fiikum amroini (Qur’an & Assunah)” , “Aku meningggalkan padamu (umat)dua perkara (Qur’an dan Sunnah)”. Akan memberi syafaat/berterima kasih kepada yang mempertahankan dan menjalankannya.

Dua manusia dengan nama yang sama, HMS (Haji Muhammad Soeharto) dan NMS (Nabi Muhammad Saw), tapi meninggalkan suatu urusan yang berbeda.

Tanya kenapa…? 

 

Al-Qur’an BAGAIKAN Dinosaurus

Anda pasti mengenal Dinosaurus…..?. Binatang Purba yang melegenda, ia hidup di jaman Purba, dan tidak akan pernah hidup lagi di jaman sekarang. Keberadaannya hanya di museum, itupun berupa tengkoraknya. Dinosaurus asyik menjadi tontonan anak-anak juga orang dewasa, digambarkan sebagai sosok binatang yang menakutkan, di film-film digambarkan sebagai pemakan manusia.

Apakah anda setuju, bila nasib AL-QUR’AN tak ubahnya Dinosaurus di jaman kini ?. Al-Qur’an hanya jadi bahan bacaan (tilawah, tahsin diperbagus bacaannya, tajwid, diperlombakan dalam MTQ, diKhotamkan). Mushafnya yang kini berbentuk Kitab, hanya jadi bahan pajangan, hurufnya diperindah dengan kaligrafi, bentuknya dibentuk sedemikian rupa, ada Al-Qur’an terbesar, terkecil ukurannya…!. Terjemah dan maknanya hanya jadi bahan kajian, diskusi, seminar, diperdebatkan/bukan diamalkan. Walau diamalkan hanya bersifat parsial (dibidang ritual/ubudiyah saja). Sementara dalam kehidupan lain (Ipoleksosbudhankam), tidak berpedoman kepada Al-Qur’an.

Dan yang paling miris, dijadikan bahan komoditas politik (dalam kampanye perang dalil), dan dimanfaatkan ahli Tahayul (dibakar mushafnya, kemudian abunya dibuat kopi, naudzubillah). Ada lagi seorang mantan menteri Agama (Almarhum), pernah mengatakan Al-Qur’an sudah tidak relevan, maka perlu Reaktualisasi Al-Qur’an, diantaranya warisan harus dibagai rata antar perempuan dan laki2).

Seandainya terlaksana Al-Qur’an hanya dalam cerita-cerita sejarah, lelakon-lelakon penceramah. sementara dalam kehidupan sehari-sehari…..?.

Seandainya Umat Islam melaksanakan Al-Qur’an, maka bangsa Indonesia-lah yang paling maju, karena bangsa Indonesia mayoritas berpenduduk muslim. Tapi kenyataannya, terkorup, pengirim TKW (bermasalah lagi), kejahatan merajalela dalam berbagai bidang, ekonomi semakin sulit.

Kita merindukan Al-Qur’an berlaku di bumi pertiwi ini, walaupun kehadirannya akan menakutkan layaknya Dinosaurus apabila dihidupkan bagi orang-orang musyrik. Sehingga tidak mengherankan bila mereka menuduh teroris kepada orang-orang yang hendak menegakkan terlaksananya Al-Qur’an. Sebagaimana firmannya, ” Dialah yang telah mengutus seorang RasulNya (Muhammad) dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an) dan Dien yang yang Haq, untuk diunggulkan atas segala Dien, walaupun orang-orang Musyrik tidak menyukai”. (Qs At-Taubah [9] : 33).

 

SYAHADATAIN Versi Harokatul Hadamah

SYAHADATAIN Versi Harokatul Hadamah

cadar5.jpgHarokatul Hadamah adalah gerakan yang bertujuan menghancurkan islam dan perjuangannya dengan menggunakan simbol-simbol islam. Sehingga umat islam yang masih awam merasa phobi (takut) kepada setiap pergerakan yang bernuansa islam. Hal ini mengakibatkan kontraproduktif dengan misi membentuk manusia yang islami dan masyarakat madani.

Fenomena Aliran Sesat
Pemberitaan mengenai gerakan yang mengatasnamakan islam yang disinyalir sesat dan menyesatkan tengah hangat beberapa waktu ke belakang, bahkan hingga kini. Sebenarnya fenomena aliran sesat ini adalah persoalan klasik yang menimpa umat islam. Hal ini pertama kali terjadi dalam sejarah islam adalah pasca wafatnya Nabi Saw, yaitu munculnya Tokoh Musailamah Al-Kadzab yang mengaku Nabi setelah Nabi Saw, Padahal Nabi Saw lah sebagai khotaman Nabiyyiin/penutup para nabi (Qs 33 : 40).
Walaupun vonis sesat hanya berhak dikeluarkan oleh lembaga berwenang (Kejati, MUI), namun umat islam sendiri bisa menilai sebuah gerakan terindikasi sesat. Diantaranya adalah mengubah hal-hal yang bersifat prinsipil (Aqidah) dan syari’at yang sudah baku (Qs 5:3). Diantaranya pengakuan kenabian, mengubah redaksi syahadatain, menggugurkan kewajiban syari’at (Shalat, zakat, shaum, haji dll).
Mengubah Syahadatain
Mengubah redaksi syahadatain yang dilakukan oleh Ahmad Mushadeq dan pengikutnya dalam kelompok yang menamakan diri Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah merupakan “Dlolalan mubiin”(kesesatan yang nyata). Yakni “Asyhadu Allaa ilaaha illalloh wa asyhadu anna al-masiih al-mau’ud rasulullah”. Al-Masih Al-mau’ud yang dimaksud adalah Mushadeq sendiri. Sehingga dari ikrar ini tidak secara langsung Mushadeq telah memproklamirkan diri sebagai Nabi dan Rasul.
Begitupun yang dilakukan oleh Ahmadiyah. Mereka mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi karena nama yang tercantum dalam Qs al-Shaf ayat 6 adalah AHMAD. Mereka beranggapan bahwa Nabi Muhamad bukan Nabi terakhir. Namun Mirza Ghulam Ahmad lah sebagai pendiri kelompok Ahmadiyah yang dimaksud dengan Nabi terakhir. Mereka menafsirkan kalimat khatam dalam Qs Al-Ahzab (33) : 40 dengan pengertian “cincin”. Hingga mereka mengkultuskan Mirza Ghulam Ahmad (Qs 2 : 165-167), hampir sama dengan orang-orang Yahudi mengkultuskan Uzair, orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa Putra Maryam (Qs 9 : 30-31). Bahkan mereka memiliki kitab tersendiri sebagai pedoman hidup, yaitu “Tadzkiroh”, hampir menyamai kedudukannya dengan al-Qur’an (Qs 2 : 79-80). (“SYAHADATAIN, Syarat Utama tegaknya syariat Islam”, hal.79, M.Umar JA, Pen.Bina Biladi Press).
Sebagian lagi ada kelompok yang menyertakan Syahadatain dengan keharusan membayar sejumlah uang mencapai ratusan ribu, bahkan hingga satu juta rupiah. Dengan dalih sebagai uang shodaqoh istighfar, atau untuk mensucikan diri. Sungguh keterlaluan “syari’at baru” ini, syahadatain yang sakral dan suci serta mesti dijauhkan dari motif duniawi, justru dinodai dengan syari’at yang entah Hadist riwayat siapa yang dijadikan landasan.
Makna Syahadatain
Syahadatain yang dimaksud Allah dan RasulNya adalah pernyataan sikap seseorang yang menjadikan islam sebagai pedoman dan ajaran hidupnya. Islam yang dimaksud tentunya bukan islam ketutunan, islam abangan atau islam KTP. Karena banyak orang yang mengaku muslim, tapi hidupnya tidak beraturan (Syari’at) Islam. Manusia yang sudah bersaksi bahwa dirinya muslim adalah manusia yang telah menjadikan dirinya sebagai hamba Allah. Hamba Allah adalah manusia yang hanya tunduk dan patuh kepada aturan dan hukum Allah saja. Tidak mengambil hukum, sistem hidup dan ideologinya selain Islam, bahkan menolaknya, inilah yang dinamakan sikap “Al-baro’ah”, berlepas diri (Qs 60 : 4). Hal ini terdapat pada kalimat “Laa ilaaha”.
Sungguh ironis orang yang mengaku muslim tapi masih berhukum kepada Thogut. Menurut Syaikh Muhamad Qutb, Thogut adalah seseorang, organisasi atau institusi, jama’ah, pemerintahan tradisi atau kekuatan yang menjadi panutan atau aturan manusia, dimana manusia tidak dapat membebaskan diri dari perintahnya dan larangannya. Orang yang mengaku mu’min dengan mengucapkan dua kalimat syahadat secara otomatis dia menolak thogut, “Sembahlah Allah dan jauhi thogut”, (Qs 16 : 36, 2 : 256).
Keberadaan orang-orang yang tidak konsisten dengan keimanannya, yaitu mengakui hukum thogut akan senantiasa ada hingga akhir jaman. Sebagaimana firmanNya, “ Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu?. Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum thogut” (Qs 4 : 60).
Setelah seseorang menolak dan melepaskan diri dari thogut (al-baro’ah), maka dia bersikap al-wala (taat, setia, loyal) kepada Allah saja dengan aturan dan hukumNya. Menjadikan Allah sebagai sumber otoritas, legalitas dan loyalitas. Hal ini terdapat dalam kalimat “illalloh”. Maka keberadaan syari’at syahadatain adalah merupakan tujuan dakwah itu sendiri, sebagaimana sabda Nabi Saw “Ajaklah manusia untuk bersyahadah, bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Apabila mereka telah mentaati kepadamu tentang hal itu (syahadatain), maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka shalat sebanyak lima kali sehari semalam” (HR Abu Daud dan Hakim, lihat pula HR Muslim bab keimanan Juz 7).
Tauhidullah dan Tauhidul ittiba’
Syahadat yang pertama, yaitu “Asyhadu allaa ilaaha illalloh” disebut Tauhidullah. Sementara Syahadat yang kedua disebut Tauhidul ittiba’, yaitu “Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah”. Dimana tidak akan sempurna keimanan seseorang, tanpa mengaplikasikan keimanannya dengan mengikuti Nabi Muhammad sebagai sumber ittiba’, “Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku…”(QS 3 : 31). Karena banyak orang yang mengakui Allah sebagai Tuhannya, tapi tidak mau mengakui Nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Sebagaimana Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu Tholib, mereka percaya kepada Allah tetapi tidak mengakui kerasulan Nabi Muhamad Saw. Begitupun saat ini banyak orang yang percaya kepada Allah, tapi tidak percaya kepada kerasulan Nabi Muhammad, yaitu dengan tidak mengikuti ajaran dan sunah Rasul. Bahkan yang diikuti adalah ajaran nenek moyangmya dengan dalih sebagai wasilah untuk menyembah Allah (Qs 5 : 104).
Muhammad sebagai Nabi telah berakhir, karena kenubuwahan adalah gelar. Dimana gelar kenubuwahan ini didapat oleh lebih dari 25 orang. Bahkan menurut riwayat disebutkan lebih dari seribu orang. Sementara hanya 25 orang saja diantara sekian banyak nabi tersebut yang diangkat menjadi Rasul. Dimana para Rasul ini mendapat tugas untuk menjadi wakil atau mandataris Allah di muka bumi, yaitu tegaknya Dinulloh (Qs 42 : 13). Tugas menegakkan Dinulloh atau biasa disebut tugas kerisalahan terakhir kali disempurnakan oleh Nabi Saw (Qs 5 : 3). Namun tidak berarti tugas ini berakhir, mesti ada umat yang melanjutkannya. sebagaimana firman Allah, “:Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul, apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?. Baranngsiapa berbalik ke belakang ia tidak akan merugikan Allah sedikitpun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur”(Qs Ali Imron [3] : 144). Dari sini saja kita bisa memahami, mengapa syahadat kedua, redaksinya berbunyi, Wa asyhadu anna muhammadarrasulululloh”, bukan “Wa asyhadu anna muhammadannnabiyulloh”. Karena kerisalahan adalah prinsip (Aqidah), sedangkan kenubuwahan adalah gelar pribadi.
Vonis Sesat
Memvonis suatu ajaran apakah itu Al-Haq atau Al-Batil, Al-Mustaqim atau Adlolalah pada hakekatnya adalah hak perogratif Allah dan RasulNya. Namun manusia diberi potensi yang sama oleh Allah untuk bisa menyimpulkan kebenaran dan kesalahan suatu ajaran. Potensi tersebut adalah potensi bertauhid yang sama rata diberikan kepada selueuh anak keturunan adam di alam ruh (Qs 7 : 172). Kemudian setelah lahir ke alam dunia manusia diberi potensi hati, pendengaran dan penglihatan (Qs 16 : 78, 7 : 179), tentunya dibarengi dengan potensi eksternal, yaitu berupa Hidayah (Qs 2 : 2, 48 :28).
Namun untuk memvonis suatu ajaran sesat, tidak lantas memvonis dengan membabi buta. Bahkan MUI sekalipun sangat berhati-hati mengeluarkan fatwa sesat kepada suatu ajaran dan kelompok. Perlu adanya klarifikasi (tabayyun), fakta, dalil dan argumen yang bisa dipertanggung jawabkan, tidak asal menuduh. Bila tuduhan tersebut didasari oleh prasangka, isu yang belum jelas kebenarannya dan dibarengi dengan perasaan benci dan dengki kepada pelakunya, justru isu semacam itu cenderung menyesatkan. Karena isu-isu yang berkembang, gosip dari mulut ke mulut, semakin banyak yang berkomentar kian ditambah-tambah dan dibumbui isu tersebut. Allah berfirman, “ Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan” (Qs Al-An’am (6) : 116). Wallahu ‘alam bishowab*****

 

DIBALIK ISU ALIRAN SESAT….!!! (Setujukah antum dengan analisa seorang ikhwah berikut ini.)

bendera.jpgDIBALIK ISU ALIRAN SESAT

Demi mempertahankan eksistensinya, NKRI rela mengorbankan rakyat

NKRI sebagai Negara nasionalisme/Ashobiyah berada di ambang kehancuran. Hal ini ditandai dengan carut marutnya system yang berlaku. Korupsi, kolusi, Nepotisme kian menjadi-jadi di berbagai bidang kehidupan. Karena memang system yang dianutnya kondusif-mengarah demikian. Kejahatan merajalela, karena hukum yang berlaku tidak membuat pelakunya jera. Sungguh ironis penjara jadi ajang tempat transaksi Narkoba. Begitupun perjinahan tidak kalah maraknya, dimana media-media justeru memfasilitasi dan mendorong masyarakat melakukan perzinahan.

Ashobiyah Vs Daulah

Namun disamping itu geliat futuhnya islam dengan berdirinya Daulah Islamiyah yang diawali oleh tegaknya Madinah di tiap-tiap wilayah Negara Ashobiyah semakin terasa. Daulah Islamiyah yang mempersatukan Negara-negara/madinah menuju tegaknya Khilafah-memang sangat ditakuti oleh Negara-negara Ashobiyah semacam NKRI, terutama “dunungannya”, yaitu Paman Sam, AS. Karena dengan Daulah tidak akan ada lagi ikatan-ikatan nasionalisme/ashobiyah. Ikatan ashobiyah adalah yang telah memporak-porandakan umat islam. Ikatan yang mempermudah umat islam diadu domba. Ikatan yang sulit antar sesama Negara yang mengaku berpenduduk muslim saling membantu, seperti Palestina, Irak, Afganistan dll. Bahkan Saudi Arabia sekalipun sebagai tempat kelahiran Nabi saw nyaris tidak bersuara- justru berteman akrab dengan Paman Sam/AS, gudangnya tokoh-tokoh Zionis. Dengan Daulah mimpi buruk yang dialami umat islam selama ini tidak akan terjadi lagi, sebagaimana yang pernah dialami oleh umat islam sepanjang 14 abad, semenjak terbentuknya Yatsrib jadi Madinah pertama hingga runtuhnya Kekhalifahan di Turki tahun 1923. Dari tahun itulah umat islam jadi “buronan’, DPO Thogut di bumi Allah. Insya Allah (Nasrulloh wafathun qoriib) sebentar lagi bumi Alloh akan kembali direbut oleh pemilik syahnya dalam AQIDAH MULKIYAH, IKATAN PEMERINTAHAN ALLOH.

Aliran sesat made in NKRI

Maka untuk mengantisipasi itu (tegaknya Al-Islam) dibuatlah isu aliran sesat. Mereka sendirilah yang memprakarsai terbentuknya kelompok2 sempalan aliran sesat. Dari mulai Opsus, Komji, kasus Imron versi Ali Murtopo di awal era Orba, hingga terbentuknya LDII/Lemkari, NII KW IX dan bebasnya Ahmadiyah mengembangkan ajarannya di wilayah NKRI. Kita bisa melihat bagaimana eksisnya LDII sebagai organisasi keagamaan-walaupun sudah dimaklumi sebagai aliran sesat, oleh MUI sekalipun. Begitu pula KW IX dengan Ponpes Al-Zaitunnya. Bahkan tokoh-tokoh NKRI begitu membanggakan kehadiran Ponpes termegah se Asia Tenggara ini. Dimana tiap-tiap Milad Al-zaitun, tokoh-tokoh semacam Harmoko, Wiranto, Habibie, Try Sutrisno, Hendropriyono berbondong-bondong menghadiri hajatan tahunan ini. Termasuk salah satu gedung dinamai Gedung Soeharto. Dari sini saja kita sudah bisa membaca, siapa dibalik maraknya kembali isu aliran sesat saat ini.

Dengan tujuan untuk mempertahankan NKRI dari “gangguan” Daulah dibuatlah “topeng-topeng” Daulah. Direkrutnya-ah anak-anak muda polos dan sebagian aktifis yang sedang ideal-idealnya. Dan dibikinlah doktrin2, ajaran2 yang mirip-bahkan nyaris sulit untuk membedakannnya. Hal ini untuk menjadi “konsumsi” ormas2 islam yang masih setia berada dibawah naungan Pancasila. Sehingga Ormas2 islam inilah yang menjadi ujung tombak untuk menghadang laju Daulah dengan tuduhan aliran sesat. Begitupun anak-anak polos yang tidak melek politik dan mudah diming2 simbol “perjuangan islam” menjadi korbannya. Orang tuanya yang telah melahirkan dan merawatnya hingga remaja-pun jadi korban kehilangan anaknya.

Hanya dalam AnNur permainan ini bisa terlihat jelas. Sementara dalam Adzdzulumat, dalam naungan system gelap gulita, system iltibas/kolaborasi Al Haq wal bathil, system yang penuh kompromi antar ideology, fenomena ini nampak samar-samar. Hingga yang terjadi adalah prasangka, saling tuduh, saling curiga, saling menduga dan berujung di meja-meja seminar, kajian, talk show, warning spanduk, demonstrasi dan sebangsanya. Wallohu ‘alam bishowab

Salim al-Muhajir

 

Tingkatan Derajat Manusia

Dalam Islam tidaklah demikian. Derajat kemulian manusia diusahakan oleh individunya masing-masing. Seorang anak yang lahir dari keluarga muslim atau mujahid, tidak berarti anaknya otomatis menjadi mujahid atau muslim dan mendapat tiket masuk Syurga secara gratis…,TIDAK. Orang-orang yang berhak masuk Syurga adalah orang-orang yang beriman dan beramal Shaleh, sekalipun orang tuanya kafir, sebagaimana Nabi Ibrahim. Atau pula Nabi Nuh tidak berhak menurunkan derajat kemuliannya sebagai Nabi dan Rasul kepada anaknya, Kan’an.

Dengan demikian dalam al-Qur’an ada beberapa derajat kemuliaan manusia, diukur oleh sejauh mana upayanya dalam menggapai kemuliaan tersebut. Yaitu dari mulai manusia kal an’am/manusia layaknya binatang (Qs 7 : 179), – kemudian sebagai manusia yang berperadaban – Abid/hamba Allah (Qs 2 : 21), Mu’min – Muslim – Ummah – Mujahid hingga Muttaqin ( Qs 49 : 13).

Manusia kal an’am

Adalah manusia yang enggan mempergunakan fasilitas yang telah diberikan Allah untuk beribadah kepadaNya, berupa hati, pendengaran dan penglihatan. Hidupnya hanya memperturutkan hawa nafsu layaknya binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Ketika hendak makan, barang atau harta milik siapa saja dimakannya, yang penting ada peluang. Maka lahirlah Koruptor, Pencuri, Penipu, perampok dan sebangsanya. Ketika hendak bersenggama (afwan..), dimana saja dan dengan siapa saja dilakukan, yang penting didasari suka sama suka, kalau terpaksa diperkosa. Maka lahirlah PSK, Gigolo, WIL, PIL, tante Girang, Oom Senang. Prilakunya senang dan bangga dipertontonkan kepada publik melalui media internet atau HP. “Bubuligiran” dan “Bubulucun” di depan kamera dihargai sebagai MISS Univers, Putri tercantik Sejagat. Naudzubillah

Binatang-binatang semacam itu tidak perlu didemo untuk mengenakan busana atau dibuatkan RUU Anti Pornografi , karena begitulah budaya binatang. Ada-ada saja binatang dipaksa mesti pakai busana…!. Wajarlah bila Ratna sarumpaet dan Dyah “Oneng” Rieke Pitaloka menolak RUU APP.

Jadikanlah dulu dia manusia…dengan DAKWAH.

Aeh…, ngomong2 Mpok Oneng Pitaloka dan Ceu Ratna Tarompet, aeh Sarumpaet pernah mendebat penulis dengan kata-kata yang meledak bak petasan di siang bolong pada acara “Silat Lidah ANTV”, begini ungkapannya, “hey Boy…! bilangin yah sama kyai-kyai lhu, ustadz-ustadz lhu, ulama-ulama lhu…., yang sok alim dan sok suci itu…, jangan maksa-maksa kami pake baju…, dan larang-larang telanjang. Karena ini bukan komunitas Islam, bukan Negara-nya Allah, tapi ini Negara dan komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai HAM = Hak Asasi Monyet, Hak Asasi Maung, Hak Asasi Munding, Hak Asasi Manuk, Hak Asasi Mbeeek….! “.

Allah Swt berfirman, “Dan sesungguhnya kebanyakan penghuni neraka Jahannam adalah dari golongan Jin dan manusia, mereka telah diberi hati – tapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-Ayat Allah dengan hatinya, mereka telah diberi pendengaran tapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah, dan mereka telah diberi penglihatan, tapi tidak dipergunakan untuk melihat ayat-ayat Allah. Mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat dari binatang… (Qs Al-A’raf [7]: 179 )

 

BALDATUN LA’NATUN WA ROBBUN GHODOBUN

NEGERI TERLAKNAT DAN TUHAN MURKA.

Entahlah di wilayah  mana negeri tersebut berada. Yang jelas pemerintah & penduduk Negeri  tsb durhaka kepada tuhannya. Aturan & Hukum yang berlaku adalah aturan & hukum buatan mereka, dan mereka sendiri yang melanggarnya. Sementara aturan & hukum yang telah dibuatkan oleh tuhannya mereka abaikan, bahkan setiap upaya untuk menegakkannya mereka tolak dan tentang habis2an. Tidak ketinggalan cendekiawan yang mengaku muslim, tapi berpendidikan barat menganggap bahwa hukum Alloh sudah tidak relevan. Menurut mereka, hukum Alloh layak disimpan di museum, enak dilihat (dikaji, didiskusikan, diseminarkan),tapi tidak enak diberlakukan. Layaknya Dinosaurus, enak ditonton, tapi menakutkan kalau dihidupkan.

Jadi ……

Tidak usah bermimpi negeri tsb, menjadi Baldatun Thoyyibatun WaRobbun Ghofur. Semoga Negeri tsb tidak berada di wilayah kita.Karena kita adalah para perindu kebenaran,perindu tegaknya hukum Alloh.

BENCANA ATAU ADZAB ? . LONGSOR, BANJIR, GEMPA, TSUNAMI, ANGIN PUTING BELIUNG menerpa….!.

Tanah subur, tempat menanam tanaman,sumber kehidupan dan penghidupan-tiba-tiba longsor menimpa manusia hingga tewas.

Air yang menyejukan, pelepas dahaga,membersihkan pakaian dan bejana, membersihkan tubuh darikotoran dan najis, diridu tatkala kemarau-tiba-tiba meluap banjir menenggelamkan rumah2 & penghuninya.

Bumi tempat berpijak,bercengkrama, bercanda ria- tiba-tiba bergetar gempa,meruntuhkan bangunan2.

Air laut tempat penghidupan para nelayan, tempat tujuan wisatawan dengan keelokan dan keindahannya-tiba-tiba Tsunami meluap menerjang daratan,menghancurkan perkotaan.

Angin sepoi-sepoi menyejukkan badan yang kegerahan, meniup pohon2 dan dedaunan hingga nampak indah, tiba-tiba menjadi angin puting beliung.

Mengapa…? padahal manusia adalah Khalifah (Qs 2 :30), kewajiban, bumi, air , angin, laut dan alam raya ini melayani sang Khalifah, apakah itu sebgai bentuk protes mereka kepada Sang Khalifah yang tidak AMANAH ? 

 Itu terjadi secara tiba-tiba dan beruntun di negeri terlaknat dan tuhan murka, bukan…, bukan di tempat kita berpijak.

MAMAH LAUREN DITANYA….!
Ada-ada saja…,itu mungkin ungkapan orang yang masih berakal. dukun sok tahu  yang kini disebut paranormal kian menjamur. TV-TV beerlomba mewawancarai dan menampilkannya, dan “memaksa” masyarakat menonton & menyimak ramalan bualnya.

Wajarlah bencana kian mendera, aeh tidak kapok…,ditanya lagi prediksi tahun 2008 apakah akan terjadi lagi bencana, Mamah Lauren…! ?.

Dasar…..

semoga hal2 tersebut tidak terjadi di negeri kita, itu hanya ada di BaldatunLaknatun wa Robbun Ghodobun……!

 

Moral itu BUKAN Akhlaq

Kebanyakan orang tidak bisa membedakan antara moral dengan Akhlaq. Moral yang identik dengan kebajikan, kedermawanan, sopan santun, senyum, sapa, hormat dan sikap2 terpuji lainnya disebut juga Akhlaq. Padahal sikap demikian juga dilakukan oleh Shidarta Gautama, Putri Diana, Bunda Theresa dan orang2 non muslim lainnya. Jika moral adalah akhlaq apakah Putri Diana seorang yang berakhlaq mulia?.
Jika Akhlaq selalu identik dengan kenyamanan, ketenangan, kedamaian, apakah para mujahid yang berperang dan membunuh di jalan Alloh tidak berakhlaq ?. Atau seorang mujahid yang siap meninggalkan Anak dan istri demi panggilan jihad, dia tidak berakhlaq ?.
Moral adalah kecenderungan sikap manusia, ia berpotensi selalu ingin berbuat kebajikan. Namun belum terjamin dia mendapat nilai dari Alloh, karena tindakannya berdasar instink belaka. sementara Akhlaq adalah sikap seseorang yang berlandaskan Aqidah dengan kesiapan menjalankan Syari’at. Seorang Nabi Ibrahim As yang siap menjalankan perintah Alloh, yaitu menyembelih putranya, Ismail adalah Akhlaq mulia.
Seorang “Da’i” yang selalu menggembar-gemborkan senyum, sapa, hormat, toleran, baik adalah seorang moralis sejati, bukan seorang Da’i Akhlaqiyah, tak ubahnya Putri Diana dan Bunda Theresa. Apalagi isi ceramahnya tanpa dibarengi dengan ayat-ayat Qur’an.

 
8 Comments

Posted by pada Januari 3, 2008 in Agama, Analisa, Artikel, berita, Budaya, Islam, Kajian, Manhaj

 

CONGRULATIONS IMAM SAMUDRA CS

Terlepas dari pro kontra atau syar’i tidaknya aksi yang dilakukan oleh Imam Samudra dkk( terpidana mati bom Bali), namun kita patut mengacungkan jempol atas ketegaran mereka menghadapi maut dengan satu keyakinan akan memperoleh JANNAH. Amien….

Disaat kebanyakan orang dihinggapi penyakit hubbudunya/cinta dunia wa karohiyatul maut/benci mati saat ini. Termasuk para selebritis Agama, atau yang biasa disebut Da’i Kondang atau mubaligh populer. Ngomong2 menurut Ust.Anwar Sanusi ada seorang ustadz Da’i muda yang sering nongol di TV , sempat2 membeli plat nomor mobilnya seharga 14 juta…!. tatkala umat kelaparan, karena kenaikan berbagai harga kebutuhan dasar, seperti sembako…!. Apakah umat akan cukup kenyang dengan teori2 agama dan tiap hari menonton kemegahan sang ustadz yang begitu nyamannya bepergian umroh/haji dengan ahlul maksiyat(artis2 pornoaksi), IRONIS….

Untuk itu ucapan Selamat dan Salut pantas diacungkan kepada saudara, teman kita Imam Samudra, Amrozi, Ali Ghufron dan kawan2 yang rela meninggalkan kelezatan dunia dan mendapat makian penghuninya….!

Namun bukan berarti…, aksinya pantas diikuti (itupun kalau mereka sendiri dalangnya)

 

 
6 Comments

Posted by pada Desember 21, 2007 in Agama, Aktual, Analisa, Islam

 

Selamat Idul Adha 1428 H & Selamat Tahun Baru 1429 H

Pada Idul Adha kali ini, marilah kita melakukan ritus napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim As yang begitu amat cintaNya kepada Kekasihnya, Alloh Azza wa jalla. Sehingga rela mengorbankan putra tercintanya yang sudah diharapkan kelahirannya selama seratus tahun. Itulah seorang Pecinta Sejati….!
Marilah kita menjadi Ibrahim-Ibrahim kecil yang senantiasa siap mengorbankan “ismail” yang paling kita cintai.
Memasuki pergantian tahun, dari tahun 1428 Hijriah ke tahun 1429 Hijriah marilah kita melakukan ritus napak tilas perjalanan Nabi Muhammad Saw, khususnya mengenai peristiwa HIJRAH. Dari Hijrah Nabi inilah dimulainya pengidzharan Al-Islam dan terwujudnya peradaban yang Paling Agung sepanjang sejarah kehidupan manusia.
 
Leave a comment

Posted by pada Desember 21, 2007 in Tidak terkategori

 

I am Proud Be A Terorism (Aku bangga Jadi Seorang Teroris)

“Dialah Yang telah mengutus seorang Rasul dengan membawa petunjuk dan Dienul Haq, agar dimenangkan atas seluruh Dien yang ada, dan Allah sebagai Saksi/walau orang-orang Musyrik membencinya”,(Qs 48 : 28)

 

Pada hakekatnya seorang muslim yang berjuang atau biasa disebut Mujahid adalah teroris/ancaman bagi orang-orang musyrikin dan kafirin. Sebagaimana dicontohkan oleh seorang Muhammad bin Abdullah. Beliau sebelum diangkat menjadi Rasul mendapat gelar terpuji dari orang-orang Musyrikin Quraiys, yaitu gelar “Al-Amin”. Karena perilakunya tidak mengancam eksistensi Dien/ideologi mereka, bahkan perbuatannya banyak memberikan manfaat. Sebagaimana halnya pemindahan Hajarul Aswad yang fenomenal itu.

Namun setelah beliau mendapat tugas untuk Idzharuddin, menegakkan Dienulloh di muka bumi, beliau mendapat perlakuan yang kontradiksi dengan gelar yang pernah diberikan kepada beliau. Bahkan beliau mendapat gelar baru, yaitu “Penyihir, pendusta, touble maker”. Sehingga seorang Umar Bin Khotob sebelum masuk islam sempat terpengaruh, sampai hendak membunuh Nabi Saw. Karena Umar adalah “seorang Pembela Kebenaran versi Ideologi Jahiliyah”. Kehadiran Nabi Muhammad dengan misi barunya seakan memporak porandakan sistem yang sedang dibangunnya. Namun dengan RahimNya, Allah membukakan Hidayah bagi sang “Al-Faruq”.

Dimanapun dan kapanpun Seorang pejuang Dienul HAQ adalah seorang Teroris bagi para pembela Dienul Batil. Jadi amat heran seandainya ada tokoh2 yang mengaku Muslim merasa perlu mengklarifikasi kepada Thogut bahwa Islam bukan Teroris. Jadi apa selama ini yang mereka perjuangkan…?.

Teroris Gadungan

Benarkah gambaran, bahwa Amrozi Cs sebagai aplikasi terorisme islam…?. No…, No itu adalah Teroris Gadungan…!. Islam berstrategi dalam menteror kaum musyrikin. Lagi pula dalam al-Qur’an bahwa peperangan fisik dilakukan apabila diserang lebih dulu, dan tidak boleh melampaui batas, merusak bangunan, membunuh orang sipil, binatang, menebang pohon. Melakukan pemboman seperti itu tidak ada Ayat Qur’an atau hadits yang menjelaskannya. Jadi ada dalang dibalik teroris Gadungan ini…!

 
Leave a comment

Posted by pada Desember 9, 2007 in Analisa, Islam, Manhaj

 

SYAHADATAIN Versi Harokatul Hadamah

cadar5.jpgHarokatul Hadamah adalah gerakan yang bertujuan menghancurkan islam dan perjuangannya dengan menggunakan simbol-simbol islam. Sehingga umat islam yang masih awam merasa phobi (takut) kepada setiap pergerakan yang bernuansa islam. Hal ini mengakibatkan kontraproduktif dengan misi membentuk manusia yang islami dan masyarakat madani.

Fenomena Aliran Sesat
Pemberitaan mengenai gerakan yang mengatasnamakan islam yang disinyalir sesat dan menyesatkan tengah hangat beberapa waktu ke belakang, bahkan hingga kini. Sebenarnya fenomena aliran sesat ini adalah persoalan klasik yang menimpa umat islam. Hal ini pertama kali terjadi dalam sejarah islam adalah pasca wafatnya Nabi Saw, yaitu munculnya Tokoh Musailamah Al-Kadzab yang mengaku Nabi setelah Nabi Saw, Padahal Nabi Saw lah sebagai khotaman Nabiyyiin/penutup para nabi (Qs 33 : 40).
Walaupun vonis sesat hanya berhak dikeluarkan oleh lembaga berwenang (Kejati, MUI), namun umat islam sendiri bisa menilai sebuah gerakan terindikasi sesat. Diantaranya adalah mengubah hal-hal yang bersifat prinsipil (Aqidah) dan syari’at yang sudah baku (Qs 5:3). Diantaranya pengakuan kenabian, mengubah redaksi syahadatain, menggugurkan kewajiban syari’at (Shalat, zakat, shaum, haji dll).
Mengubah Syahadatain
Mengubah redaksi syahadatain yang dilakukan oleh Ahmad Mushadeq dan pengikutnya dalam kelompok yang menamakan diri Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah merupakan “Dlolalan mubiin”(kesesatan yang nyata). Yakni “Asyhadu Allaa ilaaha illalloh wa asyhadu anna al-masiih al-mau’ud rasulullah”. Al-Masih Al-mau’ud yang dimaksud adalah Mushadeq sendiri. Sehingga dari ikrar ini tidak secara langsung Mushadeq telah memproklamirkan diri sebagai Nabi dan Rasul.
Begitupun yang dilakukan oleh Ahmadiyah. Mereka mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi karena nama yang tercantum dalam Qs al-Shaf ayat 6 adalah AHMAD. Mereka beranggapan bahwa Nabi Muhamad bukan Nabi terakhir. Namun Mirza Ghulam Ahmad lah sebagai pendiri kelompok Ahmadiyah yang dimaksud dengan Nabi terakhir. Mereka menafsirkan kalimat khatam dalam Qs Al-Ahzab (33) : 40 dengan pengertian “cincin”. Hingga mereka mengkultuskan Mirza Ghulam Ahmad (Qs 2 : 165-167), hampir sama dengan orang-orang Yahudi mengkultuskan Uzair, orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa Putra Maryam (Qs 9 : 30-31). Bahkan mereka memiliki kitab tersendiri sebagai pedoman hidup, yaitu “Tadzkiroh”, hampir menyamai kedudukannya dengan al-Qur’an (Qs 2 : 79-80). (“SYAHADATAIN, Syarat Utama tegaknya syariat Islam”, hal.79, M.Umar JA, Pen.Bina Biladi Press).
Sebagian lagi ada kelompok yang menyertakan Syahadatain dengan keharusan membayar sejumlah uang mencapai ratusan ribu, bahkan hingga satu juta rupiah. Dengan dalih sebagai uang shodaqoh istighfar, atau untuk mensucikan diri. Sungguh keterlaluan “syari’at baru” ini, syahadatain yang sakral dan suci serta mesti dijauhkan dari motif duniawi, justru dinodai dengan syari’at yang entah Hadist riwayat siapa yang dijadikan landasan.
Makna Syahadatain
Syahadatain yang dimaksud Allah dan RasulNya adalah pernyataan sikap seseorang yang menjadikan islam sebagai pedoman dan ajaran hidupnya. Islam yang dimaksud tentunya bukan islam ketutunan, islam abangan atau islam KTP. Karena banyak orang yang mengaku muslim, tapi hidupnya tidak beraturan (Syari’at) Islam. Manusia yang sudah bersaksi bahwa dirinya muslim adalah manusia yang telah menjadikan dirinya sebagai hamba Allah. Hamba Allah adalah manusia yang hanya tunduk dan patuh kepada aturan dan hukum Allah saja. Tidak mengambil hukum, sistem hidup dan ideologinya selain Islam, bahkan menolaknya, inilah yang dinamakan sikap “Al-baro’ah”, berlepas diri (Qs 60 : 4). Hal ini terdapat pada kalimat “Laa ilaaha”.
Sungguh ironis orang yang mengaku muslim tapi masih berhukum kepada Thogut. Menurut Syaikh Muhamad Qutb, Thogut adalah seseorang, organisasi atau institusi, jama’ah, pemerintahan tradisi atau kekuatan yang menjadi panutan atau aturan manusia, dimana manusia tidak dapat membebaskan diri dari perintahnya dan larangannya. Orang yang mengaku mu’min dengan mengucapkan dua kalimat syahadat secara otomatis dia menolak thogut, “Sembahlah Allah dan jauhi thogut”, (Qs 16 : 36, 2 : 256).
Keberadaan orang-orang yang tidak konsisten dengan keimanannya, yaitu mengakui hukum thogut akan senantiasa ada hingga akhir jaman. Sebagaimana firmanNya, “ Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu?. Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum thogut” (Qs 4 : 60).
Setelah seseorang menolak dan melepaskan diri dari thogut (al-baro’ah), maka dia bersikap al-wala (taat, setia, loyal) kepada Allah saja dengan aturan dan hukumNya. Menjadikan Allah sebagai sumber otoritas, legalitas dan loyalitas. Hal ini terdapat dalam kalimat “illalloh”. Maka keberadaan syari’at syahadatain adalah merupakan tujuan dakwah itu sendiri, sebagaimana sabda Nabi Saw “Ajaklah manusia untuk bersyahadah, bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Apabila mereka telah mentaati kepadamu tentang hal itu (syahadatain), maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan bagi mereka shalat sebanyak lima kali sehari semalam” (HR Abu Daud dan Hakim, lihat pula HR Muslim bab keimanan Juz 7).
Tauhidullah dan Tauhidul ittiba’
Syahadat yang pertama, yaitu “Asyhadu allaa ilaaha illalloh” disebut Tauhidullah. Sementara Syahadat yang kedua disebut Tauhidul ittiba’, yaitu “Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah”. Dimana tidak akan sempurna keimanan seseorang, tanpa mengaplikasikan keimanannya dengan mengikuti Nabi Muhammad sebagai sumber ittiba’, “Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku…”(QS 3 : 31). Karena banyak orang yang mengakui Allah sebagai Tuhannya, tapi tidak mau mengakui Nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Sebagaimana Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu Tholib, mereka percaya kepada Allah tetapi tidak mengakui kerasulan Nabi Muhamad Saw. Begitupun saat ini banyak orang yang percaya kepada Allah, tapi tidak percaya kepada kerasulan Nabi Muhammad, yaitu dengan tidak mengikuti ajaran dan sunah Rasul. Bahkan yang diikuti adalah ajaran nenek moyangmya dengan dalih sebagai wasilah untuk menyembah Allah (Qs 5 : 104).
Muhammad sebagai Nabi telah berakhir, karena kenubuwahan adalah gelar. Dimana gelar kenubuwahan ini didapat oleh lebih dari 25 orang. Bahkan menurut riwayat disebutkan lebih dari seribu orang. Sementara hanya 25 orang saja diantara sekian banyak nabi tersebut yang diangkat menjadi Rasul. Dimana para Rasul ini mendapat tugas untuk menjadi wakil atau mandataris Allah di muka bumi, yaitu tegaknya Dinulloh (Qs 42 : 13). Tugas menegakkan Dinulloh atau biasa disebut tugas kerisalahan terakhir kali disempurnakan oleh Nabi Saw (Qs 5 : 3). Namun tidak berarti tugas ini berakhir, mesti ada umat yang melanjutkannya. sebagaimana firman Allah, “:Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul, apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?. Baranngsiapa berbalik ke belakang ia tidak akan merugikan Allah sedikitpun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur”(Qs Ali Imron [3] : 144). Dari sini saja kita bisa memahami, mengapa syahadat kedua, redaksinya berbunyi, Wa asyhadu anna muhammadarrasulululloh”, bukan “Wa asyhadu anna muhammadannnabiyulloh”. Karena kerisalahan adalah prinsip (Aqidah), sedangkan kenubuwahan adalah gelar pribadi.
Vonis Sesat
Memvonis suatu ajaran apakah itu Al-Haq atau Al-Batil, Al-Mustaqim atau Adlolalah pada hakekatnya adalah hak perogratif Allah dan RasulNya. Namun manusia diberi potensi yang sama oleh Allah untuk bisa menyimpulkan kebenaran dan kesalahan suatu ajaran. Potensi tersebut adalah potensi bertauhid yang sama rata diberikan kepada selueuh anak keturunan adam di alam ruh (Qs 7 : 172). Kemudian setelah lahir ke alam dunia manusia diberi potensi hati, pendengaran dan penglihatan (Qs 16 : 78, 7 : 179), tentunya dibarengi dengan potensi eksternal, yaitu berupa Hidayah (Qs 2 : 2, 48 :28).
Namun untuk memvonis suatu ajaran sesat, tidak lantas memvonis dengan membabi buta. Bahkan MUI sekalipun sangat berhati-hati mengeluarkan fatwa sesat kepada suatu ajaran dan kelompok. Perlu adanya klarifikasi (tabayyun), fakta, dalil dan argumen yang bisa dipertanggung jawabkan, tidak asal menuduh. Bila tuduhan tersebut didasari oleh prasangka, isu yang belum jelas kebenarannya dan dibarengi dengan perasaan benci dan dengki kepada pelakunya, justru isu semacam itu cenderung menyesatkan. Karena isu-isu yang berkembang, gosip dari mulut ke mulut, semakin banyak yang berkomentar kian ditambah-tambah dan dibumbui isu tersebut. Allah berfirman, “ Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan” (Qs Al-An’am (6) : 116). Wallahu ‘alam bishowab*****

 
5 Comments

Posted by pada Desember 8, 2007 in Agama, Aktual, Analisa, Artikel, Kajian, Manhaj

 

Tingkatan derajat manusia

Dalam kehidupan ini tiap manusia memiliki tingkat atau kelas /derajat. Kalau dalam Agama Hindu dikenal dengan istilah KASTA, yaitu Brahma/Agamawan, Ksatria/bangsawan, Waisa/pedagang, Sudra/Rakyat Jelata, hingga Paria/budak hina dina. Tingkatan2 tersebut amat diskriminatif, selain diukur oleh derajat duniawi, juga derajat tersebut didapat dari leluhurnya/orang tuanya, tanpa bisa dirubah. Orang tuanya Sudra atau Paria, maka anak dan keturunannya pun Sudra atau Paria. Tidak berhak berikhtiar untuk mengubah nasibnya, selain seorang Ken Arok saja mungkin…!.

Dalam Islam tidaklah demikian. Derajat kemulian manusia diusahakan oleh individunya masing-masing. Seorang anak yang lahir dari keluarga muslim atau mujahid, tidak berarti anaknya otomatis menjadi mujahid atau muslim dan mendapat tiket masuk Syurga secara gratis…,TIDAK. Orang-orang yang berhak masuk Syurga adalah orang-orang yang beriman dan beramal Shaleh, sekalipun orang tuanya kafir, sebagaimana Nabi Ibrahim. Atau pula Nabi Nuh tidak berhak menurunkan derajat kemuliannya sebagai Nabi dan Rasul kepada anaknya, Kan’an.

Dengan demikian dalam al-Qur’an ada beberapa derajat kemuliaan manusia, diukur oleh sejauh mana upayanya dalam menggapai kemuliaan tersebut. Yaitu dari mulai manusia kal an’am/manusia layaknya binatang (Qs 7 : 179), – kemudian sebagai manusia yang berperadaban – Abid/hamba Allah (Qs 2 : 21), Mu’min – Muslim – Ummah – Mujahid hingga Muttaqin ( Qs 49 : 13).

Manusia kal an’am

Adalah manusia yang enggan mempergunakan fasilitas yang telah diberikan Allah untuk beribadah kepadaNya, berupa hati, pendengaran dan penglihatan. Hidupnya hanya memperturutkan hawa nafsu layaknya binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Ketika hendak makan, barang atau harta milik siapa saja dimakannya, yang penting ada peluang. Maka lahirlah Koruptor, Pencuri, Penipu, perampok dan sebangsanya. Ketika hendak bersenggama (afwan..), dimana saja dan dengan siapa saja dilakukan, yang penting didasari suka sama suka, kalau terpaksa diperkosa. Maka lahirlah PSK, Gigolo, WIL, PIL, tante Girang, Oom Senang. Prilakunya senang dan bangga dipertontonkan kepada publik melalui media internet atau HP. “Bubuligiran” dan “Bubulucun” di depan kamera dihargai sebagai MISS Univers, Putri tercantik Sejagat. Naudzubillah

Binatang-binatang semacam itu tidak perlu didemo untuk mengenakan busana atau dibuatkan RUU Anti Pornografi , karena begitulah budaya binatang. Ada-ada saja binatang dipaksa mesti pakai busana…!. Wajarlah bila Ratna sarumpaet dan Dyah “Oneng” Rieke Pitaloka menolak RUU APP.

Jadikanlah dulu dia manusia…dengan DAKWAH.

Aeh…, ngomong2 Mpok Oneng Pitaloka dan Ceu Ratna Tarompet, aeh Sarumpaet pernah mendebat penulis dengan kata-kata yang meledak bak petasan di siang bolong pada acara “Silat Lidah ANTV”, begini ungkapannya, “hey Boy…! bilangin yah sama kyai-kyai lhu, ustadz-ustadz lhu, ulama-ulama lhu…., yang sok alim dan sok suci itu…, jangan maksa-maksa kami pake baju…, dan larang-larang telanjang. Karena ini bukan komunitas Islam, bukan Negara-nya Allah, tapi ini Negara dan komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai HAM = Hak Asasi Monyet, Hak Asasi Maung, Hak Asasi Munding, Hak Asasi Manuk, Hak Asasi Mbeeek….! “.

Allah Swt berfirman, “Dan sesungguhnya kebanyakan penghuni neraka Jahannam adalah dari golongan Jin dan manusia, mereka telah diberi hati – tapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-Ayat Allah dengan hatinya, mereka telah diberi pendengaran tapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah, dan mereka telah diberi penglihatan, tapi tidak dipergunakan untuk melihat ayat-ayat Allah. Mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat dari binatang… (Qs Al-A’raf [7]: 179 )

 
Leave a comment

Posted by pada Desember 8, 2007 in Agama, Aktual, Analisa, Artikel, Islam, Kajian, Manhaj

 

Setujukah antum dengan analisa seorang ikhwah berikut ini….!

bendera.jpgDIBALIK ISU ALIRAN SESAT

Demi mempertahankan eksistensinya, NKRI rela mengorbankan rakyat

NKRI sebagai Negara nasionalisme/Ashobiyah berada di ambang kehancuran. Hal ini ditandai dengan carut marutnya system yang berlaku. Korupsi, kolusi, Nepotisme kian menjadi-jadi di berbagai bidang kehidupan. Karena memang system yang dianutnya kondusif-mengarah demikian. Kejahatan merajalela, karena hukum yang berlaku tidak membuat pelakunya jera. Sungguh ironis penjara jadi ajang tempat transaksi Narkoba. Begitupun perjinahan tidak kalah maraknya, dimana media-media justeru memfasilitasi dan mendorong masyarakat melakukan perzinahan.

Ashobiyah Vs Daulah

Namun disamping itu geliat futuhnya islam dengan berdirinya Daulah Islamiyah yang diawali oleh tegaknya Madinah di tiap-tiap wilayah Negara Ashobiyah semakin terasa. Daulah Islamiyah yang mempersatukan Negara-negara/madinah menuju tegaknya Khilafah-memang sangat ditakuti oleh Negara-negara Ashobiyah semacam NKRI, terutama “dunungannya”, yaitu Paman Sam, AS. Karena dengan Daulah tidak akan ada lagi ikatan-ikatan nasionalisme/ashobiyah. Ikatan ashobiyah adalah yang telah memporak-porandakan umat islam. Ikatan yang mempermudah umat islam diadu domba. Ikatan yang sulit antar sesama Negara yang mengaku berpenduduk muslim saling membantu, seperti Palestina, Irak, Afganistan dll. Bahkan Saudi Arabia sekalipun sebagai tempat kelahiran Nabi saw nyaris tidak bersuara- justru berteman akrab dengan Paman Sam/AS, gudangnya tokoh-tokoh Zionis. Dengan Daulah mimpi buruk yang dialami umat islam selama ini tidak akan terjadi lagi, sebagaimana yang pernah dialami oleh umat islam sepanjang 14 abad, semenjak terbentuknya Yatsrib jadi Madinah pertama hingga runtuhnya Kekhalifahan di Turki tahun 1923. Dari tahun itulah umat islam jadi “buronan’, DPO Thogut di bumi Allah. Insya Allah (Nasrulloh wafathun qoriib) sebentar lagi bumi Alloh akan kembali direbut oleh pemilik syahnya dalam AQIDAH MULKIYAH, IKATAN PEMERINTAHAN ALLOH.

Aliran sesat made in NKRI

Maka untuk mengantisipasi itu (tegaknya Al-Islam) dibuatlah isu aliran sesat. Mereka sendirilah yang memprakarsai terbentuknya kelompok2 sempalan aliran sesat. Dari mulai Opsus, Komji, kasus Imron versi Ali Murtopo di awal era Orba, hingga terbentuknya LDII/Lemkari, NII KW IX dan bebasnya Ahmadiyah mengembangkan ajarannya di wilayah NKRI. Kita bisa melihat bagaimana eksisnya LDII sebagai organisasi keagamaan-walaupun sudah dimaklumi sebagai aliran sesat, oleh MUI sekalipun. Begitu pula KW IX dengan Ponpes Al-Zaitunnya. Bahkan tokoh-tokoh NKRI begitu membanggakan kehadiran Ponpes termegah se Asia Tenggara ini. Dimana tiap-tiap Milad Al-zaitun, tokoh-tokoh semacam Harmoko, Wiranto, Habibie, Try Sutrisno, Hendropriyono berbondong-bondong menghadiri hajatan tahunan ini. Termasuk salah satu gedung dinamai Gedung Soeharto. Dari sini saja kita sudah bisa membaca, siapa dibalik maraknya kembali isu aliran sesat saat ini.

Dengan tujuan untuk mempertahankan NKRI dari “gangguan” Daulah dibuatlah “topeng-topeng” Daulah. Direkrutnya-ah anak-anak muda polos dan sebagian aktifis yang sedang ideal-idealnya. Dan dibikinlah doktrin2, ajaran2 yang mirip-bahkan nyaris sulit untuk membedakannnya. Hal ini untuk menjadi “konsumsi” ormas2 islam yang masih setia berada dibawah naungan Pancasila. Sehingga Ormas2 islam inilah yang menjadi ujung tombak untuk menghadang laju Daulah dengan tuduhan aliran sesat. Begitupun anak-anak polos yang tidak melek politik dan mudah diming2 simbol “perjuangan islam” menjadi korbannya. Orang tuanya yang telah melahirkan dan merawatnya hingga remaja-pun jadi korban kehilangan anaknya.

Hanya dalam AnNur permainan ini bisa terlihat jelas. Sementara dalam Adzdzulumat, dalam naungan system gelap gulita, system iltibas/kolaborasi Al Haq wal bathil, system yang penuh kompromi antar ideology, fenomena ini nampak samar-samar. Hingga yang terjadi adalah prasangka, saling tuduh, saling curiga, saling menduga dan berujung di meja-meja seminar, kajian, talk show, warning spanduk, demonstrasi dan sebangsanya. Wallohu ‘alam bishowab

Salim al-Muhajir

 
2 Comments

Posted by pada Desember 8, 2007 in Agama, Aktual, Analisa, Islam, Kajian, Manhaj

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.